Ketemu Mantan di Warung Kopi

Perjalanan pulang dari Benowo kemarin saya sisipan jalan dengan mantan rekan kerja. Saya sebut mantan karena saya dan dia dulunya memang ada bekas hubungan. Hubungan rekan kerjaa, bukan hubungan lainnyaaa 😀

Mungkin sudah di gariskan kami bertemu dengan cara yang unik. Seandainya tidak ada tragedi kepo harga tanah kavling saya tidak akan bertemu dengan Heri, nama teman saya.

Saat melaju di dekat Balongsari saya membaca iklan tanah kavling di seberang kanan jalan. Serta merta saya minta Mas Rinaldy putar balik untuk membaca ulang iklan yang sempat terlewat tadi. Sudah putar balik, ndilalah, banner iklannya tidak nampak. Kami coba lanjutkan perjalanan dengan kecepatan motor 40 km/jam, masih berharap dapat menemukan iklan tadi. Meski mata sudah waspada, eh, iklannya tetap tidak ketemu. Tak terasa tiba – tiba saja kami sudah sampai di depan Pasar Benowo lagi. Aaah, perjalanan yang sia – sia.. 😀

Mengulang perjalan kedua menuju arah Surabaya motor saya di salip oleh motor lain. Kali ini saya merasa mengenal pengendara tersebut. Helm dan warna motor mirip ‘mantan’ saya. Walaupun kami sudah pisah sejak tahun 2011, tapi ikatan batin saya masih kuat!

Bahas mantan kudu menggunakan perasaan, setuju? Haha..

“Itu Heri, deh! Helm sama Motor punya si Heri! Kejar.. kejar.. kejaaarrr…..”

Ibarat Bonek di kejar sama Valentino Rossi, kami berjibaku melewati pengendara lainnya. Hati saya sempat berdesir saat papasan dengan Truk Tronton. Namun, demi mantan apapun akan saya lakukan! 😀

Begitu tiba di samping Heri, saya lihat dulu mukanya. Salah orang, kan, lucu hihi..

“Hai!!” saya teriak di depan muka Heri saat melihat di depan saya benar – benar Heri. Heri pun membalas teriakan saya, “Woiii!”

Sapaan gak mesra banget, yah haha..

“Dari mana, “Sampean?”
“Dari Benowo..”
“Asih, mana?” Asih adalah istri Heri. Asih dulu mantan saya juga. Banyak banget ya mantan saya hihi..
“Beda urusan, saiki uripe dewe – dewe!” “ (beda urusan, sekarang hidupnya masing – masing)

Hah? Maksudnya apa niih..

Okee, reuni, sih reuni. Gak mungkin juga menjadikan jalanan padat menjadi seolah rumah sendiri. “Ngopi, sek yooo” teriak saya yang diartikan, Cangkruk, yuk!

Kopi

Di sebuah warung kopi, seperti biasa saya pesen es teh. Heri tetap dengan kebiasaan lamanya, kopi hitam gula sedikit.

Penampilan Heri masih sama seperti dulu. Kacamata coklat, helm KYT, Tas Ransel, dan motor bebek biru. Ucapannya juga masih dengan gayanya yang suka njeplak. Bedanya ada tumbuh rambut putih di kepala.

Setelah saya usut, ternyata kalimat “beda urusan, saiki uripe dewe – dewe!” maksudnya adalah Heri sedang kerja, Istrinya di rumah menjaga anak – anak sehingga urusan mereka masing – masing. Owalaahh.. bahasamu membuat hatiku penasaran…

Kami ngobrol lama di warung kopi tepi jalan. Menceritakan pekerjaan, menceritakan sesama mantan, dan tentu saja menceritakan mantan bos kami yang ganteng, yang pesonanya selalu menyihir tiap kali fotonya melewati wall Facebook. Ehem.

Dari Heri saya mendapat cerita bahwa mantan perusahaan kami sudah bubar. Sekarang, Heri dan teman – teman sekantor dulu, menjalankan pekerjaan masing – masing. Bidangnya masih sama, namun dikelola sendiri.

Hampir sejam kami ngobrol di warung kopi. Kami menghabiskan 2 es teh (yang ternyata di kasih gelas ukuran jumbo), segelas kopi, sebungkus telur puyuh, dan sebutir tahu. Tagihannya cuma Rp. 11.500,-. Lebih heran lagi ternyata harga segelas es teh jumbo dihargai Rp. 2.500,-! Woww!!

Kemudian kami keluar dari warung bersama – sama. Saat berada di jalan raya, saya baru inget kalau tadi, pas di Warung Kopi, saya dan Heri belum foto – fotoaaan… Aaahhh, lupaaa… Terbawa oleh prinsip teman kopdar Surabaya kalau cangkruk tidak boleh pegang HP. Jadi kebiasaan kalau lagi cangkruk, HP tidak pernah keluar dari saku akibatnya lupa foto – fotoan deeh.. Gapapa lah yang penting obrolan kami bermakna, Ciyeehh..

11 thoughts on “Ketemu Mantan di Warung Kopi

Leave a Reply