Blogging · Parenting

Ramadhan dan Tadarus

Ramadhan selalu membawa kenangan. Tiap bulan Ramadhan ada saja hal-hal yang tak luput dari ingatan. Indahnya kebersamaan dengan bulan Ramadhan seakan membawa sepercik berkah yang tak bisa digantikan dengan apapun.

Kenangan akan Ramadhan yang telah lalu tiba-tiba melintas dari ingatan saya ketika membaca komentar dari seorang narablog di status Facebook saya.

Ini komentarnya:

Screenshot_1

Komentar Pak Yunus ini seketika membuat hati saya campur aduk. Antara ingin tertawa, kangen, juga sedih.

Apa yang di tulis Pak Yunus diatas adalah pengalaman saat saya masih aktif di perkumpulan Remaja Musholla. Kami, remaja-remaja yang terlalu semangat menghidupkan bulan Ramadhan setiap hari berjibaku dengan segala kegiatan yang ada di Musholla.

Tradisi di kampung saya (mungkin juga dimana-mana) setiap bubaran sholat Tarawih selalu melanjutkan aktifitas dengan berkumpul di Musholla untuk tadarus Al-Quran. Sekian anak remaja berpakaian muslim rapi saling bergantian membaca ayat-ayat Al-Quran, sisanya menyimak apabila ada bacaan keliru.

Disaat capek membaca dan menyimak, beberapa diantara kami ngobrol di halaman Musholla sambil menikmati kue takjil yang disediakan warga untuk kami. Sungguh, itu semua kebersamaan yang sangat menyenangkan.

Yang paling saya ingat saat tadarus di Musholla adalah kami saling berebut mikrofon supaya dapat giliran membaca Al-Quran. Di Musholla kami, peraturan yang berlaku adalah siapa yang datang di Musholla lebih dulu, dialah yang pertama memegang mikrofon. Orang selanjutnya harus antri sambil menyimak halaman ayat dan surat.

Namanya juga anak remaja, membaca Al-Quran sambil memegang mikrofon adalah kebanggaan tersendiri. Memang sih, guru agama mengajarkan tidak boleh berbuat pamer, tapi coba bayangkan betapa bahagianya anak remaja ketika mendapati suaranya keluar dari mikrofon dan didengar warga seantero kampung. Kalau bacaannya lancar dan tajwidnya benar, biasanya akan mendapat pujian. Apalagi kalau lantunan bacaannya lembut dan pas panjang pendeknya. Semakin membuat orang pensaran.

Tapii, kami juga tidak bisa melarang teman yang bacaan Al-Qurannya plegak-pleguk sambil diulang-ulang. Contohnya seperti:

“Laa.. Laa  tak.. Laa  tak  huduhu..”
“Kulli.. kulli.. kulli…”

Lalu tiba-tiba ada yang iseng nyeletuk, “Kuli uyah, ta!”
Kalau sudah ada yang iseng begini ruangan Musholla seketika akan gempar dengan suara tawa yang berkepanjangan, dan tak di sadari suara kami riuh hingga ke kemana-mana. Saking ngakaknya, tak sadar kalau mikrofon itu dalam keadaan ON.
Kalau sudah begitu kami mendapat maki dari warga kampung hihi..

Pada dasarnya kegiatan tadarus yang kami lakukan bukan untuk ajang pamer. Tetapi benar-benar sebagai ajang belajar bersama. Sudah banyak bukti teman-teman yang awalnya tidak bisa membaca Al-Quran, tetapi setelah sering menyimak bacaan Al-Quran dia jadi pinter membaca. Bacaannya lumayan lah untuk seorang yang belajar ngaji secara otodidak.

Tips saya kalau ingin belajar membaca Al-Quran dengan benar, sering-seringlah duduk didekat orang yang membaca Al-Quran. Sambil menyimak bacaannya, sambil perhatikan baik-baik tajwid, tanda baca, dan kefasihan yang diucapkan. Kalau terbiasa, lama-lama, Insya Allah bisa membaca Al-Quran sendiri dengan benar. Meski belum lancar yang penting tajwid, tanda baca, dan kefasihannya benar. Tapi jangan sungkan juga berguru pada orang yang ngerti supaya belajarnya ada yang memperhatikan.

Semoga Ramadhan ini membawa keberkahan bagi yang masih belajar membaca Al-Quran. Saya doakan semua teman-teman bisa membaca Al-Quran! Amiinnn… 🙂

5 thoughts on “Ramadhan dan Tadarus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *