Menyiasati Lampu Mati

Bagaimana sih menyiasati lampu mati?

Akhir-akhir ini listrik PLN sering mati. Tak tanggung-tanggung matinya di atas jam 10 malam! Paling sebal kalau mati dini hari, di waktu orang sedang nyenyak tidur.

Ada yang suka tidur gelap-gelapan?
Saya tidak!
Itulah masalahnya..

Dibilang Phobia gelap, saya tidak mengidap penyakit itu. Tapi apa, yaa.. saya paling tidak bisa kalau tiba-tiba berada di kegelapan. Apakah keadaan itu bisa disebut Phobia?

Tidak ada lampu, tidak ada cahaya sama sekali, buat saya sama dengan penyiksaan. Saya bisa berada di tempat gelap, di gua, di sebuah kamar, di gudang, asalkan tidak secara tiba-tiba. Saya akan siap jika dikasih tau lebih dulu. Jangan asik-asik tidur, pas bangun tiba-tiba hitam semua. Sopo gak kaget, Rek?!

Dan saya salut dengan kesantaian Ibu saya, yang kalau lampu mati malam-malam, segera bangun lalu mencari lilin dan menaruhnya di beberapa tempat.

Kalau saya, jangankan bangun, lihat keadaan sekitar berwarna hitam, hal pertama yang saya lakukan adalah teriaak!! Persis anak kecil..

Bukan soal takut dan tidak takut, tapi terperangkap di kegelapan dengan tiba-tiba itu rasanya udara berhenti mengalir. Hidung jadi sulit bernafas. Sumpeekk lah pokoknya.. Kecuali, ada sinar dikiit walau dari butir-butir tasbih atau sorotan lampu apapun! Itu akan membantu meski ada cahaya yang hanya seberkas. Terasa lebih menenangkan.

Untuk menjaga lampu mati yang tiba-tiba, maka saya sedia senter di sebelah bantal. Kalau nggak senter, ya HP. Buat surivival jika mati lampu, saya tinggal tekan tombol ON/OFF.

Tapi sekarang, kendala listrik mati sudah bisa saya atasi. Saya tidak lagi menyimpan senter atau HP di dekat bantal. Mau tau rahasianyaa?

Adalah dengan menggunakan Power Bank dan Lampu Baca USB ! Kedua alat ini sangat membantu saya. Kalau tiba-tiba gelap saya gak bingung lagi grabah-grabah cari lilin dan korek api hihi..

lampu USB

Ide jenius ini saya dapatkan ketika arisan PKK RT. Ada salah satu Ibu membawa power bank dan lampu USB. Saya heran, ngapain arisan bawa-bawa lampu segala. Setelah dijelaskan ternyata kedua alat ini bisa menyiasati lampu mati. Tinggal colok USBnya, nyala deh lampunya..

Ah, kenapa tidak terpikir dari duluu, siih..

Coba deh ya.. Kalau lampu mati nyari korek kayak nyari jodoh. Lilin udah di tangan, koreknya yang raib entah kemana.
Mau nyalain lampu oblek, minyak tanah mahal. Susah pula cari penjual minyak tanah. Jaman udah maju, teknologi semua ada, manfaatin ajaa. Iyo, toh? 😀

Dan gara-gara Ibu ini suasana arisan seketika berubah seperti pasar Krempyeng. Ada lapak dadakan dan diam-diam pabrik power bank dan Lampu USB di untungkan dengan promosi gratis si Ibu ini hehe.. andai Ibu ini blogger mungkin sudah kayak ngerjakan job review, deh..

Sambil menerangkan fungsinya satu persatu, Ibu ini juga sambil menyalakan lampu LEDnya. Tentu saja dengan mencolok ke power bank yang dibawanya. Bagi yang biasa memegang power bank mungkin hal ini adalah biasa. Tapi bagi Ibu-Ibu lain yang tidak terbiasa dengan gadget atau terobosan teknologi, penemuan ini sungguh luar biasa.

Ditengah keasyikan lihat demo lampu, ada yang bilang gini, “Asik, ya bisa dipakai buat nyari tikus mati..”

Hahaha… cerdas!!

9 thoughts on “Menyiasati Lampu Mati

  1. Keren ya mbak 😉 Kalau saya tempo hari lihat senternya teman yang terbuat dari botol bekas deodorant 😀 Unik dan simple dibawa, tapi ya itu tergantung sama baterenya. Hehehehe

  2. Hihihi… dan penemuan ini sudah pernah saya coba.. sayang nyala lampunya ga lama… powerbanknya lupa blm dicharge.. *nyari colokan cm using doang yang saat itu.. -abaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *