Blogging

Pengalaman ‘Ngaji Bareng Cak Nun’ di Lapangan Menganti, Gresik

Kalau mengingat kembali pengalaman ‘Ngaji Bareng Cak Nun’ di Lapangan Menganti, Gresik, saya jadi ingin terus mengikuti kegiatan-kegiatan Cak Nun bersama Kiai Kanjeng nya.

Itu adalah pengalaman pertama saya mendengarkan ‘pengajiannya’ Cak Nun secara langsung. Di Lapangan desa yang luas, semua orang membaur menjadi satu. Tua, Muda, anak-anak. Ustadz, ustadzah hingga pemuda gaul. Dari yang khusu’ hingga ‘pembelanja pribadi’ rela menutupi setiap celah rumput sebagai alas duduk.

Ah, beginikah rasanya mendengarkan pengajian Cak Nun di lapangan?

Saya pikir hanya orang-orang yang ingin nonton bioskop misbar (grimis bubar) saja yang mau datang ke lapangan beramai-ramai. Atau para keluarga yang sedang mencari hiburan di pasar malam murah. Tapi acara Ngaji bareng Cak Nun ini justru meluapkan energi positif, bahwa diskusi tentang negeri itu dianggap suatu keperluan.

Saya mengaku terlambat mengenal Cak Nun. Saya baru merasa mengidolakan beliau setelah diam-diam mencuri dengar Ngaji Bareng Cak Nun via YouTube yang saban Shubuh diputar Mas Rinaldi. Ketika Paket Kuota Internet luber, streaming Cak Nun jadi satu-satunya hiburan pagi.

**

“Ada Cak Nun di Lapangan Menganti nanti malam. Mau datang?” satu pesan singkat Mas Rinaldi saya terima
“Mau” tangan saya mengetik cepat.

Saya gak paham dorongan apa yang menginginkan saya tiba-tiba ingin datang ke acaranya Cak Nun. Lokasinya tidak dekat, tapi saya iyakan. Berkali-kali saya sepelekan informasi pengajian Cak Nun sekalipun lokasinya 2 kilometer dari rumah saya.

Apakah itu sebuah hidayah atau mungkin otak saya lagi waras.

Semua orang tau siapa Cak Nun. Seorang Budayawan. Namun dimata saya, Cak Nun adalah seorang yang memiliki pemahaman terhadap sesuatu yang selama ini keliru saya pahami.

Maksud saya begini, cara pikir Cak Nun dalam memahami sesuatu berbeda dari cara pandang para pemaham. Saya katakan paham karena setiap menyampaikan sesuatu, Cak Nun berusaha menyampaikan dengan cara yang sesuai dengan pemahamannya. Tidak seperti pengajian umum yang seringnya saya dengar sebagai penghafal.

Meski berkali-kali dikatakan Cak Nun bukan Kiai, acara Cak Nun juga bukan pengajian, namun semua yang dikatakannya mengandung nilai hikmah.

**
Wiridan jamaah sholat Isya di Musholla masih berlangsung ketika saya bersiap memakai kerudung. Celana jins dan atasan batik panjang menjadi pakaian saya malam itu. Ah, saya sudah lupa bagaimana etika pakaian mengaji yang baik. Semoga syarat menutupi aurat sudah cukup sopan dimata jamaah yang lain.

Jalanan Menganti sudah padat saat satu jam kemudian saya melewati Pasar Menganti. Boncengan motor setelan sarung, baju koko putih dan kopyah khas Maiyah lalu lalang berjalan kearah yang sama. Dimana-mana halaman rumah penduduk disulap jadi lahan parkir. Begitu tiba di lapangan, saya bersyukur mendapat tempat duduk di baris belakang.

Acara dimulai barengan saat saya menempelkan bokong di alas plastik seharga 3000 rupiah yang saya beli ke penjaja. Tidak langsung Cak Nun, sambutan didahului dengan penyampaian pesan dari Kepala Desa, Kapolsek, dan pejabat setempat dilanjutkan dengan iringan sholawat. Dengan jarak ratusan meter, otomatis hanya suaranya saja yang bisa saya nikmati.

Pengajian sederhana yang tidak kebanyakan syarat. Gangguan-gangguan kecil dari tawaran penjual kopi, kacang, akua, hingga pulsa murah mendominasi barisan paling buntut. Ingin saya protes, tapi kenapa diprotes kalau Cak Nun saja tidak marah suaranya diimbangi oleh warga yang mengambil kesempatan mencari rezeki?

Meski banyak gangguan, malam itu saya tetap bertahan hingga acara selesai. Banyak hikmah-hikmah baru yang saya pelajari dari diskusi Cak Nun, diantaranya:

Sesuatu yang indah yang ada ditubuh harus ditutupi. Islam itu indah, makanya Islam harus ditutupi. Nggak usah bilang-bilang dan menunjuk-nunjukkan keIslaman. Tutupilah Islam dengan Akhlak dan kesantunan

Sholat itu penting. Jangan sholawat aja tapi gak melaksanakan sholat. Karena dalam sholat ada sholawat

Tingkatan orang baik dihadapan orang jahat
1. Dijahati orang, dibaiki
2. Dijahati orang, dimaafkan
3. Dijahati orang dibalas dengan kejahatan

Salaman dengan Cak Nun

Saya tidak menyangka kalau malam itu ada sesi halal bi halal dengan bersalam-salaman bersama Cak Nun dan tokoh yang hadir.

Atau memang setiap selesai acara ada sesi salam-salaman? Saya tidak tau

Tiba-tiba saja semua maju kedepan dan membentuk barisan super panjang. Hingga kemudian saya mengambil barisan yang sangat jauh.

Tanpa saya duga, ada seorang laki-laki mendekati saya, “Mbak maju saja. Ayo saya antarkan kedepan. Perempuan nggak usah ikut antri”

Saya kaget. Ya Allah.. pasrah itu enak banget. Diantara kepasrahan dikasih kemudahan.

Ketika disana orang masih antri panjang, saya dibukakan jalan (pagar betis membelah diri) mempersilakan saya maju ke hadapan Cak Nun.

Sesampainya dirumah, ada 1 pesan WA dari teman yang tertulis, “Cieeee, iso salaman karo Cak Nun, Rek..”
Dan saya terhenyak!

Cow, dasar kamuu……!
Rupanya ada teman yang ikut Ngaji Bareng Cak Nun juga 😀

7 thoughts on “Pengalaman ‘Ngaji Bareng Cak Nun’ di Lapangan Menganti, Gresik

  1. Pengajian cak Nun pernah di dekar rumahku, dekat bgt. Mau datang, tp kok ya kasihan dua krucil. Sampai jam 2 malam, acaranya belom selesai ketika itu. Sampe semalam itukah mbak disana kemarin?

  2. “Karena dalam sholat ada sholawat..”
    wow banget emang, buatku … kadang butuh berkali2 mencermati untuk bisa paham makna yg tersirat dari wejangan2 Cak Nun ini.

    Daleeem banget!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *