Blogging

Mengadu Nasib di Jakarta? Yakin?

“Mungkin saya gak bisa lama tinggal di Jakarta, mbak. Maksimal 3 tahun saya harus kembali lagi ke Surabaya”

Sebuah curhatan kecil menyelinap diantara obrolan saya dan seorang teman di sebuah cafe kawasan Tendean, Jakarta Selatan, seminggu yang lalu.

Sebut saja namanya Budi. Ia adalah teman main saya di Surabaya yang hampir setiap malam bertemu dan ngobrol sesuka hati di warung kopi. Namun keakraban saya dan Budi otomatis terhenti sejak kantor tempatnya bekerja memintanya pindah ke Jakarta.

Dan ketika dirinya tau saya akan ‘main’ ke Jakarta, Ia langsung menghubungi saya dan mengajak ketemuan. “Pokoknya, sesibuk apapun sampean, kita harus ketemu, Mbak” pesannya melalui aplikasi messenger.

Tinggal di Jakarta, pikir saya, Budi akan sebahagia orang-orang yang mengadu nasib disana. Apalagi yang dicari? Pekerjaan sudah pasti. Penghasilan apalagi. Yang dibutuhkan Budi untuk tetap eksis disana hanyalah mencari kawan baru dan tempat tinggal untuk menetap. Oh, satu lagi, menghapal rute jalanan ibukota. Baginya itu yang terpenting.

Sebelum yakin berangkat ke Jakarta, Budi sudah bercerita banyak tentang persiapannya. Termasuk mencari Sewa Rumah Jakarta yang dekat dengan lokasi tempat kerjanya. Sengaja Ia tidak membawa serta motornya karena naik kendaraan umum dirasa lebih murah dan efektif.

Budi yang saya kenal adalah seorang yang mandiri. Ketika kemudian harus dimutasi ke Jakarta, dirinya telihat mantap dan yakin bisa menikmati kota yang kehidupannya tak pernah kunjung padam itu.

“Saya tinggal di rumah sewa, mbak. Tempatnya bersih, kamarnya lebar, lokasinya dekat dengan halte Trans Jakarta. Enak, mbak, kalau mau pergi kemana-mana tinggal naik Trans. Hemat ongkos!”

Saya bahagia mendengar ceritanya.

Ketika bertemu Budi, Ia sempat membagikan tips sukses merantau di Jakarta kepada saya, diantaranya:

1. Siap Mental

Untuk bisa eksis tinggal di Jakarta, mental harus benar-benar disiapkan. Sebisa mungkin lupakan kenikmatan hidup di kota asal. Saat pertama kali melangkahkan kaki di tanah Jakarta, saat itulah ujian mental dimulai. Usahakan lihat ke depan dan bersatulah dengan lingkungan yang baru. Jangan bangga dengan keahlian yang dimiliki, karena di Jakarta, keahlian saja belum cukup untuk menghidupi diri sendiri.

Budi mengakui sendiri keahlian yang dimilikinya selama ini ternyata gak ada apa-apanya dibandingkan dengan tuntutan kecakapan di tempat kerjanya di Jakarta. Setiap hari Ia harus berperang mengejar ketertingalannya.

Kerja di Jakarta gak bisa santai, dan yah, Jakarta adalah TEMPAT BEKERJA!

2. Berteman

Meski sudah dewasa, mencari teman baru di Jakarta tetap harus hati-hati. Cari teman itu gampang, tapi waspadalah, pastikan temanmu itu benar-benar teman. Bukan teman sebagai tanda kutip. Paham kan dengan maksud saya? Hehe..

3. Jangan Mudah Terlena

Sebagai pendatang baru di Jakarta, Budi menyadari sekali Jakarta adalah kota yang bagus untuk mencari uang. Di Jakarta, mencari uang sangatlah gampang. “Tapi ya, gitu Gampang carinya, gampang juga ngabisinnya, hehe..” akunya.

4. Sewa Rumah Jakarta sesuaikan dengan budget

Hal yang utama ketika tinggal di Jakarta adalah mencari tempat tinggal. Begitu sampai Jakarta, sebisa mungkin sudah ada tempat untuk nginap, meskipun itu sementara. Jika tidak punya saudara atau teman dekat, carilah persewaan rumah melalui internet. Saat ini sangat mudah mencari persewaan rumah sesuai budget di internet. Bisa via aplikasi maupun website.

Diakhir obrolan dengan Budi, saya sempat menanyakan kembali keputusannya pulang ke kampung halamannya. Jawabannya adalah:

“Jakarta bagi saya hanyalah tempat mengisi celengan. Setelah celengan penuh saya akan kembali dan menikmati kepulangan saya untuk menikmati kenyamanan hidup”

Mendengar kisah Budi tentang perjalanan hidupnya di Jakarta membuka kembali mata saya bahwa sebenarnya Jakarta yang penuh dengan kehidupan indah dan wah, ternyata menyimpan sejuta misteri.

Jadi, teman-teman yakin masih ingin mengadu nasib di Jakarta?

6 thoughts on “Mengadu Nasib di Jakarta? Yakin?

  1. Huuummmm kerja di Jakarta berarti kudu siap tua di jalan. Semangaatt buat yg siap dan sigap jemput rezeki
    Di ibukota 💪💪💪 kalo aku lebih demen d Sby ajaaaa

  2. Hidup di Jakarta hanya habis di jalan. Dan kudu kuat iman dan “amin” kalau sudah punya uang. Alhamdulillah suami sudah ngandang di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *