Jalan-jalan

Surabaya Urban Culture Festival, event penawar dahaga warga Surabaya

Petang beranjak malam, kemacetan jalan raya Basuki Rahmad telah mencair. Didepan sebuah pertokoan tua yang hingga sekarang masih eksis, Tunjungan Plasa Surabaya, pengendara juga tak seberapa rame seperti biasanya. Dari kejauhan, suasana didalam Mall juga tak se-sesak biasanya. Oh ada apakah gerangan? Mungkinkah efek Surabaya Urban Culture Festival?

Pintu masuk Surabaya Urban Culture Festival
Pintu masuk Surabaya Urban Culture Festival

Tak jauh dari pertokoan besar itu, perjalanan saya tiba di depan Monumen Pers Nasional yang berada dipojok antara jalan Embong Malang dan Jalan Tunjungan. Lagi-lagi suasana yang tak wajar saya dapati. Aneka motor berjajar dipinggir-pinggir jalan bahkan sampai memenuhi halaman Pasar Tunjungan yang bertahun-tahun β€˜mangkrak’. Karena parkir dadakan itu dinyatakan sudah penuh, saya memilih menjauh dan melanjutkan perjalanan melewati Jalan Embong Malang.

Benar saja, rupanya event Surabaya Urban Culture Festival yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya 19 Mei 2013 itu diselenggarakan di sepanjang Jalan Tunjungan sejak siang, dan dibuka langsung oleh Ibu Walikota Surabaya, Bu Tri Risma Harini, memicu warga untuk berbondong-bondong mendatangi lokasi.

Mengapa harus di Jalan Tunjungan?

Karena Jalan Tunjungan memiliki sejarah tersendiri bagi kota Surabaya. Selain kaya akan bangunan sejarah, di Jalan Tunjungan juga terdapat Hotel Majapahit (sebelumnya dikenal dengan nama Hotel Yamato atau Hotel Orange) yaitu Hotel kebanggaan arek-arek Suroboyo dalam merebut kemerdekaan yang juga disemangati oleh Bung Tomo melalui siaran radio di Surabaya pada tahun 1945.

Hotel Majapahit malam hari, saksi sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya
Hotel Majapahit malam hari, saksi sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya

Surabaya Urban Culture Festival ini diadakan sebagai rangkaian untuk memperingati Hari Jadi kota Surabaya ke 720, 31 Mei mendatang. Disini ditemukan tenda-tenda beraneka merk produk dan resto-resto terkenal di Surabaya. Kalau boleh saya sebut sih, Resto turun ke jalan dan membuat paket menu murah.

Disepanjang jalan itu selain penuh dengan tenda-tenda, juga ada panggung besar ditengah jalan dimana didepan panggung itu ada tangga besi untuk penonton. Persis pertunjukan terbuka.

Meskipun dibuka mulai pukul 2 siang yang sorenya disertai guyuran hujan, namun tak mengurangi minat warga untuk datang, termasuk saya. Dan malam itu kedatangan saya begitu menguntungkan karena ternyata dipanggung besar itu masih tersisa pertunjukan ludruk dan jula-juli Suroboyo yang dibawakan langsung oleh Cak Kartolo CS.

Siapa Cak Kartolo CS?

Kartolo CS adalah tokoh legendaris Surabaya yang terkenal dengan ludruk dan Jula-Juli Suroboyonya. Yaitu semacam pantun jawa / parikan dengan bahasa khas Suroboyoan yang dibawakan secara kocak dan menggelitik.

Dari kiri: Cak Sapari, Ning Tini da Cak Kartolo
Dari kiri: Cak Sapari, Ning Tini da Cak Kartolo

Walaupun sudah tidak lagi muda, dan dulunya menjadi primadona orang tua kita, tetapi kemarin itu Cak Kartolo masih tampil semangat. Bersama Cak Sapari, Ning Tini (Istri Cak Kartolo) dan Dewi (yang baru saya ketahui ternyata putri Cak Kartolo) benar-benar menghidupkan kota Surabaya dengan guyonannya yang terdengar segar dan sempurna membuat orang terpingkal-pingkal. Tak hanya orang tua, yang muda dan anak-anak pun tertarik untuk memenuhi jalan Tunjungan dan mengikuti hingga akhir pentas. Panggung yang hanya sak uplik tak membuat warga berkecil hati karena mereka bisa melihat langsung dari layar lebar yang disediakan panitia. Ternyata animo arek Surabaya Β cukup besar demi melihat langsung pertunjukan serta menjawab kerinduan mereka akan ludruk Suroboyo.

Tepat jam 10 malam pertunjukan itu berakhir. Selama kurang lebih satu jam tampil, sepertinya kehadiran Cak Kartolo masih ngangeni. Meski sudah ditutup dan panggung dianggap sudah buyar karena jalan Tunjungan harus dibuka kembali jam 00, mereka masih sulit untuk beranjak.

Makin tampak bahwa warga Surabaya begitu mendambakan acara semacam event Surabaya Urban Culture Festival ini. Event ini tidak saja menjadi penawar dahaga akan keunikan kota Surabaya tetapi juga untuk mengenalkan budaya yang dimiliki kota Surabaya. Semoga event ini selalu menyuguhkan suasana berbeda setiap tahunnya dan selalu menjadi agenda rutin kota Surabaya seperti Festival Rujak Uleg yang seminggu sebelumnya telah diselenggarakan di sepanjang Jalan Kya-kya.

16 thoughts on “Surabaya Urban Culture Festival, event penawar dahaga warga Surabaya

  1. Datengnya kurang siang-an
    Katanya ada waktu siang ada pembuatan rekor 1000 penari Remo
    Semoga besok dapet moment yang lebih baek, amin

  2. saya mengenal Kartolo CS sejak SD dari pita kaset recorder mbak Yun, waktu itu masih ada Cak Basman dengan gaya khas ngguyune bhhaaaaaa. Cak Kartolo, Ning Tini, Cak Sapari dan satunya saya lupa. Kalo Ning Dewi malah saya nggak tahu Mbak

  3. mba Yuniiiii…
    sepertinya acaranya seru sekaliii…

    walopun aku gak tau siapakah Kartolo itu…hihihi…

    tapi bagus juga sih mba…
    kalo ada panggung sekali2 jangan dangdutan terus, ato cherry belle gitu…bosenlah…hihihi…

  4. Jika di Solo ada Urban Forest, maka di Surabaya ada Urban Culture. πŸ™‚
    Saya belum kenal tokoh2 di atas, MBa. Baru tahu dari sini. hihihih

    Pasti nanti tgl 31 Mei ramai banget ya, Mba.

  5. Senengnya Yun, kota Surabaya punya acara unik seperti ini!
    Trima kasih sudah woro-woro ya, pasang-pasang foto pula, saya jadi tau deh gimana kreativitas yang dilakukan arek-arek Suroboyo sekarang, top abis ternyata πŸ˜€

  6. Sampe sekarang saya juga belum pernah ngerasain gimana malam di Kya-Kya itu…katanya menyenangkan ya, banyak makanan, banyak lampu-lampu dan amat meriah…eh, eh, biasanya saya ke jalan itu pagi, Yun…belajnja alat-alat tulis dan tas kertas buat hadiah…hehe
    πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *