Buku

Review Buku Satu Jodoh Dua Istikharah, Mau jadi Suami Istri yang hebat, baca ini!

Sudah lama rasanya saya tidak membuat postingan review buku. Dih, jangankan mereview, membaca buku saja senin kemis. Beli bukunya, sih, rajin. Bacanya yang aras-arasen 😂. Tapi akhirnya semangat baca buku saya naik lagi setelah dipaksa membuat review buku Satu Jodoh Dua Istkaharah.

review-buku-satu-jodoh-dua-istikharah

Sejujurnya saya tidak terlalu suka membaca buku yang bernuansa melow. Apalagi fiksi model-model islami yang marak judulnya menyebut ‘aksesoris’ muslim, seperti sajadah cinta, mukena cinta, syahadat cinta, apalagi ya.. pokoknya judul-judul Habiburrahman lah. Padahal di rak buku saya ada novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, hehe.. dulu, sih, suka. Suka banget. Bahkan karena buku Ayat-ayat Cinta saya jadi keranjingan baca. Buku Habiburahman yang baru juga punya, tapi yang baca Mas Rinaldy. Saya nunggu dicritani saja, hehe..

Ketika menerima Buku Satu Jodoh Dua Istikharah saya berharap cemas, semoga isinya tidak fiksi ilmiah. Dan semoga lagi, percakapan-percakapannya tidak membuat garing yang justru menghabiskan banyak halaman dan membuat alurnya jadi lambat. Jangaaan, jangaan juga ada panggilan Akhi, Ukhti, nanti saya kebanting 😎. Gak cocok sama prejenganku ini lho…

Seperti biasa, sebelum baca, buka plastiknya kalem-kalem. Ditimang-timang dulu, dirasakan kehalusan tiap halamannya. Selanjutnya mulai buka halaman paling belakang. Kenapa? Ya gapapa, suka aja. Aslinya, sih, untuk memantapkan hati dulu supaya bacanya gak putus di tengah jalan.

Ketika membaca judul Satu Jodoh Dua Istikharah, terus terang saya bingung. Gak ngerti apa maksudnya. Terlalu filsafat. Namun kebingungan saya pelan-pelan memudar saat menghabiskan halaman demi halaman yang tanpa sadar, dalam sejam sudah 7 bab yang saya lahap. Aneh, deh!

Diam-diam saya berterima kasih karena penulis membuat sub babnya pendek-pendek. Saya jadi semangat membaca terutama saat pergantian bab. Yeayyyy, biar cepet selesai! 😁

Buku Satu Jodoh Dua Istikharah ditulis oleh Ustadz Ma’mun Affany. Ustadz Ma’mun saya kenal sebagai penggiat literasi yang idealis dalam menulis buku. Idealisnya tuh gini: nulis-nulis buku sendiri, diedit-edit sendiri, dicetak-cetak sendiri, dijual juga sak karepe dewe. Ya, sih, bertarung di penerbit mayor juga berat. Ngapain cetak mayor kalau bisa diterbitkan sendiri, kan?

Saya mulai ya Review Buku Satu Jodoh Dua Istikharahnya..

Satu Jodoh Dua Istikharah berkisah tentang perjalanan hidup seorang laki-laki bernama Salman. Salman yang rupawan anak seorang keluarga keturunan arab. Wah, arab, nih. Menarik! Awaass, minggir, pria bercambang mo lewaat..

Sosok pemeran Salman gambarannya idola wanita banget. Ganteng, kaya, bos perusahaan dan ramah kepada siapa saja, terutama wanita. Lelaki keturunan arab yang saya tau rata-rata begitu karakternya. Menjunjung tinggi harkat wanita. Sayangnya, Salman yang baik ini diam-diam suka ‘pesen’ wanita. Duh, Mas.. emanee.. golek jomblo masih banyak yang mau, lho.

Pengembaraan Salman pada wanita penghibur tertambat pada seorang wanita bernama Tania. Tania yang unik, yang ketika datang ke hotel memakai baju rapi ala kantoran, dan ketika menemui kliennya malah ngajak sholat berjamaah Isya. Jelas Salman kaget, biasanya masuk kamar langsung hohohihe, ini malah disuruh jadi Imam. Gitu-gitu Salman manut aja sama permintaan Tania. Anugerah bagi Tania, karena setelah sholat ia malah disuruh istirahat. Tidur sampai pagi, gak diapa-apain sama Salman.

Sekali ketemu Tania, Salman pengen imbuh. Pesen Tania lagi. Jadilah 2 malam Tania bersama Salman. Dan nggak diapa-apain lagi. Alasan Salman ketemu Tania untuk ngorek kehidupan Tania kenapa bisa jadi wanita penghibur. Alasannya klasik, sih, dijual Ibunya sendiri.

Adalah Fatimah. Gadis usia 20 tahunan, teman masa kecil Salman. Ia baru datang dari Ostrali menempuh pendidikan. Datang ke kantor Salman untuk mencari lelaki kecilnya yang setelah dewasa berubah menjadi lelaki pujaannya. Sayangnya Salman sudah kecantol sama Tania.

Kini Salman bagai neraca. Bandul kanan ada Fatimah, bandul kiri ada Tania. Karena cinta, Salman sampai membeli Tania seharga 1M dari mucikari. Pokoknya Salman mau nikah sama Tania, titik.

Nasib Fatimah gimana? Nah, ini biang rumitnya.. Fatimah tetap nggandoli Salman. Tinggal pilih: gadis baik-baik, dokter spesialis kulit, banyak duit, dari keluarga borjuis atau Tania yang mantan wanita penghibur?

Jadi-jadi, siapa yang Salman pilih? Disinilah kekuatan buku Satu Jodoh Dua Istikharah.. Konfliknya jelas kompleks. Masalah jodoh nih ya urusannya bukan urusan cinta aja, tapi ya mikir keluarga dan urusan sesuk mangan opo? 

Buku setebal 350 halaman terbagi 45 bab ini mengukir kisah demi kisah yang sesekali membuat mata berkaca-kaca. Saya yang nggak mudah menangis jadi kebawa emosi. Gemas sama Salman, gemas juga lihat Fatimah. Pada Tania juga gemas tapi kadarnya cuma 3,75%.

Saya nggak tau Ma’mun menggali sifat wanita dari siapa, yang jelas penulis pintar menguliti perasaan wanita. Sebagai laki-laki, dia juga bisa menjelaskan sosok laki-laki di dunia ini banyak yang kayak gitu.

Kayak gitu gimana?

Ya, kalau nggak suka main perempuan, lelaki suka berhutang. Mbuh, pilihannya gak ada yang enak gini, ah, haha.. tapi kalau sudah cinta, rata-rata tipikalnya setia. Ini pengakuan lelaki sendiri, lho, ya..

Sementara perempuan, mereka lebih setia. Sabar, perhatian, berani berkorban, kayak saya gitu lho.. wkwkwk

Novel Satu Jodoh Dua Istikharah bagus buanget dibaca oleh calon pengantin. Di buku ini diajari bagaimana mencari sosok calon suami yang cocok diajak mengarungi bahtera rumah tangga. Bagi yang sudah nikah buku ini bagus-bagus juga, banyak tips dan trik rumah tangga yang dibagi. Bagaimana jadi seorang istri yang baik dan supaya dicintai suami selamanya.

Terdapat quote-quote menarik yang sengaja dibold untuk jadi perenungan bersama, kayak gini:

Aib suami adalah aib istri. Aib istri adalah aib suami. Kewajiban keduanya adalah saling menutupi.

Atau ini

Memilih suami bukan hanya mencari yang kamu cintai, tapi juga yang tidak menambah masalah dalam hidupmu, bahkan kalau bisa membantu menyelesaikan masalah-masalahmu.

Kabar baiknya saya menghatamkan buku ini hanya 6 jam saja. Padahal saya ini tipikal pembaca yang tidak mudah menyelesaikan buku. Baru baca satu bab sudah ngantuk. Tapi kali ini ngantuk saya hilang.

review-buku-satu-jodoh-dua-istikharah

Buku ini dikemas apik. Alurnya maju terus pantang mundur. Hampir-hampir saya tak menemukan kepingan puzzle yang berserakan. Semuanya rapi sehingga tak membutuhkan banyak waktu untuk mikir lain-lain.

Hanya saja ada beberapa kalimat yang tak nyaman dibaca. Menurut saya ada pemakaian kata yang minim imbuhan. Kayak gini:
Turun mobil Salman tak melihat Wisam. Masuki restoran, Wisam tinggalkan kasir dekati Salman, “Untuk apa malam-malam ke sini? Harusnya kau bersama istrimu.”

Maksudnya paham, tapi kebacanya kurang tajem. Saya gak tau apakah Ma’mun sengaja menghemat kata atau biar terdengar puitis. Kadang saya temukan kata yang aneh, seperti penyebutan wanita berok merah. Berok? Apaan sih berok? Saya pikir istilah apa gitu.. lama-lama jadi ngerti maksudnya, wanita memakai rok merah. “oalaaah…”

Novel ini setingnya di Surabaya, tapi sayang penulis hanya selalu menyebut nama jalan saja. Karakter masyarakatnya tidak terlalu nampak. Bahkan obrolan pun gak ada dialek-dialek yang mencirikan Surabaya. Walaupun keturunan arab yang tinggal di Ampel sekalipun, ya gak papa diselipkan obrolan Suroboyoannya. Bisa saja saat Wisam marah ia menyebutkan kata jancuk, gaplek, gathel, jangkrik dan turunannya..🤗

review-buku-satu-jodoh-dua-istikharah

Karena mengangkat keluarga arab, penulis juga tak banyak membuka tradisi masyarakat arab, kecuali panggilan Abah dan Umik. Kalau di bab awal Salman memanggil pamannya dengan sapaan Ami, di bagian ketika Ibunya Salman ketemu cucu, manggilnya Nenek. Bukan Jide atau Jiddah.

Tapi semuanya sudah baik, kok. Kurang pembatas bukunya aja yang gak ada. Apa yang ditulis dalam buku itu mengandung banyak manfaat terutama kehidupan suami istri. Saya menyadari penulis buku yang sekaligus menjadi editor memang berat, dan Ma’mun sukses menjaga emosinya. Tetap santai dan tidak buru-buru.

Buku Satu Jodoh Dua Istikharah ini layak dimiliki. Cocok jadi bacaan senggang. Yang lagi baper sama pasangan, hati-hati, nangis bukan jaminan saya apalagi penulis. Pemesanan bisa melalui penerbit Affany dengan SMS ke 085747777728.

25 thoughts on “Review Buku Satu Jodoh Dua Istikharah, Mau jadi Suami Istri yang hebat, baca ini!

  1. kupikir ada di toko buku manaaa gitu, trus inget penulisnya nerbitin sendiri. Ya biasanya pemesanan kudu PO yak, baiklah aku pinjem po’oooo eaaaa ujung2nya gak ngenak’i

  2. Kupaham sih kenapa penulis mengulas sedikitttttt ajah ttg ke-arab-an Salman. Hehe..

    Kalau ingin bukunya tamat dengan ngga berat, memang ngga perlu-perlu banget menuliskan ttg tradisi sih ya. Karena kalau sudah mengulas tradisi, maka keputusan tokoh akan terpengaruh tradisi juga.

  3. *Memilih suami bukan hanya mencari yang kamu cintai, tapi juga yang tidak menambah masalah dalam hidupmu, bahkan kalau bisa membantu menyelesaikan masalah-masalahmu.*

    masooook pak Eko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *