Blogging

Open Trip bersama Emak-emak, Kelar Idup, Lo!

Beberapa hari ini saya sulit move on dengan kejadian minggu-minggu lalu ketika pulang piknik bersama rombongan seRT. Tour rame-rame dengan Ibu-Ibu PKK yang jumlah pesertanya total 59 orang termasuk bayi, anak-anak, ibu hamil, ibu tidak hamil, nenek-nenek, mbakyu-mbakyu, dan remaja putri.

Bagi yang biasa megikuti open trip, atau istilah gampangnya ‘lungo bareng’, pasti tau bagaimana rasanya. Seneng, seneng bareng. Susah, susah bareng. Pokoknya susah seneng ditanggung bersama, meskipun senebnya dirasakan sendiri.

Trus gimana kalau kemudian ada tragedi yang dialami semua orang, tapi yang gak terima hanya seorang? Sampai marah-marah, sampai ngelabrak sopir bis, sekalipun, pak sopirnya sudah minta maaf berkali-kali. Dan semua orang se-bis tau, tragedi itu murni bukan salahnya Pak Sopir. Udah, deh, Kelar Idup, Lo! Wes, terimoen nasibmu!😭😭

Sejujurnya saya, tuh, maju mundur nulis ini. Antara kudu ngguyu sama takut diazab😂. Masalahnya yang mau saya ceritakan ini berhubungan dengan Emak-emak. Takut kualatnya, itu lho.🙄

Supaya setelah nulis ini gak kena azab, lebih dulu saya minta maaf bila ada kata-kata menyakitkan. Sungguh, kalau tidak karena ngelus dada melihat sikapnya, saya nggak akan curhatin di sini.

Beklah, saya mulai ceritanya. *kretekin jari dulu, biar gak kualat*

Alkisah, Ibu-Ibu PKK di RT saya baru saja bagi-bagi tabungan. Dapatnya, lumayanlah, Sesuai dengan Amal Perbuatan masing-masing. Ada yang ratusan ribu, ada yang berjut-jut. Ada juga yang ber M, M. Embeeerrr…

Biar senangnya dirasakan bersama, diputuskanlah untuk piknik bersama. Bayarnya muraah, gak sampai gadaikan androk. Rp. 100.000 saja untuk keliling wisata Kelud Kediri. Masih pula dapat bonus snack sama nasi ayam goreng. Sambel bawangnya enaak, potongan ayamnya besar-besar. Ditambah lagi seplastik permen. Gak rugi lah, bayar segitu. Panitianya pinter.

Sebagai peserta kategori ‘remaja putri’, eaaaaaakkk, saya sendhika dhawuh saja. Nurut apa kata Emak-emak. Ketika mereka rebutan posisi kursi bis, saya mingkem aja gak protes. Bagi saya kursi manapun gak masalah, asal nggak duduk di dalam bagasi atau nggelar kloso di lantai bis.

Apa sih yang direbutin, kursi bis kan sama semua bentuknya?
Tidak lain adalah merebutkan bangku bagian depan!

Ya, gak mungkin lah kalau 59 orang duduk depan semua, kan. Opo piye bisnya dibikin horizontal, biar semua dapat duduk depan semua? Buat Emak-emak, apa, sih, yang nggak mungkin diwujudkan, sih!

Sepertinya saya harus menulis surat terbuka untuk Pak Jokowi tentang masalah ini agar sesama Emak bisa naik bis duduk di depan semua dan tidak ada yang saling mendahului. Perkara Emak naik motor nge-sein kanan tapi beloknya ke kiri, itu perkara klasik, dan saya yakin para lelaki sudah bisa mengatasinya.

Eh, belakangan berhembus kabar, tidak semua Emak mau duduk depan. Ada satu Emak, sebut saja namanya Bu Ciplukan yang keukeuh minta duduk di bangku belakang. Pakai ngancem kalau tidak dikasih bangku belakang, dia gak mau ikut!

Ooh, Okaayyy, dengan senang hatiii diberikan oleh panitia. Wes, nyoooo, pek’en. Bangku belakang yang berjumlah 6 kursi itu akhirnya diisi Bu Ciplukan, sak anaknya, lengkap dengan cucunya yang kelas 2 SD. Sisanya ada Ibu-Ibu lain, salah satunya Bu Putri Malu. *apike jenengee*

Trus urusan bangku depan gimana? Biar adil pakai sistem kocok. Dari hasil kocokan itu saya kebagian tempat di bangku nomer 2 dari belakang. Terima saja belakang saya ada Bu Ciplukan dan Bu Putri Malu. Saya duduk di bangku tiga-an sama Ibuk saya, kakak ipar, dan si kecil. Posisi bangku saya lurus dengan pintu belakang. Enak, longgar.. dikandani, kok. Dadi wong pasrah iku enak.

Bis yang kami tumpangi nyaman-nyaman saja. Sopirnya masih muda, Mas-Mas usia 30 tahunan. Konon, dia biasa nyetiri anak-anak PAUD, jadi bawa Bis nya santai. Ngebut sithik-sithik, tapi masih tergolong kalem. Mungkin Pak Sopirnya takut, kali, ya. Yang diangkut kali ini rata-rata Emak-Emak. Mungkiin..

Selain wisata di kawasan Kelud, destinasi terakhir kami adalah Simpang Gumul, Kediri. Lanjut belanja oleh-oleh, lalu bablas ke Surabaya.

Sekitaran jam 19.30, bis tiba di depan Simpang Gumul. Sampai muter 4 kali, bis kami kesulitan mendapat tempat parkir. Simpang Gumul malam minggu ruamee soro.

Karena bis kami sudah pusing, semua sepakat melewatkan mampir Simpang Gumul. Saya juga ogah turun seandainya jadi mampir, lha wong panitia ngasih estimasi 30 menit. Setengah jam dapat apa di Simpang Gumul. Dipakai jalan aja dari parkiran udah habis waktunya.

Lokasi terakhir adalah Belanja. Kalau di Simpang Gumul dikasih waktu 30 menit, nah, jatah belanja kali ini dikasih waktu tidak terhingga. Panitia gak ada woro-woro suruh balik berapa lama. Yang jelas, ketika saya sudah pulang belanja, bis masih anteng diam disamping kuburan.

Gilak, saya kaget banget waktu pintu bis tiba-tiba membuka sendiri. Pas mau saya tutup lagi, saya intip di luar ada siapa. Penasaran siapa yang buka pintu bis dari luar. Saya intip, wheladalah, di luar tibaknya kuburan! Saya tutup lagi, dong, haha.. baru juga nutup pintu, kami semua disuruh turun. Ternyata sebelahnya kuburan itu adalah tempat toko oleh-olehnya! Bhuahaha..

Trus yang buka pintu siapa? Dibuka otomatis dari depan, jiaahhhhh!

Udah, ya, urusan belanja selesai. Bis nya lanjut pulang ke Surabaya. Rute yang dilewati bis ini adalah jalan alternatif lewat Pare. Jalur ini sepanjang jalan gelap. Lampu penerangannya entah gak nyala, atau memang tidak dipasang.

Semakin syahdu lagi, lampu bis digelapkan. Hanya TV saja yang nyala.

Kebetulan posisi duduk saya berada di kursi darurat. Letaknya disamping kursi duduk saya yang asli.

Kursi darurat itu sejatinya nggak boleh diduduki. Boleh duduk di kursi darurat, asal kalau ada sidak harus pindah ke kursinya sendiri. Dari pada kosong, saya duduk di situ ditemani sama satu Tante. Namanya Mbak Desi, nama asli, bukan pura-pura, hehe..

Kursi darurat itu dibilang bahaya, bahaya, karena tidak ada pengamannya. Misal tiba-tiba rem mendadak, bisa saja penumpang yang duduk di situ njungkel ke depan di tangga pintu bis. Makanya diwanti-wanti supaya dikosongi.

Inilah detik-detik tragedi itu terjadi..

Lagi asik jalan, dalam kondisi tenang dan syahdu, tiba-tiba bisnya bergejolak hingga membuat seluruh penumpang terbang dari kursinya masing-masing,

“Swiiiiiiinggg……., Jeblukkkkkkk!”.

Otomatis semua kaget. Seperti naik roller coaster.

Ada yang teriak. Saya rasa semua teriak. Tapi yang pualing heboh suara tangis cucunya Bu Ciplukan. Ketika cucu lakinya menangis histeris, Ibunya si cucu (piye, sih, ngatainnya :D) beserta neneknya ikut histeris. Ya, gimana, lagi enak-enak tidur tiba-tiba bisnya bergejolak.

Kalau semua kaget, saya juga kaget. Bedanya, saya masih melek. Saya bisa lihat gimana semua penumpang dikocok ke atas lalu dibanting ke kursi dengan keras.

Atas nama tangisan cucu Bu Ciplukan, Pak Sopir meminggirkan bisnya. Kami juga pengen tau kondisi cucu Bu Ciplukan kenapa. Apakah berdarah-darah atau kenapa. Soalnya ibu cucu Bu Ciplukan ikutan nangis juga. Apalagi duduknya berada paling belakang.

Kenek dan Pak Sopirnya akhirnya turun menceritakan kronologisnya sembari menenangkan suasana.

Yang terjadi adalah, sebab jalanan gelap, Pak Sopir nggak kelihatan di depan ada polisi tidur ukuran besar. Info penumpang depan saya mengatakan ada gorong-gorong yang menyebabkan aspal menjorok ke atas. Namanya juga gak kliatan, Pak Sopir gak bisa menjaga kecepatan bis.

Saya dengan Mbak Desi membuat kesimpulan sendiri. Dengan kondisi seperti itu susah bagi supir untuk mengambil tindakan. Kondisinya, kan, tiba-tiba, yanh bisa dilakukan antara 2 pilihan:

1. Sopir melanjutkan kendaraan dengan kecepatan bis tetap
2. Menginjak rem supaya kecepatan bis berkurang.

Kami rasa dua pilihan itu efeknya sama-sama gak enak. Kalau direm mendadak semua penumpang juga pasti terbangun sambil badannya menabrak badan kursi di depannya. Termasuk saya dan Mbak Desi yang mungkin akan susah payah menahan badan agar tidak kejlungup atau ngglundung ke depan.

“Ngapunten, Buk. Gelap, jalannya tidak keliatan” kata Pak Sopir minta maaf sambil tangannya ditelungkupkan di dada.

Rupanya permintaan maaf itu mengundang reaksi keras Bu Ciplukan. Dia marah sambil mengungkapkan kekesalannya.

“Saya laporkan kamu ke PO. Lihat ini cucu saya menangis. Kalau ada apa-apa dengan cucu saya gimana?”

Nggak mau resiko, saya dengar sang kenek bisik-bisik ke sopir, “dibawa aja ke Klinik”.

Kami juga tidak tau apa yang dirasakan. Tapi semua menduga karena efek kaget aja. Bisa jadi karena dadanya berbenturan dengan sikut sebelahnya atau dengkulnya sendiri. Waktu kejadian, posisi duduknya disamping jendela. Mungkin tabrakan dengan kaca.

Ketika pas sopir dan kenek mau beranjak, Bu Putri Malu yang duduk di sebelah Bu Ciplukan ikut merintih,

“Aduh, Paak, boyok saya sakit. Gimana ini, Pak, boyok saya kaku”

Lhadalaahhhh… Urusan boyok kadang kala bikin runyam.

Dibilang lucu, ya lucu. Dibilang miris, ya, miris. Apakah harus segitu marahnya sama sopir. Semua penumpang tau sopir sudah membawa kendaraannya sehalus mungkin. Kalau dari awal sudah ugal-ugalan wajar seandainya marahnya berlebihan.

5 Menit kemudian kami tiba di Rumah Sakit. Bu Ciplukan beserta anak cucunya turun. Sisanya nunggu di dalam bis.

Bu Putri Malu gimana? Dia menolak ke RS. Orang seBis sudah menyuruhnya ikut ke RS, tapi bilangnya nggak usah. Sudah dipaksa-paksa, pun, Bu Putri Malu maksa gak mau.

Okelaah, akhirnya panitia berinisiatif membelikan obat anti nyeri. Setelah dikasih obat, disuruhlah Bu Putri Malu untuk rebahan di kursi. Dibiarkan posisi nyaman-lah.

Ada kali 40 menit kami nungguin pemeriksaan cucu Bu Ciplukan.

Sebelum Bu Ciplukan kembali ke Bis, cucu Bu Ciplukan datang. Udah gak nangis, kondisinya biasa saja. Ngakunya, Ibu dan Neneknya sedang menunggu ambil obat. Dengar-dengar obatnya puyer.

Setelah beberapa lama, datanglah Bu Ciplukan.

“Lho, sampean tadi gak ikut periksa? Ayo periksa, tak antar ke RS” kata Bu Ciplukan kepada Bu Putri Malu. Seakan-akan bis rekreasi ini milik sendiri, penumpang lain modal nunut.

Tanpa diduga, Bu Putri Malu nurut kehendak Bu Ciplukan. Sekonyong-konyong orang seBis melongo. Ksn, tadi sudsh dikasih obat anti nyeri, kok sekarang mau ke RS. Trus berapa lama lagi nunggu mereka kembali?

Semua orang resah. Sudah jam 9 malam, bis masih di Pare. Sampai Surabaya jam berapa? Besok ada yang kerja.

Kami orang hanya bisa diam. Selain Bu Ciplukan mantan pengurus PKK dan paling vokal, kami juga kesulitan protes.

Tak berapa lama, akhirnya ada yang nemui perawat RS agar pemeriksaan dilakukan sebisanya. Sisanya diteruskan di Surabaya.

Dan tau apa obat yang dikasih buat Bu Putri Malu? Obat anti nyeri, juga!🤕

Jam 21.30 urusan RS selesai. Bis kembali jalan.

Perjalanan kedua ini saya merasa sopir agak berubah. Dia tak ragu-ragu lagi mempercepat bis. Bisa jadi dia dikejar jam. Lucunya, ketika bis mengalami gejolak lagi, gejolaknya tak sekeras pertama, cucu Bu Ciplukan teriak setengah nangis, “Huaaaa..” padahal penumpang kecil yang lain tak bersuara.

Maaf, ya, kalau boleh saya bilang, kamu lebay, Dek!

Kalau mau duduk di belakang harusnya dia tau apa resikonya. Kalau ada gejolak, kursi belakang nomer satu paling keras goncangannya dibanding kursi tengah dan depan.

“Ya udah, saya turun sini aja” bu Ciplukan minta turun.

Lho, lho, lho.. karepe dewe wong iki.

Dijelaskan oleh panitia bahwa jalur yang dilalui tidak ada bis umum. Jauh dari terminal, gelap, udah malam. Tapi Bu Ciplukan keukeuh minta turun.

Diputuskanlah Bu Ciplukan dan semua penumpang belakang pindah ke kursi tengah. Tukar bangku sama penumpang yang lain.

Memang harusnya sedari awal Bu Ciplukan duduk di tengah. Buktinya setelah itu dia tak bersuara. Tau sendiri gimana kondisi jalan aspal, kita? banyak gelombangnya. Trus kalau gak mau bis jalan bergoyang-goyang naik odong-odong saja. Tambah mumet goncangannya. Kereta api yang jalannya lurus aja masih suka goyang-goyang.

Trus gimana kondisi Bu Putri Malu? Sudah tahes kembali. Buktinya saat Bis melewati Royal Plasa, dia udah ribet sama barang bawaannya. Riwa-riwi maju mundur. Mbok yo, nanti, kalau bisnya sudah berhenti.

“Buk, masih jauh. Nanti aja kalau bisnya sudah berhenti baru barangnya dikumpulkan. Nanti boyoknya kambuh lagi, lho” dikasih tau cuek aja dia.

Selanjutnya saya gak tau siapa yang bayarin biaya Rumah Sakit. Kalau Sopir yang nanggung, kok kayaknya kasihan. Saya duga panitia yang sudah berbaik hati nanggung.

Gini, lho, sodara-sodara, ketika kamu memutuskan ikut trip bersama rombongan, kamu harus tau sikap. Kapan menghormati orang lain, dan tidak boleh egois. Lha wong mbayarnya urunan, sama-sama bayar, tapi minta fasilitas VIP.

Sebagai peserta Open Trip, kalau bisa jangan merepotkan panitia dan peserta lainnya. Kalau sehari-hari kamu seorang atasan, saat ngetrip bareng copot dulu label Bossy nya. Sakno liyane!

Buat Mas Sopir dan kru Bis, yang tabah, ya. Emak-Emak memang butuh diperhatikan. Dimengerti saja tidak cukup!

6 thoughts on “Open Trip bersama Emak-emak, Kelar Idup, Lo!

  1. Wakakkaakka..
    Mbak Yuuunnn..
    Saya ngakak gulung-gulung baca ini, malam-malam pulaak 😂😂😂

    Bu Ciplukan harusnya duduk di depan tuh, depan supir dekat setirnya bis.
    Deket dengan boneka2 yang kalau bis jalan bonekanya ngangguk-ngangguk 😂😂😂😂

    *Upss.. Ampuunnn.. Jangan kualaaatt 😂😂😂

  2. Jadi ingat tadi pagi. Lagi enak-enak menikmati macet di pasar karena lampu merah di pasar manyar, ada emak2 yang baru datang klakson2 dengan kenceng di belakang saya.
    OMG, ini lagi lampu merah mamiiihhh… Mau diklakson sampe jebol juga tetep aja berenti. Ku bingung harus marah atau ngakak😂

  3. Wkwkwkwk, kalo sampe pas aku traveling, trus ada temen yg tingkahnya kayak ibu cipluk ini, aku blacklist ga boleh ikut trip2 ku lagi :p. Pengen dilem rasa2 mulutnya :p

    Btw mba, boyok itu artinya apa yaa. Si ibu putri malu mengingatkanku ama tipe penumpang salah satu pesawat yg udh lama aku blacklist juga, pesawat baru nyentuh landasan, trus penumpangnya udh buka seatbelt dan buka compartment di atas, sampe awak kabin teriak2 suruh duduk wkwkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *