Jalan-jalan

Semalam di Gili Trawangan, kampung lokal rasa Interlokal

Sejak awal berangkat ke Lombok, saya sudah menyusun itinerary akan nginep di Gili Trawangan. Penasaran, bagaimana hidup semalam di pulau orang. Harapnya supaya bisa berlama-lama dekat dengan masyarakat lokal.

Dari Mataram saya menunggangi motor sewaan yang harganya Rp. 70.000/24 jam. Motor itu kemudian saya parkir di sekitar Pelabuhan Bangsal dengan tarif inap Rp. 15.000,- semalam.

Setelah menyimpan motor pada tempatnya, selanjutnya saya menuju Pos Penjualan tiket kapal ke Gili Trawangan.

Ada beberapa pilihan rute yang tersedia, yakni:

Pelabuhan Bangsal – Gili Air
Pelabuhan Bangsal – Gili Meno
Pelabuhan Bangsal – Trawangan

Teman-teman bisa membeli tiket untuk 2 Gili atau 3 Gili sekaligus dengan konsekuensi dalam 1 hari teman-teman harus menyelesaikan perjalanan 3 Gili dengan maksimal waktu hingga jam 5 sore. Perlu diketahui, kapal di pelabuhan Bangsal ini hanya beroperasi antara jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Karena tujuan saya hanya 1 Gili saja, saya membeli tiketnya ke Gili Trawangan. Tarifnya Rp. 15.000/orang. Warna tiket tiap Gili beda-beda. Tiket saya ke Gili Trawangan berwarna putih. Warna tiket ini nanti sebagai penanda keberangkatan kapal.

“Tiket warna putih silakan ke kapal A” artinya penumpang Gili Trawangan dipanggil segera naik ke kapal.

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal motor. Kurang lebih 20 – 25 orang yang terangkut. Di kapal ini terdapat macam-macam orang. Dari yang warga lokal, traveler seperti saya hingga bule. Semua duduk di bangku panjang.

Perjalanan menuju Gili Trawangan lamanya sekitar 45 menit – 1 jam.

Tiba di Gili Trawangan, kami langsung di sambut calo yang menawarkan penginapan murah. Meski baru pertama datang ke Gili Trawangan, namun kemampuan menghindari calo saya telah teruji secara klinis, hehe..

Menghadapi calo dengan mengatakan “Tidak, terima kasih” saja, tidak cukup. Yang terjadi mereka makin semangat ngejar. Jadi saya katakan saja mau ke sholat ke Masjid sekaligus tanya di mana letak masjid terdekat.

Suasana Gili Trawangan

Siang itu di pulau Gili Trawangan tampak ramai. Bule-bule yang mengenakan bikini lalu lalang mengendarai sepeda ontel.

Saya terpukau dengan suasana kampung di Gili Trawangan. Seluruh jalanannya berupa tanah. Bangunan-bangunannya sederhana, dan rata-rata digunakan sebagai tempat usaha. Kalau bukan toserba, laundry, money changer, open trip, cafe, atau penginapan.

Yang membuat saya betah, suasana kampungnya Indonesia banget. Akan tetapi yang terlihat di jalan, banyak bule yang hilir mudik ketimbang penduduk lokalnya.

Usaha Mencari Penginapan

Saat tiba di Gili Trawangan, usaha pertama yang saya lakukan adalah mencari penginapan untuk menaruh ransel. Cuaca yang panas dan haus, klop jadi satu. Alih-alih mencari penginapan, saya justru jalan keluar masuk gang untuk menikmati kampung Gili. Saya suka dengan rumah-rumah penduduk Gili Trawangan. Sudut kampungnya kadang terlihat seperti rumah di luar negeri, kadang-kadang nuansanya ‘Lombok’ banget.

Lelah keliling, saya melepaskan penat di pos kamling yang sepi di sudut jalan. Sambil mencari info penginapan murah, sesekali menikmati turis bersepeda.

Setelah menemukan nama penginapannya, saya segera beranjak mencari alamatnya. Karena saya tidak memesan via aplikasi, jadi prosesnya melalui tawar-menawar. Jatuh harganya sama dengan yang diaplikasi. Lebih murah dikitlah.

Menghabiskan Sore keliling Gili Trawangan

Aktifitas kami siang itu di Gili Trawangan adalah mencari masjid kemudian lanjut menyusuri jalanan desa. Sebetulnya saya ditawari sewa sepeda oleh pemilik homestay yang harganya 40 ribu sehari buat keliling pulau, tapi saya gak mau. Bawa sepeda takut ribet parkir-parkirnya. Trus gak bisa langsung berhenti foto-foto kalau ada view cakep.

Dan, keputusan saya tidak kliru. Dengan jalan kaki saya bisa nyapa penduduk sambil ngobrol-ngobrol sebentar.

Oya harga air minum kemasan di Gili Trawangan lumayan mahal. Untuk ukuran 600ml air putih harganya antara Rp. 8.000 – 10.000,-. Sedangkan minuman botol air berwarna harganya Rp. 10.000- 15.000. Saya banyak habis uang buat beli minuman doang, haha.. apalagi udara di Gili Trawangan panas dan berdebu. Habis minum sebotol, sebentar kemudian haus lagi.

Baca juga 1,5 Juta Rupiah Keliling Lombok 4 Hari, dari Gili Trawangan sampai Tanjung Aan!

Kami menghabiskan sore menikmati senja di tepi pantai hingga menjelang maghrib. Otomatis, jalanan yang kami lalui tadinya terang, sekarang berubah jadi gelap. Di sepanjang jalanan kampung minim sekali penerangan. Tapi saya suka, mengesankan suasana desa jaman saya kecil dulu. Selama diperjalanan, saya menikmati sawah, rumah adat, dan lihat sapi, hehe.. sereceh itu saya 😀

Saat saya tinggalkan, pantai sudah mulai ramai. Cafe dan kerlipan lampu beradu dengan botol-botol bir. Banyak juga, sih, wisatawan yang pulang ke homestay masing-masing. Saya melihatnya seperti anak sekolah yang baru pulang dari les. Ngontel sepeda rame-rame dengan tas yang dicangklong di punggung.

Sampai Homestay sudah jam 8 malam. Karena payah, kami memutuskan istirahat dan tidak keluar-keluar lagi. Makan malam sudah kami beli sebungkusnya Rp. 15.000,-. Kesimpulan saya, orang Lombok sukanya makan pedas. Sesuai namanya, tiap beli makanan, rasanya selalu pedas padahal belum dicocok sambal.

Saya lupa di Gili Trawangan saat malam suka ada kemeriahan di tepi pantai. Namun saya sudah cukup bahagia menikmati malam sambil duduk-duduk di beranda kamar menikmati udara sepoi-sepoi.

Sebagai gantinya, kami bangun pagi-pagi untuk ngejar matahari terbit. Sayang, kami kesiangan berangkat. Saya kira pintu gerbang homestay dikunci, jadi saya nunggu pemiliknya membuka gembok. Ternyata, gembok pintu gerbang tidak dikunci, huwaaa… ada kali saya nunggu sejam di teras.

Tapi gapapa, saya tetap bisa menikmati kampung Gili yang senyap di pagi hari. Cafe-cafe masih tutup. Bule-bule yang kemarin hilir mudik, belum nampak beraktifitas sama sekali. Kalaupun ada hanya 1-2 orang yang jogging.

Semalam di Gili Trawangan sangat mengesankan. Sengaja saya tidak bermain air di Gili. Bagi saya lebih menarik keliling kampung ketimbang main air, meskipun pemili homestay menyayangkan keputusan saya tidak bermain air. Hal itu diungkapkannya ketika saya pulang usai jalan-jalan, “Mbak dari mana, kok bajunya nggak basah?”

Saya bilang, “Dari jalan-jalan. Saya memang tidak pengin main air, Mas”

“Wah, sayang sekali, Mbak. Pemandangan air di Gili bagus banget, lho”

Begitulah, akhirnya saya menghabiskan waktu Semalam di Gili Trawangan sampai jam 8.30 pagi karena harus ngejar penyebrangan kapal pertama ke Pelabuhan Bangsal yang dijadwalkan berangkat jam 9 pagi. Klik link untuk mendapatkan informasi Tarif, Jadwal dan Loket Pembelian Tiket KMP Legundi, kapal laut Surabaya Lombok 2018

3 thoughts on “Semalam di Gili Trawangan, kampung lokal rasa Interlokal

  1. baca ini aku trus kangen temenku mbak, sebelum nikah dulu tak puas2in jalan3 dulu sampe ke Lombok, Ijen segala wkwkwk … enak banget suasana di Gili ini ketimbang di Bali menurutku, krn penduduknya masih ramah sama orang lokal juga.

    Aku gagal fokes sama si om, puenaaak tenan nen lungguh … kenikmatan hqq koyok’e hihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *