Blogging

Pengalaman jadi Pembonceng

Satu yang paling saya syukuri dalam hidup ini adalah memiliki daya ingatan kuat terhadap kejadian dimasa lalu. Setiap kali ingat, saya tidak bisa menghindari begitu saja. Sebisa mungkin saya ulang sendiri selayaknya anggorta Reskrim melakukan jejak TKP.

Satu kejadian yang melintas di pikiran saya tiap kali melewati jalan raya Darmo adalah mengenang kejadian yang pernah saya alami di tempat ini sekitar 14 – 15 tahun silam. Ih, tua banget ya. Pokoknya saya masih baru lulus SMA dan belum punya SIM deh.

Tepatnya pas di depan Monumen Wira Surya Agung.

Sejujurnya saya baru tau nama monumen itu setelah browsing sana-sini. Maaf-maaf sebagai orang Surabaya saya gak tau sama sekali muasal monumen ini. Dan baru baca ternyata monumen ini adalah sejarah Arek-arek Suroboyo bertempur mempertahankan jembatan Wonokromo. Semoga Pahlawan yang gugur di tempat ini mendapat tempat yang layak disana. Aminn..

Pada suatu malam saya dan seorang teman bernama Fatimah, nama sebenarnya, melalui jalan ini. Saat itu sekitar jam 9 malam.

Sebagai anak muda yang atraktif, saya kerap naik motor kuenceng banget. Jaman segitu anak muda yang naik motor nggak kenceng dianggap nyalinya pas-pasan. Lhoo, orang saya bernyali tinggi, kok, masa naik motor kalem-kalem. Kalau bisa belok pun kudu gak beraturan. Pikir saya waktu itu.

Karena dianggap anak pemberani, saya dimintai tolong tetangga rumah yang hari itu melaksanakan acara ijab qabul membeli 50 biji donat Primodana untuk dibagikan kepada para tamu. Si empu gawe ini nyuruhnya dadakan. Sebagai anak yang doyan naik motor, apalagi motor pinjaman, plus dikuasakan pegang STNK sendiri, merasalah sebagai pembalap jalanan.

“Oke, mana duitnya?”

Yang nyuruh senang, yang disuruh tambah kesenangan. Kids jaman old.. 😀

Sebagai info, donat Primadona saat itu ngehits banget dijadikan sebagai oleh-oleh kondangan. Sebiji donat itu dimasukkan dalam kardus mungil. Untuk praktisnya, pegawai toko donat mengaturkan 50 biji kardus berisi donat dimasukkan kedalam 2 kresek besar ditambah 1 kresek berukuran sedang. (1 kresek besar isi 20 kardus, sisanya dimasukkan dalam kresek tanggung).

Karena bawaan banyak, Fatimah, teman saya menawarkan diri ikut. Dia juga kesenangan diajak naik motor keliling Surabaya. Apalagi sama Yuni yang nyetirnya ngebut. Begitulah menurut dia, sedang jiwa saya keGRan abis dipuji setinggi tumpukan 50 donat!

Toko Donat Primadona jauhnya gak sampai 2 kilometer dari rumah saya. Dan semestinya harus bawa SIM kalau-kalau ada operasi Polisi. Daerah Wonokromo rawan banget sama Polisi ‘dadakan’. Toh, saya nekat juga berangkat tanpa SIM.

Saya naik motor dengan membonceng 1 kresek yang besar di depan. Di boncengan saya ada Fatimah membawa 1 kresek besar dan 1 kresek tanggung berisi donat.

Menyadari bawaan banyak, kali itu saya jalan pelan-pelan. Paling banter kecepatan 40 km/jam.

Keluar dari toko roti kami jalan sambil ngobrol dan ketawa-ketiwi. Melalui jalanan Marmoyo lalu jalan Darmo, kami masih sibuk ngobrol.

Sambil nyetir saya gak menyadari apa yang tengah dirasakan Fatimah. Entah ngantuk, entah lelah, atau apa, saya gak bisa lihat orang dibelakang. Saya fokus aja melihat depan.

Tiba-tiba saja ada Bapak tukang becak menyapa saya dari samping,

“Mbak, temanmu jatuh dibelakang sana..”

Kaget, setengah tak percaya, spontan saya noleh kebelakang..

Whats! Fatimah ilang!

Lihat kearah jauhan..

Astagaaaa! Fatimah sedang duduk diatas aspal dengan kotak donat beraburan di jalan raya dengan jarak kami sejauh 50 meter!

Ditengah kaget, antara pengen tertawa tapi gak jadi (kebangetan sekali kalau tertawa, padahal aslinya pengen ngakak guling-guling). Gak habis pikir kenapa Fatimah bisa ada disana. Duduk selonjoran kaki sambil mematung dengan pose leyeh-leyeh.

Untungnya lalu lintas gak begitu padat karena malam, ditambah lagi jalanan depan monumen itu amat lebar. Di tengah jalan itu Fatimah baik-baik saja.

Bukannya kami tadi guyonan? Kenapa dia gak teriak manggil saya kalau jatuh?

Sedikit bingung, jalan yang saya lalui ini satu arah. Seandainya mutar balik takut ada Polisi lewat. Saya nekat sajalah balik kanan nyamperin Fatimah.

Pikiran saya terbelah, “Menyelamatkan donat yang tumplek, atau membantu Fatimah?”

Saya tau kalian pasti akan bilang, “selamatin Fatimah, dong!”

Masalahnya ini donat orang. Mereka butuh cepat untuk tamu. Kalau nggak segera saya selamatkan saya takut dimarahi!
Beruntung ada warga sekitar yang membopong Fatimah. Dalam keadaan terdesak saya mengumpulkan kotak-kotak donat yang masih bisa diselamatkan.

Di rumah warga sekitar, saya tanya, Fatimah kenapa? Beberapa warga mengira saya bawa motor ngebut. Untungnya kok ada saksi Bapak becak yang mengatakan saya jalan kalem-kalem. Kenyataan saya memang jalan kalem. Gak ngebut sama sekali karena diboncengan depan saya ada sekresek tumpukan donat..

Dalam kebingungan itu warga menyarankan saya pulang naik becak. Motor sementara dititipkan di rumah warga.

Lucunya, diatas becak Fatimah nggak kenapa-kenapa. Dia biasa seperti sebelumnya. Kami juga sempat ngakak menertawakan kejadian tadi. Dia juga mengaku nggak tau kenapa tiba-tiba jatuh. Dugaan saya sih dia ngantuk. Cuman gak ngaku aja..

Begitulah akhirnya, sampai tiba di rumah yang punya gawe, kami seperti tidak terjadi apa-apa. Saya heboh cerita kalau Fatimah jatuh, tanggapan mereka seolah kecelakaan biasa. Padahal esoknya ketika saya tanya kondisi Fatimah, dia bilang ada pembekuan darah di kepalanya. Saya jadi merasa bersalah kepada Fatimah dan keluarganya. Dan tau nggak gimana reaksi yang punya gawe? Biasah sajah!

Duit becak aja untuk ongkos ngantar Fatimah pulang lalu balik lagi ambil motor kami urunan sendiri. Diem-diem saya tandai tuh orang yang punya gawe, haha..

Ini salah satu pengalaman naik motor yang tak pernah terlupakan. Sisanya banyak hal-hal kocak yang pengen banget saya tulis. Masalahnya satu dan amat sangat norak, Males ngedraft! Huft! Lihat aja judulnya, gak layak naik tayang, huahaha..

5 thoughts on “Pengalaman jadi Pembonceng

  1. Ya ampuun… Aku sakno temenmu mbak. Kok iso nggeblak. Adikku dulu juga pernah jatuh pas dibonceng. Sialnya tangannya dia nyantol di sadel. Jadi mulutnya nyosrop. Untung naiknya sepeda ontel. Tapi mayan babras juga wajahnya. ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *