Kenapa harus Boboi Boy?

Musim liburan begini di rumah saya selalu ramai dengan keponakan. Mereka saling berdatangan seakan sudah janjian sebelumnya. Saya maklumi karena usia mereka sepantaran. Sama-sama duduk dibangku 2 SD. Laki-laki semua, jumlahnya 3 orang. Total keponakan laki-laki yang sepantaran sebenarnya ada 5, tapi 3 anak ini yang sering muncul ke rumah, sisanya yang 2 anak lagi tinggal di luar kota, jadi jarang bisa kompak ketemu.

Seperti kejadian hari ini. Pagi-pagi Galih datang ke rumah diantar Ayahnya. Seperti biasa setelah menurunkan Galih, Ayahnya berangkat kerja. Tak lama kemudian datang si Kiki. Sama juga, Kiki juga diturunkan aja, selanjutnya Mamanya pergi. Terakhir Rama. Tanpa ba bi bu, barang pertama yang mereka cari adalah remote TV. Apalagi kalau bukan nonton film kartun anak-anak. Iya, ponakan saya senangnya nonton kartun. Walaupun cerita episodenya diulang-ulang sampai puluhan kali, tetap aja tuh di tonton. Seperti film Upin Upin misalnya. Doh, berapa kali serial Upin Ipin tayangannya di ulang-ulang. Bahkan dialognya pun mereka sampai hapal!

Urusan tonton menonton ini kalau sudah lawannya anak-anak, orang dewasanya wajib ngalah. Mereka merasa seperti TV punya sendiri. Bayangkan aja, bubar Upin-Ipin ganti Bang Jarwo. Selesai Bang Jarwo, lanjut ke Boboi Boy. Lebih herannya lagi, tiap kali saya ajak masuk ke toko film mereka kok ya masih milih Boboi Boy. Padahal kan di TV ada. Tiap hari juga sudah nonton. Kok ya masih aja milih film yang sama.

Tak jarang saya suruh mereka berhenti nonton TV. Kasihan kalau terus-terusan nonton. Matanya kadang sampai merah. Mereka nurut-nurut aja gitu.

โ€œGal, mbok ya main sana diluar. Ada Bimo, ada Arya. Jangan nonton TV terus. Gak bosen apa nonton TV terus-terusanโ€ pelan saya kasih tau Galih. Maksud saya supaya matanya segar melihat susana luar.

โ€œNggak, main diluar gak enak. Nggambar aja wes kalau gitu!โ€

Hasiiik, kalau lagi sibuk menggambar, TV nya di cuekin biasanya..

Kalau sudah begini saya suka banget. Gambarnya lucu-lucu, sih. Demi mendukung mereka saya sampai stock pensil lusinan sama crayon di rumah. Lebih senang lagi kalau anak-anak ini saya kasih kertas sama pensil lalu saya mengucapkan kalimat dan mereka saya suruh menulis. Efektif banget cara ini buat mengalihkan perhatian mereka dari layar TV. Malahan mereka suka meminta saya membuat soal berhitung lalu mereka mengisinya sendiri. Ah, cerdasnya kaliaan inii..

Tapi kebahagiaan ini tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja diantara mereka, salah satu ada yang menyalakan Tablet PC. Waah kalau sudah begini sayanya kalah. Apalagi di gadget itu ada banyak sekali aplikasi mainannya. Satu anak buka tablet, lainnya pasti ngikut.

Galih 3
Satu Tablet, 3 kepala ๐Ÿ˜€

Benar saja, mereka mulai berebutan melihat gambar pada layar 7 inch. Tablet satu dipakai buat 3 kepala. Senang-senang aja kalau mereka rukun seperti itu. Gak bertengkar meskipun 1 tablet di pakai rame-rame. Dan mereka ini kompak, lho. Mula-mula main game sambil teriak-teriak. Lama-lama teriakan mereka berubah dengan tertawa cekikian. Seperti ada yang lucu di sana. Penasaran dong apa yang mereka tonton. Ternyataa… mereka sedang nonton Boboi Boy!!

Ya ampuuunn.. Ciaobelaaa, capek pala Ratu Jodha!

5 thoughts on “Kenapa harus Boboi Boy?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *