Parenting

Wujudkan Indonesia Merdeka Diare, Pahami pedoman Atasi Diare pada Anak!

Semua Ibu pasti pernah kebingungan mengatasi anak yang rewel karena diare. Duh, jangankan anak, orang dewasa saja kalau sakit diare gak bisa tidur semalaman! Saat diare perut rasanya melilit kayak di putar. Ibarat cucian basah, perut seperti diperas sampai kering.

Meski begitu, sesusahnya orangtua merawat anak yang terkena diare, masih banyak Ibu yang menyepelekan penyakit ini. Kayaknya diare ini penyakit yang biasaaa banget dialami manusia.

Saat anak diare, sang ibu terlihat bingung. Sesudah anaknya sembuh dari diare, Ibunya gak ada beban apa-apa. Sudah sembuh, ya sudah. Mau apalagi?

Yap! Semudah itu penanganannya!

Akan tetapi jika ditelisik secara mendalam, penyakit diare sangatlah berbahaya. Apalagi yang menderita adalah anak-anak. Penyakit diare penyembuhannya tidak semudah yang orangtua bayangkan, dimana bila anak sudah bisa tersenyum dan bermain, mereka sudah dianggap bebas dan sembuh dari penyakit diare.

Apa itu Diare?

Menurut wikipedia, Diare adalah sebuah penyakit di saat tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam.

Sebagai orang yang pernah mengalami diare, biasanya keadaan ini dibarengi dengan perut yang melilit dan keringat dingin di sekujur tubuh. Melakukan aktifitas rasanya sangat tidak nyaman karena sebentar-sebentar harus keluar masuk kamar mandi.

Itu gambaran diare yang dialami orangtua. Lalu bagaimana dengan diare yang dialami anak-anak?

Sebagai negara berkembang, penyakit diare masuk dalam daftar penyakit dengan penyebab kematian nomor 2 tertinggi di Indonesia. Sesuai data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, menyatakan bahwa 1 dari 7 anak Indonesia pernah mengalami diare dengan frekuensi 2-6 kali dalam setahun.

Tingginya angka penderita diare di Indonesia, 60% disebabkan oleh infeksi Rotavirus. Sedangkan 30% anak yang menderita diare diakibatkan oleh infeksi Rotavirus memiliki intoleransi Laktosa.

Kampanye Edukasi Indonesia Merdeka Diare

Bulan Agustus 2017, negara Indonesia merayakan Hari Jadi Kemerdekaannya yang ke 72 tahun. Semua rakyat Indonesia berbangga dan semua orang menikmati kehidupannya yang telah bebas dari penjajah negara asing. Tetapi sadarkan mereka bahwa Indonesia belum benar-benar merdeka, penjajah yang bernama Diare masih berkeliaran di negeri ini.

Demi mewujudkan negara Indonesia Merdeka Diare, saya menghadiri sebuah Kampanye Edukasi yang bertajuk Indonesia Merdeka Diare. Kampanye ini diselenggarakan oleh Nutricia Sarihusada pada tanggal 14 September 2017 berlokasi di Fairfield by Marriot Surabaya yang berada di Jl. Mayjend Sungkono no. 178, Surabaya.

Acara yang dikemas dalam bentuk gathering, dihadiri oleh puluhan media dan blogger yang dimulai dari jam 13.00 – 15.00. Beberapa narasumber hadir, yaitu:

1. Dr. Andy Darma, SpA(K) – Medical Expert
2. Nabhila Chairunnissa – Brand Manager Digestive Care Sari Husada
3. Husna Ika Putri – Public Figure Mom

Kampenye Indonesia Merdeka Diare dianggap tepat karena sarat edukasi tentang bagaimana peran seorang Ibu dalam menangani diare pada anak agar penyakit ini tidak mengidap secara berkelanjutan hingga dapat mempengaruhi tumbuh kembang mereka.

Nabhila Chairunnissa, Brand Manager Digestive Care Sari Husada, mengatakan, Nutricia Sarihusada melalui kampanye ‘Indonesia Merdeka Diare’ adalah langkah nyata komitmen perusahaan terhadap nutrisi untuk bangsa agar anak Indonesia dapat menjadi generasi maju. Kami berharap melalui kampanye edukasi ini akan membuat banyak ibu semakin mengerti penanganan tepat diare pada anak.

Fakta Tentang Diare

Dr. Andy Darma, SpA(K), saat menyampaikan materi mengatakan diare di Indonesia dianggap sebagai penyakit umum. Saking umumnya, orangtua menganggap biasa saja. Rata-rata penyakit diare diderita oleh anak usia 6 – 12 tahun.

Menurut Konsultan Gastrohepatologi Anak RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Diare yang terjadi pada anak bisa disebabkan karena infeksi dan non infeksi.

Penyebab diare dari Infeksi dapat disebabkan oleh Virus, Bakteri, Parasit, dan Jamur. Sedangkan diare yang disebabkan oleh non Infeksi diakibatkan oleh Alergi dan Intoleransi makanan.

95% penyakit diare disebabkan oleh infeksi, sedangkan pada anak-anak, diare menyerang usus disebabkan oleh Diare Rotavirus.

Diare Rotavirus merupakan penyebab utama diare kategori berat karena berakibat dehidrasi pada anak. Akan tetapi penelitian mengungkapkan, sebagian anak Indonesia yang mengalami diare rotavirus juga mengalami intoleransi laktosa.

Kata dokter yang selama memaparkan materi banyak melakukan interaksi dengan audiens, tanda diare yang disertai Intoleransi Laktosa salah satunya menyebabkan timbulnya gas di perut.

Gambaran kondisi akibat intoleransi laktosa

Pada saat diare rotavirus, terjadi kerusakan jonjot usus yang membuat produksi beberapa enzim yang berguna untuk pencernaan nutrisi, diantaranya enzim laktase, menjadi berkurang. Enzim Laktase ini gunanya untuk mencerna gula alami (laktosa) yang terdapat pada susu. Karena Laktosa tidak tercerna dan tidak dapat diserap menyebabkan diare semakin berat, kembung, dan tinja berbau asam.

Berikut ini beberapa tanda-tanda Diare yang disertai Intoleransi Laktosa:
– Diare Cair berlebihan
– Kembung
– Sering buang gas
– Sakit perut
– Kemerahan disekitar anus
– Tinja berbau asam

Resiko Diare pada anak

Banyak Ibu yang menganggap penyakit diare adalah hal biasa biasa karena merasa bisa menanganinya sendiri. Biarpun anak sering diare, selama Ibu bisa mengobatinya kenapa dibikin rumit?

Eh, tunggu dulu..

Para Ibu jangan bangga bisa menangani diare anak sendiri, jika anak sering menderita diare, patut diwaspadai, lho! Beberapa hal dibawah ini adalah resiko yang bisa dialami anak yang sering menderita diare:

1. Anak yang terserang diare memiliki resiko kekurangan gizi
2. Anak yang sering terkena diare beresiko lebih pendek 3,6 cm ketika berusia 7 tahun dibandingkan teman seumurannya
3. Anak yang sering diare beresiko memiliki iQ lebih rendah

Penanganan Diare pada anak

Tunggu dulu, saya mau ajak teman-teman mengingat lagu Aku Anak Sehat jaman dulu yang ada cuplikan lirik begini:

Bila aku diare, Ibu selalu waspada
Pertolongan oralit selalu siap sedia

Sejak dahulu hingga sekarang, oralit adalah obat yang paling cespleng menyembuhkan diare. WHO sendiri juga menyarankan minum oralit sebagai penanganan diare awal pada anak.

Jika anak diare, Ibu tidak perlu risau, yang harus dilakukan adalah menjaga asupan anak jangan sampai dehidrasi. Semua makanan boleh dikasih terutama makanan yang mengandung banyak air. Daan yang paling penting adalah ASI harus terus diberikan!

Meski penanganan diare dianggap remeh, kenyataannya, hanya 1 dari 10 ibu di Indonesia yang paham cara penanganan diare pada anak. Berikut ini hal yang harus diperhatikan ketika si kecil diare:

1. Anak yang masih mendapatkan ASI, sebaiknya teruskan memberinya ASI
2. Agar tidak dehidrasi, segera berikan larutan oralit
3. Lakukan konsultasi kepada tenaga medis
4. Jaga Kebersihan tubuh dan lingkungan si kecil
5. Jika perlu, berikan nutrisi bebas laktosa berdasarkan rekomendasi tenaga medis

Terakhir, pesan dokter Andy, Apabila anak tidak mau makan dan minum, orangtua perlu mengusahakan asupan nutrisi yang mudah diterima oleh anak. ASI dan cairan dehidrasi oral (oralit) adalah yang utama selain tambahan zinc. Selain itu asupan nutrisi yang baik dapat mempercepat pemulihan fungsi usus normal, termasuk kemampuan untuk mencerna dan menyerap makanan yang masuk, serta memberikan energi untuk proses pemulihan.

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah langkah awal terhindarnya penyakit diare anggota keluarga. Dengan berpegang pada pedoman penanganan diare, Yuk Wujudkan Indonesia Merdeka Diare!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *