Sinergi Netizen bersama Polda Jatim, “Saya dapat apa?”

Sinergi Netizen bersama Polda Jatim, “Saya dapat apa?”

Tak sedikit yang melontarkan pertanyaan seperti itu ketika saya membuka peluang mempertemukan netizen bersama Polisi. Kalimat tanya terdiri 3 kata, tapi untuk menjawabnya saya membutuhkan energi dan pemahaman yang berat. *ngunyah roti kukus bantat dulu* 😀

Kalau ditanya begitu, saya jawab saja, “Kamu mintanya apa?”

Polisi

**

Polisi.
Apa sih reaksi kita mendengar kata Polisi?
Duit, tilang, tangkap? Atau Ganteng?
Baru-baru ini aja rame embel-embel Polisi wangi haha.. *ehem*

Oke, persepsi orang terhadap Polisi itu masing-masing. Ada yang negatif, ada pula yang positif. Banyakan negatif nya deh ya huahaha.. pengakuan jujur, lho..

Baiklah, begini..

Saya bukan Polisi. Semua orang tau itu. Tapi kenapa akhir-akhir ini saya sering ‘berurusan’ dengan Polisi, itu semua saya lakukan karena saya ingin mencari tau letak kerenggangan antara Polisi dan masyarakat. Di dunia ini setiap permasalahan tak mungkin tidak ada yang diatasi. Kalau kita mau mencari tau sebuah kekeliruan, pasti ada jalan mendapatkan jawabannya. Begitu juga saya, semakin saya dibuat penasaran, jiwa kepo saya semakin meng –kuadrat.

Jujur saja, selama hidup saya pernah dikecewakan dengan Polisi. Bahkan pada masa remaja dulu saya pernah misuhi Polisi hanya karena lupa menyalakan lampu motor ketika lewat di depan Pos Polisi pertigaan Rungkut Industri, petang menjelang maghrib. Waktu itu peraturan yang berlaku motor wajib menyalakan lampu malam hari. Namanya orang lupa, apalagi hari masih belum terlalu gelap, saya tak merasa bersalah. Saya bahkan tak mau tanda tangan surat tilang. Ujungnya sih tetap, STNK di tahan, dan saya bawa pulang surat tilang TANPA tanda tangan.

Banyak yang bilang Polisi yang jaga di Pos pertigaan Rungkut Industri hobi mencari kesalahan pengendara. Saat itu saking marahnya, saya sempat melontarkan bahasa Suroboyo di depan Pak Polisi. “Janc*k!” dengan pengucapan yang mantab, terutama di bagian 3 huruf terakhir 😀 Teman saya sampai keder. Sejak itu, sampai sekarang juga masih, saya males lewat pertigaan Rungkut hehe..

Hingga suatu ketika saya dipertemukan oleh seorang Bunda yang baik hati dengan Pimpinan Kepolisian. Bukan lagi taraf Kasat atau Kabid, tapi langsung Kapolres dan Kapolda! Saya pikir inilah balasan kesabaran saya menunggu sebuah jawaban. Di pertemuan itu saya gunakan jurus aji mumpung. Mumpung ada Polisi yang mau mendengar keluh kesah, dan menampung kekecewaan, saya utarakan semua pengalaman berhadapan dengan Polisi. Pokoknya, apapun yang berhubungan dengan kinerja Kepolisian, saya sampaikan. Pengalaman baik dan pengalaman buruk, saya utarakan. Selama 5 jam saya ‘ditahan’ di warung kopi. Hingga saya lelah, dan hingga saya kehabisan pertanyaan, Bapak-bapak pimpinan Polisi itu masih mencecar, “Mau tanya apalagi?”
Bagaimana saya nggak modyar?! 😀

Selepas pertemuan itu terbitlah sebuah postingan berjudul 5 Jam bersama Polisi

Tulisan yang saya buat itu murni dari saya sendiri. Bukan buzzer –in Polisi, juga bukan membantu pencitraan institusi Kepolisian. Nyatanya saya gak dapat bayaran dari Polisi, kok.. huehue.. saya nulis, ya nulis aja sesuai pengalaman.

Ketika berbincang dengan Polisi saya sama sekali tidak menganggap beliau pejabat, karena beliau juga telah melepas seragam coklatnya. Itu artinya kami sama-sama rakyat biasa. Cukup adil, kan? Kami juga ngobrol ala cangkruk’an di warung kopi. Suguhannya sederhana, es teh dan gorengan. Sesuai inti pertemuan kami, cangkruk bareng Polisi.

Saya menulis artikel itu karena melihat itikad Kepolisian Polda Jatim untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Bukan karena saya blogger lantas Pak Kapolda minta saya nulis yang baik-baik, sama sekali tidak. Kalau Pak Kapolda gak punya itikad baik, beliau pasti gak ‘ngreken’ saya. Jauh-jauh datang hanya disambati.

Sebaliknya, Bapak-bapak pimpinan Polisi itu juga menerima saya dengan sangat baik. Apalah saya ini.., hanya satu orang sipil dari sekian juta orang sipil yang pernah dikecewakan aparat baju coklat.

Pertanyaannya, setelah bertemu Kapolda dan Kapolres, saya dapat apa?

Yang jelas saya dapat kepuasan. Kepuasan karena pimpinan pengayom masyarakat mau turun kebawah mendengar langsung keluhan masyarakat. Saat-saat begini, nominal tak ada artinya..

Usai pertemuan itu Bapak Kapolda beserta jajaran membuka jalan kepada siapa saja yang ingin mengenal dekat dengan Kepolisian. Salah satu caranya adalah mengundang perwakilan netizen di Jawa Timur menyalurkan aspirasinya. Gak mungkin juga Kapolda mengundang seluruh masyarakat Jawa Timur di satu tempat. Bisa-bisa warung kopinya horog 😀

Kalau boleh saya utarakan disini, sinergi netizen bersama Polda Jatim sebenarnya bukan acaranya Polda. Tetapi murni acara masyarakat. Acara netizen. Acara yang diniati silaturrahmi antara Kepolisan Daerah dan masyarakat di Jawa Timur. Tidak ada kepentingan lain disini, selain untuk mengubah image Polisi ke arah yang positif. Ini peluang buat para netizen mengenal Polisi -nya secara dekat, karena Pak Anton Setiadji, sebagai Kapolda Jatim sedang membuka jalan selebar-lebarnya kepada netizen. Bahkan demi netizen pula, saat kunjungan kerja di daerah, beliau mengundang dan menanti kehadiran netizen.

Kunjungan Kapolda ke daerah, saya disuruh ngapain?
Kopdar lah.. ngobrol-ngobrol sambil makan. Selfie, foto bareng, upload sosmed. Wes, wajarnya kita ketemu teman -lah..

Sinergi Netizen bersama Polda Jatim agar tidak ada lagi sekat antara keduanya. Mereka sama-sama berjalan dan bergandengan tangan. Percaya tidak percaya, sinergi yang baik ini baru pertama terjadi di Jawa Timur.

Jadi, masih ada yang bertanya, Sinergi Netizen bersama Polda Jatim, “Saya dapat apa?”

author
Author: 
loading...