Kembalian Seratus Rupiah

Kembalian Seratus Rupiah bagi banyak kalangan mungkin tak begitu dipersoalkan. Apalah arti uang seratus rupiah dijaman yang serba seribu ini. Tapi bagi orang yang suka kepo macam saya, kekurangan kembalian itu sama artinya membuka persoalan dan harus segera dicarikan jawabannya.

 Jadi teringat ketika masih sering belanja di R*m*y*n* Dept. Store pada rentang antara tahun 2002-2005. Di Hi-Tech Mall tempat saya kerja, Supermarket satu-satunya yang ada disana hanya R*m*y*n*. Tiap butuh apa-apa macam sabun cuci piring, jajan cemilan kami selalu lari kesana. Seperti biasa harga yang tertera seringnya ganjil dan ganjilnya tak ada di pecahan uang rupiah kita. Seperti Rp. 5.230 atau 10.840.

 Urusan belanja-belanja seperti ini biasanya paling semangat. Apalagi kalau bukan karena sambil jalan-jalan lihat koleksi baju-baju yang ada disana. Tapi kadang-kadang menyebalkan juga masalahnya setiap habis belanja kembaliannya jarang sekali utuh bentuk uang. Kembalian receh suka diganti dengan permen. Sekali dua kali tak masalah. Kembali seratus dua ratus juga tak masalah. Yang bikin jengkel itu kembali 600-700 dikasihnya permen semua..  yang sering itu malah kembali 700 tapi diecer: Rp. 300 nya uang, sisanya dikasih permen. Tanggung banget kan ngasih kembalian. Dan lagi emangnya permen bisa dipake beli barang di sana. Nggak kan? *kok jadi sensi gini sih* 😀

 Saya itu orangnya sebenarnya nriman. Saya pikir biar sajalah, mau gimana lagi kalau gak ada kembaliannya. Tapi begitu teman-teman se-toko komputer di Hitech Mall sering mempermasalahkan soal kembalian saya jadi ikut-ikutan gak terima. Sesuai saran teman-teman itu setiap kali belanja ke sana selalu bawa recehan sendiri. Sebesar apapun totalnya diupayakan bayar dengan uang pas.

 Pernah ada kejadian seorang teman yang ribut sama kasir. Lagi-lagi soal kembalian. Kembalian teman saya 800 rupiah, sama Mbak Kasir dikasih permen semua beberapa biji. Permennya kecil-kecil warna-warni bungkus bening yang dipuntir kanan kiri itu lho. Jelas, teman saya menolak. Mbak kasirnya juga tak terima dengan alasan gak ada uang receh.

 “Masak, tiap belanja disini selalu gak ada uang receh. Harga permen itu berapa sih Mbak, gak sampai seratus rupiah. Kalau mau ambil untung, jual permen aja sekalian” teman saya emosi.

 Dasar mbak kasir disana kebanyakan diatas usia kita dan selalu pasang muka jutek, amarah teman saya nggak diladenin. Tanpa pikir panjang, teman saya balik masuk ke supermarket. Datang ke kasir bawa belanjaan ala kadarnya trus dibayarnya pke uang sama permen kembalian tadi. Dan kali itu gantian mbak kasirnya yang gak terima. Alasannya kasir tidak terima pembayaran dalam bentuk permen.

 “Lho, permen ini kan kembalian dari sini. Kalau mbak nggak mau dibayar pakai permen, ya jangan ngasih kembalian orang bentuk permen juga!”

 Akhirnya bagaimana saya tidak tau, menurut cerita habis marah-marah  teman saya pergi. Belanjaannya ditinggal dimesin kasir berikut permen kembalian.

Image by Google

 Nah kalau cerita dibawah ini pengalaman saya sendiri. Pengalaman yang saya sengaja demi membayar hasrat penasaran jiwa 😀

 Ceritanya tadi pagi saya bayar Listrik dikantor PLN. Tumben-tumbenan saya bayar langsung disana biasanya saya bayar di loket pembayaran Online. Karena banyak loket pembayaran sedang bermasalah, saya berinisiatif bayar di kantor PLN. Lumayan gak kena biaya admin. Parkir motornya juga gratis. Kendala satu-satunya hanya agak jauh dari rumah. Gapapa toh gak habis bensin seperempat liter hehe.. *pelitnya mulai tampak*

 Habis bayar tagihan saya mengambil tempat duduk sambil ngitung uang kembalian. Tagihannya Rp. 99.133, sedang kembalian yang saya terima Rp. 700. Saya bayar tadi pke uang Rp. 100.000. Kalau dibulatkan jadinya Rp. 99.200, mestinya uang kembalian yang saya terima Rp. 800.

 “Nggak papalah, seratus rupiah ini..” hati kanan saya berkata.

“Nggak bisa dong, seratus rupiah juga duit” hati kiri saya protes.

 Ternyata hanya karena uang seratus rupiah terjadi perdebatan batin yang amat rumit. Saya seolah berdiri di persimpangan, mau langsung pulang, atau maju lagi ke kasir menanyakan kekurangannya.

 “Udah lah pulang.. anggap aja amal”

“Eh, nggak bisa. Persoalan ini harus dituntaskan. Kalau sehari ada seratus orang bayar listrik lalu kembaliannya kurang seratus rupiah semua, total udah berapa..”

 Haduh.. bener-bener galau. Masak iya saya harus maju ke kasir menanyakan kekurangan kembalian. Bisa-bisa dianggapnya saya ini kebangetan.

 Oke.. saya harus mengambil langkah tegas. Saya harus menanyakan kenapa kembaliannya kurang. Ya, cuma tanya.

“Pak, saya mau ngasih tau tadi uang kembalian saya kurang seratus rupiah”

“Yang kurang saya, ya?” tanya Pak kasir

“Iya, Pak. Ini lho, harusnya kembali Rp. 800. Tapi Bapak ngasih saya Rp. 700” sambil nyodorin bukti pembayaran.

“Oh.. tapi saya gak ada uang seratusan, adanya duaratusan. Ini, Bu. Ambil aja uang dua ratusnya.” Sambil mengambil bukti pembayaran milik saya lalu diletakkan dilacinya.

“Oh, nggak usah, Pak. Saya hanya ngasih tau aja kok kalau kembaliannya tadi kurang. Bapak bawa lagi aja duitnya.. makasih Pak”

“Oh i.. iya..”

“Tapi Pak, bukti pembayaran saya tadi mana?”

“Lho, kan tadi sudah saya kasih?”

“Tadi kan saya taruh disini, sama Bapak ditaruh di laci”

“nggak.. nggak ada kok..”

“Ada kok, Pak. Tadi saya lihat Bapak ambil trus dimasukkan ke laci”

“Oh iya iya ada. Ini buktinya…”

 Nah, saya bilang juga apa.. petugasnya grogi, kan.. kamu sih pakai acara protes-protesan segala.. *berusaha menyalahkan hati kiri*

 “Tapi akhirnya, kan tau alasannya. Coba kalau gak tanya pasti dibawa kepo terus seumur hidup”

 Haha.. iya juga sih 😀  

13 thoughts on “Kembalian Seratus Rupiah

  1. hihihihi….
    tapi akhir2 ini aku udah jarang dikasih kembalian permen mbak Yun, kalo belanjanya 99.200 misalnya, dia akan nanya “punya 200 bu?”, dan dia ngembaliin 1000
    Tapi jadinya kita deh yg mesti nyiapin recehan ya hahahaha

  2. iya sih mba…
    aku pun belum memutuskan kalo kurang duit 100 mending di ikhlaskan aja atau diperjuangkan…

    emang sih cuma cepe doang dan kalo dibalikin pun gak kebeli apa apa, tapi duit sejuta kurang cepe kan gak jadi sejuta yah?

    ya udahlah..ikhlasin aja deh…hihihi..

  3. duit seratus itu penting loh, nggak ada duit seribuan kalo nggak ada seratusan….sekarang sudah pake gaya baru kalo bicara kembalian di supermarket…bila ada uang kelebihan yang agak ganjil, maka kasirnya selalu menanyakan apakh itu mau disumbangkan atau tidak….,tapi belum semua memberlakukan hal itu, untuk menghindari kembalian uang dalam bentuk permen, saya memilih menggunakan kartu debit saja,,,jadi meskipun pecahannya aneh bin ganjil…tetap bisa terbayar….Keep happy blogging always…salam dari Makassar 🙂

  4. bener ya mbak urusan permen kadang dibuat jengkel. Eh iya bebberapa hari ini mau bayar listrik trouble yaa.. Bolak balik kantor pos balik kucing terus

  5. hahahahaha….iya juga ya,kadang dongkol gitu kalo kembalianya recehan apalagi permen yang …maaph,murahan padahal yang murah tapi enak juga ada kan,kenapa yg dikasih yag diplintir tu bungkusnya >_<

  6. Aku juga tak suka kembalian seratus rupiah dibalikin permen. Kan aku tak suka permen
    Tapi emang yah uang seratus rupiah itu berharga banget. Kalau satu juta (1.000.000) kalau kurang nol nya seratus kan gak jadi 1 juta (999.900)

  7. Sama koq Jeng Yuni kami dan teman2 juga ngerasa, untuk harga di supermarket lha mbok ya semua dibuat kelipatan 500 rup saja bila recehan terkecil yang tersedia itu. Lho koq saya jadi merepet di rumah Jeng Yuni hehe
    Salam

  8. memang terasa menjengkelkan ya mbak kalau dapet kembalian dalam bentuk permen.
    tapi seringnya, kembalian dalam bentuk receh, gantian saya bayarkan ke tukang parkir 🙂

Leave a Reply