Parenting

Jadi Generasi Cerdas Digital bersama Prestasi Junior Indonesia dan Citi Indonesia

Wabah smartphone sudah menyerang semua orang di muka bumi ini. Paham, tidak paham teknologi, secara terang-terangan manusia telah menjadi pengabdi smartphone. Termasuk saya, yang menulis artikel ini hehe..

Pengabdi Setan? Kalah viraaallll..

Sambil ngetik, saya jadi teringat teman SMK saya. Namanya Farida. Nama sebenarnya, namun saya yakin dia tidak akan membaca artikel ini. Mau bilang ke Farida kalau sedang dirasani Yuni, silakan. Karena saya tau, dia lebih peduli berselfie ketimbang baca tulisan yang judulnya malesin kayak begitu.

Farida pernah pamer Smartphone Samsungnya baru. Saya tanya harganya 4 juta. Yang bikin saya mendelik, dia minta ajari saya cara ngirim foto di WA! Facebook punya, nulis status bisa, tapi nggak tau setingan apapun. Jangankan email, password saja dia tidak tau. Gelagatnya itu sering membuat saya dan teman-teman gemas. Smartphone mahal, canggih, sinyal Oke, pulsa banyak, yang makai gak bisa apa-apa. Sampai kami, teman-temannya royokan komen,

“Udah, deh, Da, kasih aja HPmu ke aku…”

“Mana, mana, sini tak beli sejuta!”

“Da, caranya tuh begini bla bla bla pilih menu bla bla klik bla bla udaah kekirim”

Ibaratnya udah berbusa-busa jelasin. Udah kriting jari ini ngetik. Sampai habis pula memory buka screen cap tutorial, dibalas oleh Farida, “Mbuh, Rek, gak ngerti aku. Sesuk ketemu benakno ae!”

Dzing!!

Kzl!

Kadang-kadang males dan males belajar tuh bedanya tipis.

Farida dan saya adalah salah dua orang contoh generasi millenial. Generasi yang berkategori lahir antara tahun 1980 – 2000an. Tiap mata melek selalu terkoneksi dengan social media, teknologi terkini dan internet.

Menurut Psikolog Roslina Verauli, M.Psi.,Psi., kelompok Milenial bisa dicirikan sebagai berikut:

Menonton TV lebih dari 1 jam per hari

Gak akan bisa kurang dari satu jam kalau siang-siang terjebak Sinema Pintu Taubat di Indosiar yang ceritanya ribut-ribut rumah tangga. Keadaan ini semakin elegan dengan acara Karma

Mengirim lebih dari 10 texting message per hari

Chatting sampe jari bengkak karena semua disponsori oleh kuota melimpah. Gak kayak dulu kirim SMS 10 kali pakai mikir. Dengan WA kini ngobrol 1000 kali sambil merem. Tau-tau udah jam 5 sore dan belum sholat Ashar

Memiliki Media Social

Ada yang hari gini nggak punya akun FB?
Saya yakin kok banyak orang nggak punya akun FB… Karena tiap hari sibuk mainan Instagram sama Twitter, hehe..

Tidur dengan HP

Saya banget ini. Mau tidur elus-elus HP. Bangun tidur yang dibuka HP. Rasanya lebih menarik bangun dari tidur karena keganggu notif sosmed dari pada mendengar bunyi alarm

Kondisi ini mengakibatkan perubahan gaya hidup secara drastis. Kebiasaan membaca dan bermain beralih ke ‘mainan digital’

Hanya saja yang membedakan antara Farida dan saya dalam berteknologi adalah cara menggunakan fungsinya. Farida senang selfie, saya senang chating, hahaha…

Anak dan kesibukan bergadget

Eh, sebelum saya nulis panjang, saya lupa bilang bahwa saya menulis tema digital ini dalam rangka membuat kesimpulan materi acara yang pernah saya ikuti seminggu yang lalu. Semoga saja penyampaian saya bermanfaat dan mudah dipahami oleh orang tua yang sedang kebingungan mendidik anak yang kecerdasan digitalnya melebihi orang tuanya.

Saya datang, Bu Vera datang. Ya udah diajak foto 😄

Rabu, 18 April 2018, saya bersama wali murid SDN Ketintang 1 Surabaya mengikuti kegiatan Citi Parenting Talkshow yang bertajuk Didik Anak Jadi Generasi Cerdas Digital. Acara ini diselenggarakan oleh Citi Indonesia melalui payung kegiatan kemasyarakatannya Citi Peka (Peduli dan Berkarya) bersama Prestasi Junior Indonesia.

Menghadirkan narasumber yang berkompeten, yakni:

~ Mr. Robert Gardiner, Management Advisor Prestasi Junior Indonesia
~ Roslina Verauli, M.Psi.,Psikolog Anak dan Keluarga

Tujuan acara ini untuk mengajak para orang tua menyadari pentingnya membangun ketrampilan dan kecerdasan digital pada anak-anak guna mengoptimalkan potennsi kemajuan teknologi.

Baiklah kita mulai..

Pada sebuah riset, sesuai paparan Verauli, menyatakan bahwa anak pra sekolah dengan akses teknologi komputer memiliki pengetahuan umum dan kemampuan bahasa yang lebih baik.

Riset lain menyatakan, kemampuan teknologi komputer no games berhubungan dengan peningkatan prestasi akademis pada
anak SD.

Mirisnya…

Studi multi-nasional mengetahui tingkat keamanan dunia maya yang dilakukan oleh DQ Institute dan World Economic Forum di 29 negara menunjukkan rata-rata 71% anak usia 8-12 tahun di Indonesia berisiko terpapar bahaya siber, antara lain cyberbullying, kecanduan video game, online grooming, hingga pelecehan seksual. Indikasi lainnya, 34% anak pernah terlibat dalam perilaku seksual online.

Fenomena ini membuat Director, Country Head ofCorporate Affairs Citi Indonesia, Elvera N. Makki mengungkapkan, “Perangkat digital dan akses internet telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak masa kini. Berangkat dari hal tersebut, sebagai wujud nyata dari komitmen terhadap perkembangan anak Indonesia, Citi Indonesia bersama PJI menginisiasi pembelajaran mengenai keuangan bagi anak-anak dengan menggunakan metode digital melalui program Digital Financial Literacy for Children dengan harapan menginspirasi para orang tua mengajarkan penggunaan teknologi digital secara bijak sejak dini”.

Penggunaan Teknologi Digital untuk anak-anak sewajarnya disesuaikan dengan usianya.

Usia 0-2 tahun
Belajar: Stimulasi senso-motor
Usia 3-5 tahun
Belajar: Story books, Drawing/design, Computer learning center
Hiburan Games, video/music
Usia > 6 tahun
Belajar mengerjakan tugas sekolah, web search, word processing organizing
Hiburan Games, video/music
Komunikasi e-Mail, Instant messaging

Intinya penggunaan teknologi digital sebaiknya dimanfaatkan untuk hiburan dan bersenang-senang.

Pengalaman saya mengajari anak menulis dan membaca via chatting lebih efektif ketimbang menggunakan buku dan pensil

Bijak Bergadget Teknik Positif Parenting

Melihat sibuknya anak bermain gadget, disadari betul bahwa kebiasaan itu sangat menganggu aktifitas. Sehari-hari tak ada lain selain berhadapan dengan layar HP. Dan sebagai orang tua, kita bisa apa?

Sebel, iya.

Solusinya dengan mempraktekkan teori Positif Parenting

Apa yang dimaksud Positif Parenting? Pertanyaannya udah kayak soal UN aja inih

Positif Parenting adalah teknik pengasuhan menggunakan kalimat positif. Bicara tidak menekan, tidak menuduh, dan tidak kepo.

Ketika anak terbiasa main gadget selama 2 jam, lalu suatu saat molor dari jadwal biasanya, cari tau sebabnya. Apakah ada sesuatu yang dianggapnya penting atau ada sebab yang lain. Lakukan supervisi dengan cara mengawasi, membatasi namun tidak berlebihan.

Cerdas Digital untuk anak-anak bisa dilakukan menggunakan strategi Bijak, seperti:

Batas: Batasi Konten yang dilihat anak. Jangan biarkan mereka bergadget sendirian di kamar. Ajak mereka bermain gadget di ruang terbuka yang banyak orang sebagai langkah pengawasan
Tujuan Belajar: Mendorong anak belajar dan ajak anak diskusi yang kritis secara positif
Tujuan Hiburan: Manfaatkan kegiatan ini dengan bermain pasif
Model: Pengasuhan orang tua dengan teknik positif parenting

Digital Financial Literacy for Children

Tak hanya talkshow saja, pada kesempatan itu, juga diadakan program edukasi Digital Financial Literacy for Children yang sudah 2 tahun ini diimplikasikan oleh Citi Foundation sejak Oktober 2017 yang berhasil melibatkan 2.947 siswa dari 12 SD di 5 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Denpasar. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keuangan masyarakat sekaligus membangun kesadaran positif penggunaan teknologi sejak dini.

Image: Citi Indonesia

Terakhir, Mr. Robert Gardiner, Management Advisor Prestasi Junior Indonesia menuturkan bahwa saat ini pengembangan kemampuan intelektual anak-anak perlu dilengkapi dengan ketrampilan dan kecerdasan digital. Anak-anak perlu dididik bahwa smartphone bukan hanya digunakan untuk bermain saja, tetapi bisa dimanfaatkan untuk hal positif seperti belajar mengelola keuangan dan mencari materi pendukung tugas sekolah. Prestasi Junior Indonesia bersama Citi Indonesia berkomitmen terus menjangkau lebih banyak anak-anak Indonesia guna mempersiapkan mereka menjadi generasi masa depan yang cerdas finansial sekaligus cerdas digital.

Orang tua, yuk, siapkan anak-anak kita jadi generasi yang cerdas digital!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *