Traffic Light penyebrangan

16 comments 1301 views

Selain jembatan penyebrangan kota Surabaya juga memiliki traffic light penyebrangan khusus bagi pejalan kaki dan sepeda ontel.

Traffic Light penyebrangan ini sangat unik sebab orang yang ingin menyebrang tak perlu lagi melambaikan tangan kepada pengendara mobil dan motor sebagai tanda minta jalan, tetapi mereka cukup menekan tombol di tiang kemudian tanpa menunggu waktu lama akan ada aba-aba lampu berwarna merah. Aba-aba ini biasanya di tandai dengan suara sangat keras yang bunyinya seperti minta perhatian. “Didid… didid.. didid….” ketika ada bunyi itu para penyebrang di persilakan untuk menyebrang.

Inilah saatnya pejalan kaki di anggap bak raja jalanan. Tanpa harus di burui, tanpa rasa takut di tabrak. Melenggang santai saja seperti jalan itu milik sendiri. Mau nyebrang ramai-ramai, mau sendirian saja juga boleh. Tetapi biasanya mereka nunggu sampai ada temannya dulu. Baru kalau sudah di tunggu tapi gak dapat teman juga dia boleh menyebrang sendiri.

Di banding jembatan penyebrangan, lampu merah penyebrangan ini lebih efektif dan cepat ketimbang harus bercapek-capek naik ke jembatan lebih dulu.

Ada cerita menarik mengenai lampu merah ini.

Beberapa hari lalu ketika Kak Julie sedang di Surabaya kami janjian ketemuan. Saya pun menjemputnya di hotel kemudian naik Taksi bersama-sama ke rumah Pakde untuk silaturrahmi.  Kebetulan letak hotelnya tepat di depan Gedung DPRD Surabaya, di sebelahnya Zangrandi dan jalan itu adalah kawasan padat lalu lintas. Apalagi jalurnya hanya untuk satu arah saja.

Taksi kami panggil. Namun tak satu pun yang berhenti. Mungkin karena posisi kami berada di kanan jalan, sedangkan Taksi berjalan di bagian kiri tepat di depan Gedung DPRD. Begitu pula dengan Taksi yang sedang ngetem di depan DPRD. Walaupun kami sudah melambaikan tangan memanggil mereka namun tak ada satupun dari mereka yang tertarik mendekati kami. Kesannya mereka tak butuh penumpang. Jalan satu-satunya ialah kami harus nyamperin mereka. Dan tentu saja kami harus menyebrang ke sana.

“Kek mana nyebrangnya?” tanya Kak Julie.

“Kita pakai lampu merah ini, Kak” kata saya. Sedikit grogi sebab saya jarang menggunakan fasilitas ini. Gimana cara nekan tombolnya. Dan tombol mana yang harus di tekan. Letaknya saja saya belum tau..

Saya memutari tiangnya sambil mencari letak tombol itu. Ketemu. Lalu saya pencet tombolnya.

“Kok mobilnya gak berhenti, Dek?” tanya Kak Julie lagi setelah menunggu beberapa saat.

“Masih harus nunggu merah dulu Kak, baru mereka berhenti” kata saya. Dalam hati saya sendiri bingung, kenapa lampunya gak berubah juga.

Untung lah ada satu orang yag bergabung bersama kami. Dia pun lantas menekan tombol itu sekali lagi. Masih sama, lampunya belum berubah juga.

Melihat kebingungan ini di depan sana, di lampu merah depan Gedung sana ada Pak Becak yang mambantu menekan tombol dari sana. Tanpa menunggu lama lampu pun berubah merah. Dan semua mobil berhenti. Oalah, mungkin tombol di bagian saya gak berfungsi makanya gak ngefek sama lampunya.

Semua kendaraan berhenti, saya dan Kak Julie pun melenggang nyebrang.

“Dek, beneran mereka berhenti?”

“Iya, tenang saja gak mungkin mereka nabrak kita. Kalau sampai ada yang berani nabrak merekalah yang salah” kata saya sok hehe..

“Ih, keren ya Surabaya. Gak percaya aku ada beginian. Katrok kali aku ya hahaha….”

Dalam hati saya bilang “I.. iya.. kita sama-sama katroknya Kak haha..”

Dan memang setopan penyebrangan ini semakin di minati warga Surabaya. Buktinya semakin jarang ada orang yang menyebrang sembarangan. Imbasnya jembatan penyebrangan yang makin tak laku hehe..

Adakah traffic light penyebrangan di kotamu teman?

author
Author: 
loading...
  1. author

    julie3 years ago

    ampoon ternyata dia pun katrok juga kalok gitu adalah kawan awak yang katrok wkwkwkwk

    ini baru aku liat di surabaya dek kalo di kota lain entah juga ya adanya di jogja pake satpam wkwkwkwk

    Reply
  2. author

    Una3 years ago

    Hihihi banyak di sini itu…
    Kalau di daerah Sudirman sih tertib, bener-bener berhenti mobilnya. Kalau di jalan besar dekat rumahku, jelas-jelas merah tetep jalaaan jadi yang nyeberang susah. Kalau udah gitu, aku misuh misuh doang wkwkwk

    Reply
  3. author

    Niken Kusumowardhani3 years ago

    Jelas ada doong…. Jakarta gitu loh… ^_^
    Tapi belum pernah menggunakannya. Soalnya belum pernah ada keperluan menyebrang di sana. Kapan-kapan disengajain aah buat nyoba lampu merah penyebrangan.

    Reply
  4. author

    Ika Koentjoro3 years ago

    Di kotaku belum ada, maklum kota kecil. Jalanan belum seribet di kota-kota besar

    Reply
  5. author

    Hanna HM Zwan3 years ago

    uwah,serulah ya..bener2 raja kita ya mbk hahaha….wah jadi penasaran bgt pengen nyoba ^^

    Reply
  6. author

    nh183 years ago

    Ada …
    Tapi sayangnya suka dimaenin anak-anak tanggung …
    mobil berhenti … tapi tak ada yang nyebrang …

    hehehe

    Salam saya

    Reply
  7. author

    Imam Sujaswanto3 years ago

    Di Jember saya jarang sekali menemukan yang seperti itu Mbk.

    Setahu saya di Jember ada satu yaitu tepat di depan sebuah Super Market Gede disini.

    Memang sangat memudahkan, namun kadang ada juga yang bandel gak mau berhenti.

    Megeli mereka itu.

    Apa karena derajat kita tidak sama.

    Gak taulah. Kisahnya oke kok.

    Terimakasih ya Mbk.

    Reply
  8. author

    Aryo Seno3 years ago

    bermanfaat banget sih kalo gak ada anak yang suka iseng mencetin.
    kalo di wonosobo sendiri belum ada terobosan kaya gini

    Reply
  9. author

    Afrianti3 years ago

    waaahhhhh…di Bekasi ada gak yach?… kok aku belum perah nemuin yang seperti itu…

    Reply
  10. author

    Lidya3 years ago

    di beasi gak ada kayanya tapi di jakarta ada

    Reply
  11. author

    Idah Ceris3 years ago

    Atau sebelah kanan-kiri harus sama2 dipencet kali, Mba. Hohohoho
    Jangan tanya di Banjar ada atau tidak, ya. Karena tidak adaaaaaaaa.. . :mrgreen:

    Reply
  12. author

    keke naima3 years ago

    bagus, sih. Cuma suka ada aja yg usil 🙂

    Reply
  13. author

    bintangtimur3 years ago

    Di Bandung kayaknya belum ada Yun, kalo di jakarta udah ada di beberapa tempat.
    Tapi tetep nyebrangnya harus buru-buru lo ya…yang di kendaraan suka gemes soalnya kalo ada yang nyebrang sambil leyeh-leyeh…hehehehe 😛

    Reply
  14. author

    bintangtimur3 years ago

    Julie tidur di hotel yang itu ya?
    Ahaaa…jadi kangen dengan pecel yang ada di ketabang kali itu, Yuni…deket kaaan?
    😉

    Reply
  15. author

    vido2 years ago

    Di Tulungagung ada.. Meskipun kota ku kota kecil tapi udah ada beberapa lampu penyebrangan disini..
    Memudahkan bgt bagi pejalan kaki yg mau nyebrang

    Reply
  16. author

    nio1 year ago

    apakaah ada jurnal tentang lampu penyebrangan ini,baik itu english atau bahasa?

    Reply

Leave a Reply