Nggojek, solusi menembus kemacetan Ibukota

Nggojek, solusi menembus kemacetan Ibukota telah terbukti. Dibanding naik angkutan umum, taksi, atau kendaraan yang berbodi lebar, naik motor jadi alternatif paling cepat dan praktis. Terutama melihat kondisi lalu lintas jalanan yang padat dan hampir-hampir merambat. Whas whes โ€“ whas whes.. Srat sret – srat sret, salip sana-salip sini. Sampai deh. Hemat waktu ๐Ÿ™‚

Saat mau pulang ke Surabaya, dari Pondok Bambu ke Stasiun Senen, kemarin siang, saya memilih nggojek. Nggojek, solusi menembus kemacetan Ibukota. Ini benar-benar pengalaman pertama saya naik kendaraan antar jemput yang berbasis aplikasi smartphone online. Betapa kaget, ternyata animo pengendara ojek di Jakarta sangatlah tinggi. Begitu membuka aplikasi, tampilan smartphone laksana lapangan sepakbola, hijau! Sekali melakukan order, sopir gojek menelepon dan memberitau bahwa dalam 3 menit kedepan dia akan menjemput saya. Woww.. 3 menit! Fantastis sekaliiiโ€ฆ

Tak heran kalau dimana-mana banyak sopir ojek dan merek sebangsanya, seperti Gojek, Grab Bike, dan yang baru lagi hadir, Blue jek. Mereka mangkal di pinggiran trotoar, halte, depan Mall, dan kawasan padat lalu lintas. Ini benar-benar fenonema. Fenomena membudayakan ngojek. Semoga saja fenomena ini bisa bertahan lama supaya rejeki sopir ojek terus mengalir. Saran agar keberadaan tukang ojek selalu dihargai masyarakat, sebaiknya mereka tidak mangkal sembarangan yang akhirnya mengganggu kenyamanan pengguna jalan sehingga Pemda setempat tidak menggusur lahan mereka. Sayang..

Sebelum ada ojek, kemana-mana saya naik angkutan umum macam Metro Mini atau Lyn (di Jakarta apa ya namanya.. angkot, ya? ๐Ÿ˜€ ), dan KRL. Murah, sih.. tapi naik angkutan model begini tidak bisa sekali sampai. Harus gonta-ganti jurusan. Diitung-itung jatuhnya kurang lebih sama atau malah lebih mahal dari pada tarif ngojek.

Pengalaman nggojek pertama di Jakarta lumayan puas. Apalagi Pak sopirnya ngaku asli Ponorogo dan kami jadi akrab. Selama perjalanan Pak Sopir banyak bertanya kabar Surabaya bagaimana, kondisi lalu lintasnya macet apa nggak, dan bagaimana kondisi Go-Jek di Surabaya. Pak sopirnya juga luwes meskipun baru bertemu orang baru sehingga saya juga gak merasa canggung berada diboncengannya.

2015-09-22_09-28-50

Perjalanan dari Pondok Bambu ke Senin tidaklah dekat. Saya hitung perjalanan nggojek memakan waktu 1 jam lebih beberapa puluh menit. Waktu yang tidak singkat untuk ukuran perjalanan menembus dalam kota. Di Surabaya, perjalanan 1 jam bisa sudah bisa kemana-mana. Bahkan bisa tembus luar kota. Yang membedakan selisih jarak dan waktu tempuh naik motor di Jakarta dan Surabaya hanyalah masalah padatnya kendaraan, waktu tunggu lampu merah, dan waktu tunggu kereta lewat.

Nggojek, solusi menembus kemacetan Ibukota membantu saya banget. Dengan ojek saya bisa menarik nafas lega sambil duduk dan chatting-chatting cantik menunggu jadwal keberangkatan kereta api. Sebelum ada ojek, boro-boro bisa duduk manis sambil HP-an, justru kereta sudah bertengger manis di atas rel, saya masih lari-lari kesetanan mengejar pintu gerbong haha.. harusnya saat itu saya pakai sepatu roda, tinggal syuuuuurrrrr roda meluncur gembira.. ๐Ÿ˜€

4 thoughts on “Nggojek, solusi menembus kemacetan Ibukota

  1. ya mbak, saking maraknya, kemarin ada tukang gojek dikeroyok sama tukang ojek.
    tapi gatau persisnya tempat, tapi dari info yang saya dapet dari sopir angkot di daerah jaksel.

Leave a Reply