Semalam di Kalisat

12 comments 2157 views

2015-12-28_07-15-01

Keputusan tidak keliru ketika saya memilih turun di Stasiun Kalisat, Kabupaten Jember sisi Utara, ketika berangkat ke Banyuwangi. Bila perjalanan saya lanjutkan hingga Stasiun Banyuwangi Baru, waktu yang harus saya tempuh sekitar 4 jam lagi. Masih setengah jalan.

Tiba di Stasiun Kalisat, Mas Hakim atau Masbro, dan Mbak Hana alias Prit, sudah menunggu di depan pagar pintu keluar. Tak menunggu lama saya dan Mas Rinaldy langsung menemui pasangan yang menikah pada Setelah Bulan Sebelas.

Masbro Hakim dan Mbak Prit adalah pasangan sejoli yang berprofesi sebagai penulis. Masbro lebih intens ke sejarah, sedangkan Mbak Prit menyukai bidang sastra. Dua hal berbeda namun saling menguatkan. Sedangkan Saya dan mereka diperkenalkan oleh sebuah kolom komentar di dunia maya. Sesederhana itu..

Di awal grup Facebook Warung Blogger berdiri, kami kerap berbalas komentar. Warung Blogger menjadi warung yang kopi dan gorengannya selalu laris. Hampir tiap hari aneka gorengan, kopi hitam, dan wedang hangat ludes diserbu blogger.

2015-12-28_08-30-11

“Dari Stasiun Kalisat ke rumah jalan kaki ajaa, dekat, kok..” kata Mbak Prit melalui WhatsApp.

Saya sempat berpikiri buruk, “Ah, masa sih dekat. Dekatnya orang Surabaya dan orang Jember kadangkala tak sesuai kesepakatan”. Bukan hanya ucapan orang Jember saja, di Jombang pun saya pernah kena jebakan seperti ini. Ketika bertanya salah satu lokasi kepada seorang warga, bilangnya dekat, nyatanya setelah di lalui jaraknya 2 kilo! Ahaii!!.. haha

Lalu dekatnya orang Surabaya bagaimana? Jangan tanyakan itu, kadang – kadang orang Surabaya gak punya pendirian tetap *nunjuk diri sendiri* 😀

Namun kali ini saya lebih percaya ucapan Mbak Prit. Lebih tepatnya pasrah hehe.. bila harus jalan kaki pun saya akan lakoni asal selalu bersama – sama. Uhuk!

Matahari yang separuh tertutup awan gelap menyapa kami di Kalisat. Keluar dari pintu stasiun, Masbro dan Mbak Prit langsung mengajak saya naik Dokar.

Ah, kalian tau lah Dokar.. gak usah saya jelaskan lagi, ya.. 😀

2015-12-28_08-30-30

Saya sempat protes ke mereka, “Kok naik Dokar? Katanya dekat!”

Bukan jawaban memuaskan yang saya terima, tapi paksaan agar segera naik ke atas Dokar. “Saya ajak keliling – keliling Kalisat dulu, Mbak” ujar Mbak Prit.

Mulai agak curiga saya, jangan – jangan yang dibilang dekat sebenarnya adalah jauh hihi.. Dugaan saya sedikit ada benarnya, sebab ketika sudah di atas Dokar, kuda yang harusnya berlari, malah mogok di tengah jalan. Entah dimana kelirunya tiba – tiba Kuda nya ngambek. Mungkin karena penumpang nya tidak ikhlas haha..

2015-12-28_07-15-50

Kalisat merupakan wilayah Kecamatan di Jember yang memiliki pemandangan indah. Di atas Dokar Mbak Prit banyak bercerita pada saya. Diantara keunikan yang dimiliki Kalisat ada Gereja yang jemaatnya menggunakan peci dan kerudung saat melakukan ibadah. Bukan suatu masalah besar, namun cukup membuat saya terperangah. Saat perayaan Natal, umat Kristiani dan umat Islam saling mendukung satu sama lain. Sayangnya, keberadaan saya di Kalisat tidak sedang malam Natal sehingga tidak melihat sendiri bagaimana suasana keakrabannya.

2015-12-28_08-32-01

Memasuki perkampungan desa, masyarakat Kalisat tak henti – hentinya menyapa kami. Itu karena Masbro yang rajin menyapa duluan ke mereka. Kenal atau tidak kenal, semua orang di sapa. Cukup singkat, “Monggo, Pak”.. atau “Monggo, Bu”.. hal – hal kecil inilah yang menjadikan kangen terhadap suasana desa.

2015-12-28_08-30-53

Rumah Masbro dan Mbak Prit berada di lingkungan yang asri dan tenang. Depan belakang rumah mereka di liputi sawah dan tegalan. Eh, juga pekuburan. Keadaan itu membuat rumah bersahaja mereka tak pernah sepi tamu.

2015-12-28_08-32-19

Sayang, hanya semalam saya berada di sana. Mungkin suatu saat ingin sekali berlama – lama. Mungkin 3 hari, 5 hari, atau sebulan. Ngekos aja sekalian! 😀

author
Author: 
loading...
  1. author

    mandor1 year ago

    suasananya benar-benar nyaman. Kalisat ini menyimpan orang-orang hebat seperti MasBro dan mbak Prit. Jadi pengen mampir ke sana

    Reply
  2. author

    mandor1 year ago

    komenku ilang? hadehhh …

    Reply
  3. author

    Lelaki Terkesima1 year ago

    kok nuansa Kalisat saat malam hari gak diceritain? jangan-jangan penulisnya tidur terus saat malam hari tiba

    Reply
  4. author

    efi1 year ago

    Wih adem banget itu pemandangannya. Sayang euy, Bandung ke Jember jauh banget 🙂

    Reply
  5. author

    @kakdidik131 year ago

    Menikmati suasana desa, yang masih terasa ASRI. Asyek-asyek !!!

    Reply
  6. author

    eda1 year ago

    dokarnya capek kali mbaa, makanya mogok tengah jalan… *lirik penumpang* :))

    aku gak dijak kooon 🙁

    Reply
  7. author

    Enny Law1 year ago

    Belum pernah sampai ke jember kalo naik kereta. Paling sampai Gubeng doang 😀

    Reply
  8. author

    @nurulrahma1 year ago

    Sejuuuk dan adem ya mbak. Suasana desa memang ngangenin

    Reply
  9. author

    Idah Ceris1 year ago

    Alhamdulillaah, kakak2 di sana pada sehat, ya.

    Btw, dekatnya orang Surabaya dan orang Jember kadangkala tak sesuai kesepakatan. Dan aku teringat saat kita melewati paalan kereta api di yogya bersama pakde.

    “Deket situ kok, Pakde.” Wkwkkwk

    Reply
  10. author

    Prih1 year ago

    Kalisat yg asri ya Jeng Yuni, panorama alaminya memikat, apalagi keramahan tuan nyonya rumahnya

    Reply
  11. author

    Annisa Steviani1 year ago

    pindah aja sekalian! makpon pindah surabaya, makyun pindah kalisat nyehehehehehe

    Reply
  12. author

    andyhardiyanti1 year ago

    Senangnya yaa mbak, bisa ketemu pasangan bulan sebelas 🙂
    Suasananya asri sekali. Oh ya, itu sepertinya si kuda ngambek tuh. Bebannya kebanyakan hihihi…

    Reply

Leave a Reply