Review

Sinopsis Film My Generation, Ketika Remaja Millenial Mengungkapkan Kejujuran

Sinopsis Film My Generation, Ketika Remaja Millenial Mengungkapkan Kejujuran, saya tulis usai nobar premier di Surabaya. Mumpung perasaan saya masih teraduk-aduk, jadilah saya buatkan postingan.

Kalau boleh jujur, saya sama sekali tidak memasang ekpetasi tinggi terhadap film ini, meskipun saya menjadi salah satu buzzernya. Apa, yaaa.. sukar menebak alur film Indonesia akhir-akhir ini. Genre drama di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan!

Meski jadi buzzer film, selama ini saya tidak pernah memuja-muja dan me-WAH-kan film ini kedalam konten yang saya sebar di sosmed. Kenapa saya harus membaik-baik’i, wong filmnya aja belum tayang di bioskop? Nonton trailernya aja tidak cukup menjanjikan tingkat kebagusan film.

Saya baru tau dari teman-teman, rupanya diluar sana gaung film ini tidak semulus pipi saya dan Orly *eaaa*. Banyak status kontroversi yang dilayangkan terhadap konten film ini. Syukurlah, hal negatif itu tidak lewat di wall saya. Jadi saya anggap aman. Mending gak ngerti lah kalau saya, daripada tau trus ikut-ikutan berprasangka. Ye, kan?

Biar mood saya lurus. Tidak memihak sini, tidak terbawa pandangan diluaran.

Bermula dari Trailer

Saat melihat tayangan trailernya memang saya melihat banyak adegan-adegan kenakalan remaja yang tidak patut dicontoh seperti ketika mereka nye-pet mobil orang dengan kata-kata BANGSAT. Padahal pada jaman saya, kenakalan remaja seperti itu biasa banget terjadi. Seperti merokok, minggat dari rumah, ngejar mobil pick up rame-rame supaya dapat tumpangan gratis. Ini semua kenakalan anak 90-an. Apakah anak-anak sekarang bisa ngejar mobil pick up jalan? Saya jamin, tidak banyak yang bisa!

Tapi jangan ditiru, ya, Dek, saya yakin anak remaja millenial bijak-bijak, walaupun didepan orangtua masih dianggap pupuk bawang

Sementara itu, dalam trailer juga menayangkan ucapan yang tidak semestinya dilontarkan anak untuk guru dan orangtuanya. Cukup kaget juga, akan tetapi saya berusaha memahami jalan pikiran anak-anak. Dan itu sesuai banget dengan kondisi saya pada masa sekolah dulu, ANAK HARUS BELAJAR BANYAK MATA PELAJARAN, sedangkan guru hanya cukup mempelajari satu mapel saja.

Andai film ini tayang pada jaman saya, pengen aja ngajak guru-guru nobar!

Oke, cerita trailer kita sudahi. Sekarang saya mau menulis SINOPSIS FILM MY GENERATION

Sinopsis Film My Generation, Ketika Remaja Millenial Mengungkapkan Kejujuran

Kalau boleh membandingkan, film My Generation ini layaknya film Olga dan Sepatu Roda yang pernah tayang pada era 90-an. Atau film remaja lain masa itu seperti Catatan si Boy, Lupus dan judul lain yang malas saya browsing.

Intinya, film remaja yang mengambil sudut pandang dunia remaja. Ada cinta, persahabatan, kenakalan remaja, konflik di sekolah, dan konflik dengan orangtua.

Sekali lagi saya tekankan, FILM DARI SUDUT PANDANG REMAJA!

Sejak pertama nonton trailernya, saya bermain tebak-tebakan sendiri, “kayaknya ini film ceritanya sudut pandang anak remajanya..”

Lihat trailernya, bisa jadi banyak orangtua yang protes, yang melarang anaknya nonton film beginian.

Kenapa harus protes kalau anak remaja tidak mempermasalahkan?

Jangan sampai terjadi pada orangtua yang melarang anaknya nonton film, sedang dibenak anaknya mupeng banget kabur ke studio tanpa ketauhan orangtuanya.

Film Lupus jadul dengan seragam SMA

Yang membedakan antara genre remaja masa dulu dan masa sekarang adalah pengungkapannya saja yang lebih terbuka. Dialog-dialognya, adegannya, ekspresinya, penyelesaian konfliknya. Semuanya disampaikan secara natural, apa adanya, dan memasyarakat. Tidak dibuat-buat atau sengaja ditahan untuk mengatur citra supaya tampak ‘BAIK’ ditonton.

Jempol deh buat penulis dan sutradara film ini! Termasuk pemain yang terlibat di film ini yang terlihat asik, menjiwai, dan mengalir sesuai perannya.

Disinilah letak kesulitannya, ketika sebuah pengungkapan disampaikan, selalu ada pihak yang merasa dirugikan.

CGV Marvell Surabaya sudah dipenuhi media, penggiat film, anak-anak SMA, dan (sepertinya) guru pendamping ketika saya tiba jam 5 sore. Saya pikir studio akan sepi karena film ini sejatinya mulai tayang tanggal 9 November 2017.

Oww! Ketika film diputar sesuai jadwal di tiket jam 18.45, ternyata kursi studio full. Saya sengaja milih posisi aman, di barisan A, biar bisa bebas tingkah.

Adegan dimulai dengan video berisi pengakuan jujur Zeke, Orly, Konji, dan Suki yang ditonton bersama guru dan orangtua masing-masing. Isi video berupa keluhan dari hati yang paling dalam akan beratnya pelajaran sekolah. Bagaimana sikap guru yang selalu menekankan untuk belajar belajar dan belajar. Materi, ujian, materi, ujian. Sedangkan mereka punya hobi dan kreativitas yang juga minta diperhatikan.

Di pihak lain, mereka juga menyampaikan keluhan terhadap sikap orangtua masing-masing yang kurang memberikan perhatian. Tidak puas dengan nilai akademik mereka.

Sepertinya bagian ini yang memicu netizen diluar sana menghujat film ini karena dianggap kata-katanya kasar dan tidak pantas dilihat anak-anak mereka. Tetapi saya justru tertawa, padahal itulo bukan konflik sebenarnya. *TERTIPU TRAILER* 😀

Pernahkan orangtua membayangkan jika si anak berbuat demikian? Ini bisa terjadi lho. Kalau zaman dulu anak menyampaikan kesedihannya dengan surat atau diary yang disembunyikan, zaman sekarang melalui blog atau youtube!

Terima saja, musimnya memang lagi senang buka-bukaan dalam arti yang sebenarnya.

Sebelum semua itu terjadi, Upi berimajinasi melalui lorong masa depan dalam sebuah karya film!

Ibaratnya gini, jika anak SUDAH kejeblos masalah, orangtua pasti berusaha menunjukkan kepeduliannya, “Kenapa kamu gak ngomong langsung sama Mamaa…”

Di sisi lain, si anak bilang, “Habisnya, mau ngajak Mama ngobrol, Mama bilang nanti nanti. Trus kapan aku bisa ngungkapin jujur perasaanku ke Mama kalau nggak melalui video?” atau malah begini, “Saya takut ngomong langsung ke Mama. Takut Mama marah”

Bidang kosong inilah yang diangkat sutradara Upi untuk menyelesaikan ruang konflik antara ANAK – ORANGTUA, dan ANAK – GURU.

Cara mendidik orangtua tidak semua sama, tetapi tidak semua anak BERANI mengungkapkan isi hatinya kepada ORANGTUA!

Film My Generation mengangkat kehidupan 4 remaja dengan latar belakang menengah keatas. Namun bukan berarti remaja menengah kebawah disepelekan. Justru konflik film ini dialami oleh semua anak remaja! Harapannya, remaja yang kesulitan mengekspresikan batinnya, terwakili oleh konflik dalam film ini.

KONFLIKNYA MEMBUMI!

Konji, anak berkarakter polos dari keluarga yang religius. Orangtuanya selalu melarangnya dengan dalih agama. Begini dosa, begitu dosa.

Orly, orangtua single parents dimana Mamanya tidak mau ketinggalan gaul dari anak remaja sekarang. Dikit-dikit selfie. Bentar-bentar upload foto di medsos. Apapun yang dilakukan seperti belanja ke supermarket, lagi ke salon, dibikin status medsos. Persis gambaran orangtua jaman sekarang

Suki, musisi yang tidak disetujui orangtua. Apapun yang dilakukan dianggap orangtuanya salah dan tidak ada celah untuk dia menyampaikan isi hatinya.

Zeke, pemuda yang menjadi penyebab adiknya kecelakaan sehingga keberadaannya tidak pernah dianggap orangtuanya.

Ke 4 remaja ini bersahabat baik dan berusaha menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama. Kenakalan-kenakalan remaja yang mereka lakukan, seperti yang tampak di trailer, adalah cara mereka mencari keadilan.

Selama hampir 2 jam menyelesaikan film ini saya sangat terhibur. Terhibur mendengar celotehan remaja, lucu ketika muncul istilah yang dilontarkan secara spontan ala remaja, ada pula penyataan jujur yang membuat penonton mendelik tapi kemudian ngakak berjamaah.

Ada juga bagian sedih ketika dibalik tawa anak-anak, sebenarnya mereka memiliki masalah berat yang harus ditanggung. Masalah dengan kawan, juga masalah keluarga.

Dari sekuelnya, film My Generation lebih menggaet ke penonton remaja, minimal usia 17 tahun. Bukaan, bukan perkara adegan 17 tahun+ (baca: adegan antara laki dan perempuan) lho ya, tetapi berkali-kali Zeke ini nyetir mobil sendiri. Saya anggap usia Zeke sudah 17 tahun! Artinya mereka memerankan remaja kelas 11.

Di film ini ada sih adegan ciumannya, tetapi nggak sampai kayak makan tomat yang diputer-puter. Cuman berdekatan aja dan kamera tidak secara langsung ngeZOOM sampai detail. Untuk usia 17 tahun saya anggap aman untuk mulai mengenal edukasi sex dini. Sekali lagi MENGENAL!

Konflik orangtua dan anak gimana?

Kalau boleh bilang anak-anak remaja ini lebih bijak menanggapi masalahnya sendiri. Sedangkan orangtua tetap menganggap segala yang diperbuat anak, dimatanya itu salah. Walaupun akhirnya mereka menyadari kesalahannya.

Film ini sarat edukasi, terutama bagi remaja usia dini. Tidak melulu soal sex, ada pula sejarah dan tips memanfaatkan smartphone berikut etika bermedia sosial.

Saya senang film ini tidak banyak menonjolkan sikap anak-anak yang tidak lepas dari gadget. Bahkan lihat temannya selfie saja mereka eneg. Hanya dibagian akhir saja, itupun cuma telpon-telponan sebentar.

Waktu presscon, Bryan, Alexandra Kosasie, Lutesha, dan Arya Vasco mengaku bahwa My Generation adalah debut film perdana mereka. Tapi saya gak melihat mereka ini pemain film anyaran. Mungkin mereka youtuber atau apalah yang biasa tampil didepan kamera sehingga aktingnya natural banget remajanya. Tawa lepasnya, ekspresi kala sedih, tingkah remajanya, dan semuanya. Untuk pemain senior gak usah dibilang lagi lah gimana kualitasnya. Keduanya sama imbang dan ngeblend!

Kalau saya boleh saran, percakapan bahasa inggrisnya dikurangi. Boleh saja menampilkan bahasa inggris, tetapi cukup berikan untuk istilah tertentu saja. Obrolan biasa sehari-hari menurut saya lebih enak pakai bahasa indonesia karena setting lokasinya berada di Indonesia.

Saya tidak kapok nonton film ini, malahan saya pengen nonton lagi. SEKALI LAGI BUKAN KARENA BUZZER, Film ini sangat recommended ditonton orangtua dan anak. Dari film ini banyak ditemukan hal-hal simple dalam kehidupan sehari-hari yang hampir sering terlewatkan oleh orangtua.

Sekeluarnya saya dari studio, saya coba bertanya ke beberapa penonton, gimana filmnya? Rata-rata mereka menjawab bagus. Pun wajah mereka pulang dengan raut bahagia.

Sinopsis Film My Generation ini saya tulis secara sukarela. Tidak ada pesan sponsor sama sekali. PESAN SPONSORNYA SUDAH LEWAT. Jadi saya nulis ini karena memang filmnya sesuai dengan kondisi KIDS ZAMAN NOW yang membutuhkan keterbukaan perhatian dari orangtua dan guru. Tulisan ini saya buat atas dasar opini pribadi. Tidak setuju dengan opini saya? itu hak teman-teman! 🙂

Selamat menonton, tunggu tayang Film My Generation di bioskop kesayangan tanggal 9 November 2017 mendatang!

13 thoughts on “Sinopsis Film My Generation, Ketika Remaja Millenial Mengungkapkan Kejujuran

  1. Waw berarti yang nonton pada terkecoh ya sama trailernya? Hebat ya mba upi, apalagi pas kemaren ada school visit dan kemudian penontonnya ada anak SMA yang didampingi guru. Berarti pesannya emang ‘nyampe’ nih.

  2. Mungkin konteks anak nakal biasanya yang terlalu dikekang tak boleh mengemukan pendapat atau diarahkan kepada hobinya atau passionnya, jadi ortu selain ngasih pendidikan agama, juga harus jadi teman curhat yang nyaman bagi anak, kalau anaknya banjir perhatian dan bekal cukup tentang etika norma agama dan sosial pasti justru akan jadi anak yang ceria, banyak teman dan membanggakan ortunya

  3. Yang paling aku suka adalah film ini memberikan solusi. Itu yang ga kebaca dari trailernya.
    Iya sih, begitu aku nonton filmnya aku langsung merasa ditipu sama trailer. Aku pun mau nonton lagi kalau udah tayang. Suka banget sama kalimat-kalimat di akhir filmnya.

  4. Aku pun mengira film ini bakal memperlihatkan kenakan remaja gitu, jadi nggak terlalu berminat nontonnya, tapi ternyata responnya banyak yang bilang bagus, jadi penasaran. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *