Naik Kereta Api Kertajaya dari Surabaya ke Jakarta

Kereta Api Kertajaya dari Surabaya ke Jakarta masih jadi favorit masyarakat. Dari jaman gak enak sampai sekarang, kereta ini tetap laris. Ya, gimana harga tiket kelas ekonomi ini termasuk paling murah.

Kereta Api Kertajaya di Stasiun Senen

Pertama kali saya naik kereta api Kertajaya tahun 2006, hingga sekarang tahun 2018, sekilas tak ada yang berubah dengan model gerbong dan kursinya.

Iya, sandaran kursinya masih tetap tegak berdiri gagah dan nggak ada empuk-empuknya.

Yang berbeda drastis hanyalah AC super dingin dan toilet yang airnya selalu melimpah. Ditambah persediaan sabun cuci dan tissu.

Harga juga beda jauh. Dulu tarif tiketnya Rp. 55 ribu, sekarang 155 ribu. Bedanya banyak, ya, 100 ribu. Tapi, kan, sekarang sudah pasti dapat kursi.

Gak kayak dulu mau naik kereta aja harus melewati babak drama rebutan kursi. Kalau di karcisnya sudah ada nomor tempat duduk, maka nasib baik menyertainya. Yang bikin deg-degan ketika mendapatkan karcis dengan tulisan BEBAS TEMPAT DUDUK. Wes, nyoh, trimoen nasibmu! Sak apes-apesnya tidur di toilet pun dilakoni.

Saya masih ingat gimana dulu sesak-sesakan di dalam gerbong yang pengap. Sudah penuh saja masih juga dijejel-jejel koyok lemper.

Belum lagi para pedagang asongan yang kekeuh jiwa raga menawarkan kopi panas, nasi bungkus, hingga daster batik yang riwa-riwi kayak setrikaan. Merena gak ada sungkan-sungkannya sama penumpang. Kaki melangkahi kepala orang jadilah selama kopinya ada yang beli meski cuma segelas.

Walau kereta api Kertajaya Surabaya Jakarta memiliki banyak kenangan pahit, saya gak pernah kapok naik gerbong besi ini.

Untuk kesekian kali, saya pesan tiket Kereta Api Kertajaya melalui toko online. Biasalaah, nyari yang murahan. Untung masih ada seat kosong. Dapat gerbangnya paling bontot lagi, gerbong 14.

Milih nomor kursinya yang 3 seat ABC, saya milihnya nomer 8 A dan 8 B. Biasanya dalam keadaan seperti ini kita tidak tau penumpang seperti apa yang menjadi tetangga kita. Dan kali ini tetangga penumpang saya unik cenderung ajaib.

Gerbong Kereta Api Kertajaya

Musim liburan, kursi-kursi kereta terisi penuh. Jika ada yang kosong, hanya satu kursi di depan saya yang diisi oleh sepasang suami istri berlogat Madura.

Pengalaman Naik Kereta Api Kertajaya dari Surabaya ke Jakarta

Naik Kereta Api Kertajaya dari Surabaya ke Jakarta sekarang lumayan cepat. Kurang lebih 11 jam saja.

Selama 11 jam itu suasana gerbong persis sekolah PAUD. Jerit tangis bayi dan anak-anak memekakkan telinga. Dilain waktu berganti suara tawa lucu yang membuat saya diam-diam ikut tertawa.

Kalau hanya dengar suara tangis tawa anak-anak, saya sudah biasa. Tiap hari di rumah setiap jam tidur siang puluhan anak teriak-teriak saat bermain petak umpet.

Yang membuat saya terkejut saat naik kereta api Kertajaya kali ini adalah mendapati penumpang yang bikin telinga dan mripat saya sepet.

Biar gak sepet-sepet banget, selama 11 jam perjalanan itu sebisa mungkin mata saya tidak melihat mereka. Adalah pasangan suami istri yang gak ada sopan-sopannya berada di transportasi umum.

Sedari saya datang, mereka sudah dalam posisi wenak. Si laki tidur selonjor di kursinya dengan kaki memanjang makan kursi saya yang masih kosong. Sedangkan istrinya duduk nangkring di deket jendela.

Pun, ketika saya datang, kaki si laki-laki tetap ditempatnya. Tidak beranjak dari kursi saya.

“Permisi, Pak” Saya minta ijin agar Ia menarik kakinya.

Tapi apa, dia malah setengah-setengah. Melihat saya rautnya kayak gak ikhlas ada penghuninya datang.

“Duduk di sini?” Tanyanya. Saya jawab Iya dengan suara ketus. Biarin, baru pertama naik kereta kali. Ndeso amat lihat kursi kosong. Buru-buru dia menurunkan kakinya dari kursi.

Belum 5 menit saya duduk, ajaib si laki udah ngorok kencang banget. Sampai-sampai istrinya berkali-kali membangunkan suaminya agar mengurangi volume dengkurannya.

Dalam hati saya senyum-senyum sendiri. Apalagi saat diingatin istrinya, suaminya marah sambil nggerutu, haha.

Daripada sepet lihat mereka saya sibuk mainan game di HP. Tapi tetap saja, ekor mata saya larinya ke pasangan yang kali itu sedang berantem rebutan paha buat bantal tidur. Si suami pinjam paha istrinya begitupula sebaliknya. Adegan berantem berakhir dengan tidur saling punggung-punggungan. Haha..

Rupanya drama ngorok ini gak selesai-selesai. Capek ngasih tau sang suami, si istri malah ikut tidur selonjor di samping suaminya.

Bisa bayangkan bagaimana model tidur pasangan ini. Satu bangku panjang dipakai buat tidur 2 dewasa?

Walaah, hasilnya jelas kaki ke mana-mana!

Tak sekali kaki laki-laki menyenggol dengkul saya keras. Mau saya protes, percuma ngomong sama orang tidur.

Bahkan saat sedang pegang HP, tiba-tiba saja tangan istrinya bergerak dan nabok HP saya hingga hampir jatuh. “Plaaak ..!”

Sampai di Cepu, pasangan itu bangun untuk makan. Sambil makan ngobrolnya seperti sedang di hutan. Buaaanter, menggelegar membelah gerbong.

Dengan logat Madura kental, nada yang saya tangkap si suami protes sambalnya terlalu pedas. Sambil ngomong dan ngunyah mulutnya ngoweh-ngoweh. Dalam hati, saya ngakak sambil beradu pandang sama Mas Rinaldy.

Selesai makan, belum ada 2 menit, mulai lagi kedengar suara orang mendengkur. Astagaaa..

Salah satu pose tidurnya

Pas Shubuh, ketika saya mau ke toilet, gerak saya kikuk. Mau keluar agak susah. Takut nyenggol dan membangunkan orang tidur. Dengan pelan-pelan, berhasil juga saya keluar dari bangku.

Begitu saya keluar, belum juga 2 langkah, kaki si suami tau-tau diselonjorkan ke bangku saya. Ya ampun dengan wolesnya itu kaki berada di kursi saya. Sudah punya kursi lebar, masih juga makan bangku orang.

Begitu balik dari toilet, saya lihat posisinya enaaaak parah pakai banget! Karena saya mau lewat gak bisa, saya minta Mas Rinaldy bangunin mereka.

“Ini orang tidur kayak orang mati!” kata saya. Akhirnya mereka bangun.

Yang saya kasihani sebenarnya orang ketiga yang duduk sebangku sama saya. Dari pertama duduk, dia diaam aja. Dan saya lihat posisi duduknya tidak nyaman. Sudah gitu ditambah pula dengan gangguan kaki pasangan suami istri.

Ada saja kejadian unik saat naik Kereta Api Kertajaya dari Surabaya ke Jakarta. Cerita di atas hanyalah satu dari banyak kejadian. Salah tiganya pernah saya tulis di 3 Pengalaman seru naik Kereta Api

3 thoughts on “Naik Kereta Api Kertajaya dari Surabaya ke Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Go Top