Women Interest

Buka mata buka telinga

Selain suka mengamati penampilan orang saya itu juga suka sekali mendengarkan pembicaraan orang. Hmm, maksud saya bukan mau menguping atau apa tapi saya hanya ingin menilai sikap dan karakter orang yang berada didekat saya.

10 Tahun lalu saat saya baru bekerja disebuah toko accesories computer yang menjual beraneka CD Blank, Mouse dan perlengkapan komputer lainnya saya pernah mengalami kejadian yang berhubungan dengan kebiasaan saya mendengar percakapan orang.

Sebagai orang baru yang masih harus menghapalkan harga dan produk yang dijual di toko, saya lebih bayak melihat dan mendengarkan rekan senior saya ketika melayani pembeli. Namun tidak menutup kemungkinan saya ikut membantu melayani apabila situasi toko dalam keadaan rame walau saya harus sering-sering bertanya kepada teman senior mengenai harga dan spesifikasi barang.

Sambil mendengarkan biasanya saya kerap memperhatikan orang dari segi penampilannya, gayanya, sorot matanya, dan juga cara bicaranya.

Suatu hari datanglah seorang laki-laki ke toko. Pada saat itu suasana Mall tempat saya bekerja dalam keadaan sepi karena bertepatan dengan sholat Jumat. Saat laki-laki itu melihat-lihat merk CD Blank, teman senior saya menghampirinya dan bermaksud melayani. Dan lagi-lagi saya hanya kebagian memperhatikan sikap dan gaya bicaranya. Saat itu entah mengapa saya merasa ada yang aneh dengan sorot matanya. Setiap saya tatap matanya laki-laki itu seperti orang yang salah tingkah. Karena tidak ingin merusak transaksi akhirnya saya memilih untuk mengalihkan pandangan. Namun bukan berarti telinga saya ikut beralih.

“Mbak saya beli CD Blank 1” Setelah memilih-milih sekian lama akhirnya lelaki itu memutuskan membeli.

“ 1 apa, Pak? 1 Roll apa 1 keping?”  Tanya senior saya.

“eh.. 1, ya 1 aja, 1.. 1 biji” jawab laki-laki itu dengan nada bingung. Sambil menjuali teman saya menggerutu pelan. Saya lirik teman saya itu dan dia membalas lirika saya. lirikannya seperti mengatakan raut muka sebal. Saya menyadari sedari tadi laki-laki itu memang terlalu banyak tanya. Semua merk dia tanya harganya, tapi-ujung-ujungnya hanya membeli 1 keping CD yang harganya Rp. 2.500,-!

Setelah menerima bungkusan berisi CD, laki-laki itu menyerahkan uang Rp. 100.000-an kepada teman saya. Karena dianggap kembaliannya terlalu banyak teman saya minta dibayar dengan uang pas saja. Tapi oleh laki-laki itu dijawab tidak ada. Mau tak mau teman saya memberi juga kembalian sebanyak Rp. 97.500,-.

Secara tiba-tiba laki-laki itu mengatakan bahwa dia memiliki uang Rp. 2.500,- dan meminta kembali uang Rp. 100.000 nya dikembalikan lagi kepadanya.

Setelah transaksi usai dan laki-laki itu sudah pergi, barulah saya berani angkat bicara.

“Mbak, tadi harga CD Blank nya berapa?”

“Rp. 2.500,-“

“Trus Mbak ngasih uang berapa?”

“Seratus ribuan”

“Jadi kembaliannya, berapa”

“Rp. 97.500,-“

“Sudah Mbak kasih kembaliannya sama dia?”

“Sudah”

“Trus kok tadi dia ngasih duit lagi Rp. 2.500,-?”

“Iya, dia bilang ada uang pas”

“Trus yang uang seratus ribuannya dia, mbak kasihkan lagi?”

“Iya, kan dia sudah bayar Rp. 2.500,-”

“Lalu kembaliannya Mbak yang Rp. 97.500,-, gimana?”

Teman saya diam. Rupanya dia baru menyadari ada kesalahan transaksi. Lalu kami mencoba mereka ulang kembali kejadiannya. Untuk memastikan saya minta teman saya menghitung semua uang yang ada dilaci. Dan ternyata benar uang dilaci tidak sesuai jumlahnya, kurang Rp. 97.500.

Seketika dia berlari mengejar laki-laki tadi. Sayangnya laki-laki itu sudah menghilang.

Usut punya usut ternyata laki-laki itu memang penipu. Dia menggunakan modus dengan cara halus untuk mempengaruhi korbannya. Dan bukan toko kami saja yang menjadi korban penipuannya, toko-toko tetangga juga ada beberapa yang telah tertipu olehnya.

25 thoughts on “Buka mata buka telinga

  1. Sudah sering, ya mba yg kayak gitu.
    di kantin tempatku kerja jg pernah gitu, waktu kantin lg rame2nya dpt pelanggan dr luar, dpt pesanan nasgor beberapa bungkus, modusnya seperti itu.
    beli nasgor tp minta kembalian dulu. alhasil kantin rugi, sekitar 30ribuan lah, wlopun ga banyak tp tetep aja ngenes rasanya.

    1. Namanya usaha Mas, klo nipu karyawan kan resikonya kecil. Beda klo nipu Bos, resikonya besar lawannya pengacara 😀

    1. Semoga Mbak..
      Entahlah sekarang dia dimana, yang jelas saya masih ingat wajah orangnya. Tapi mau nagih gimana ya? gak ada bukti sih 🙁

    1. Bisa saja mbak, Sebetulnya yang bikin ruwet kan kembalian dikasih kembalian lagi dengan alasan gak ada uang kecil 🙂

  2. Btw, kemarin toko mbakku juga hampir ketipu, modusnya ambil mukena dulu karena mengaku teman mbakku, trus dengan mantap menjanjikan orderan baju seragam gamis 12 potong seharga Rp 175000. tak lupa memberi kartu nama. TErnyata ada beberapa orang yg juga mencari pemilik si alamat palsu itu. beruntung deh, cukup hati2 dengan tidak melepas mukena sembarangan demi order seragam gamisnya,

  3. Mba, aku baru ngeh kalau blognya mba yuni udah ngeDOT. 😀

    Buka Mata, Buka Telinga dan Buka Hati.
    Kalau temannya tetap membuka hati (sabar), kayaknya bisa fokus tuh. 😀

    Pembeli adalah raja, tapi rajanya koq gitu ya?
    Gimana rakyatnya nanti. 😀

    MAkasih sudah berbagi pengalaman, Mba. Aku kudu waspada juga nih. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *