Wajah Surabaya · Women Interest

PaperBag Mural melawan budaya Konsumerisme

IMG-20151212-WA0023

Ada yang unik kemarin di Artotel Surabaya. Aneka paperbag mural terpajang cantik di dinding lobby hotel. Biasanya dinding – dinding Artotel penuh dengan pigora lukisan, tapi kali ini posisinya digantikan dengan rangkaian paperbag. Baguus bangeet..

Tanggal 12 Desember, saya baru ingat kalau voucher dinner di Rocca Restaurant sudah menjelang habis masanya. Mumpung hari terakhir, saya gunakan beli sesuatu. Nilainya lumayan, 200 rebuuu..

IMG-20151212-WA0028

Sebelum menuju Rocca, saya melewati galeri art di Lobby hotel. Begitu membuka pintu kaca saya merasa ada yang aneh disini. Kok dindingnya banyak paperbag.. kemana semua lukisannya? Saya perhatikan ke sekeliling, semua dindingnya penuh dengan paperbag. Bagus, sih.. lucu lihatnya. Ditambah dengan pencahayaan ruangan yang temaram, dengan kursi – kursi warna warni mencolok, semua terlihat indah. Sejak itu pikiran saya tak fokus milih makanan hehe..

Setelah mencari meja, dan buru – buru memilih makanan, sambil nunggu hidangan datang, saya melihat – lihat galeri paperbag dengan leluasa. Tidak hanya melihat tapi juga membaca lukisan dan tulisan khas seniman mural. Tema yang diangkat sesuai momennya. Paperbag dan Hari Belanja Online. Komplit!

Mulanya saya tertarik dengan gambar ini:

IMG-20151212-WA0009

Sekilas kok unik. Ada embel – embel belanjanya segalaa..
Dimana – mana, kok, ketemu tulisan BELANJA!!
Mentang – mentang peringatan Hari Belanja Online Nasional lalu segala apapun di disinggung – singgungkan dengan belanja. Saya sudah habis duit banyak, stock kode voucher saya sudah kepakai semua. Lalu, “Masalah buat Gue? Lari saja sana ke pantai dan ke hutan!” *apaan, sih, ini..* 😀

Jadi tema Galeri Artotel kali ini adalah PaperBag Custom Exhibition. Pameran ini berlangsung dari tanggal 13 November hingga 12 Desember 2015. Paperbag Custom Exhibition total ada 150 paperbag artworks yang diikuti oleh 30 partisipan yang terdiri dari Surabaya, Gresik, Malang, Brebes, Jogja, Jakarta, Bali, dan Malaysia.

Sebagai wadah belanjaan, paperbag itu di kemas dengan nuansa yang berbeda. PaperBag Custom Exhibition ini di organisir oleh Serikat Mural Surabaya dan Bunuhdiri studio sehingga hasil karyaya pun tak jauh – jauh dari goresan khas anak mural yang senang terhadap kebebasan berekspresi. Meski kadang mengandung pesan tersirat, seperti bahasa sarkas dan sindiran, namun ada sisi yang menghibur. Begitulah keindahan seni mural yang sesungguhnya.

Lihatlah paperbag – paperbag dibawah ini:

IMG-20151212-WA0018

IMG-20151212-WA0022

IMG-20151212-WA0020

Paperbag – paperbag di Galeri Artotel di lukis menggunakan berbagai macam teknik dan media. Seperti Painting on Linen, Artpaper Print, Brainwash, Stencil on Paper, Drawing dengan seni kolase, dan macam – macam.

Kalau punya paperbag seperti ini kayaknya bakal saya simpan dan pajang aja di lemari. Sayang kalau di pakai buat belanja, takut goresan lukisnya rusak. Kalau mau pakai, di isinya dengan barang – barang yang ringan dan kecil seperti boneka wisuda. Gak berani dekat – dekat sama air, takut basah hehe..

Bisa juga paperbag itu di pigora lalu di hadiahkan ke sahabat atau orang yang tersayang. Supaya pesannya tepat sasaran, pilih yang kata – kata nya cocok dengan kondisi hubungan. Seperti ini, salah satunya..

IMG-20151212-WA0034

Menikmati pameran paperbag di Artotel seakan tak ada puasnya. Sama seperti saat sedang berbelanja; rasanya puasa dan tidak puas. Bila budget sudah habis, baru terasa puasnya hehe.. Belanja sekarang sudah menjadi gaya hidup orang kota. Dan tujuan pameran ini digelar sebagai bentuk tantangan seniman muda dan pelaku kreatif untuk mengakali budaya konsumerisme.

2015-12-12_11-13-43

13 thoughts on “PaperBag Mural melawan budaya Konsumerisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *