Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sejarah dunia warisan luhur budaya jawa

Siang itu, panas begitu terik. Berempat, saya, Mbak Kaka akin (Blogger Samarinda), Mbak Ila Rizki (Blogger Tegal), dan Andani (Blogger Surabaya) keluar dari Pasar Klewer. Tak disangka, pasar yang dipenuhi dengan aneka rupa batik dan jajana khas Jawa Tengah itu sudah membuai minat belanja kami. Baru tersadar kami adalah rombongan terakhir yang ketinggalan menuju Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Ya, Hari Minggu itu, 12 Mei 2013, kami semua, rombongan Asean Blogger Festival Indonesia 2013 masih memiliki 1 jadwal kunjungan lagi sebelum bertolak ke daerah kami masing-masing, yaitu makan siang sekaligus penutupan acara di Keraton Kasunanan Surakarta.

Didepan Pasar Klewer, kami berempat kebingungan. Dimana letak Kraton Kasunanan? Sempat ada yang memutuskan untuk naik becak saja. Namun rupanya ke khawatiran kami segera terjawab. Ada beberapa Bapak-bapak yang memberitau dimana jalan menuju Keraton Kasunanan itu.

Sesuai petunjuk yang kami terima, jalan menuju Keraton tidaklah jauh. Walaupun cuaca sangat terik, jalan yang tidak seberapa lebar dengan kiri kanan tembok khas bangunan kerajaan membuat jiwa saya terpuaskan. Berkali-kali saya berdecak mengagumi keindahan itu. Cat putih, warna bangunan tebal dan tinggi itu sekejap membawa kembali kenangan saya akan masa yang silam. Masa dimana tembok-tembok pertahanan (beteng) itu menjadi saksi bisu pergolakan yang pernah dialami bangsa ini.

Biar bagaimana, meski tak bercerita,  tembok yang berdiri dihadapan saya itu mengandung roh sejarah yang tak bisa diungkapkan dengan kalimat. Guratan-guratannya, goresan-goresannya, hingga detail-detailnya membuat perasaan saya tak bisa mengatakan apa-apa. Selain, takjub yang berlebihan.

Dipinggir-pinggir tembok itu kami menyusuri jalanan yang ramai, dan.. bersih!

Jalanan yang mirip seperti lorong itu bercampur dengan aneka kendaraan yang melintas. Tanpa pembatas juga tanpa trotoar. Justru inilah yang membuat tempat ini menjadi unik, eksotis dan berseni.

Kompleks Kamandungan

Bersama Mbak Ila didepan Kori Kamandungan
Bersama Mbak Ila didepan Kori Kamandungan

Tak lama menyusuri, tibalah kami disebuah gapura besar yang tepatnya disebut gerbang dengan pintu kayu besar terbuka lebar dikanan kirinya. Dilengkapi dengan atap penutup bergaya Jawa kami melangkah mantap. Sejauh mata memandang terhampar halaman kompleks Kamandungan nan luas dengan pemandangan sebuah menara tinggi yang dinamakan Panggung Sangga Buwana. Tiba-tiba saja kaki ini berhenti melangkah dengan sebuah pertanyaan memenuhi benak saya, “Boleh masuk kedalam, nggak? Nanti prajuritnya marah?”

Sambil membawa pertanyaan yang belum terjawab kaki saya bergerak melangkah. Pada sebuah Bale (bahasa Jawa halaman rumah) saya dan teman-teman dihadapkan kepada 2 orang prajurit berpakaian lengkap, plus senjata semacam pedang berukuran panjang. Hal ini makin menguatkan pertanyaan saya yang belum terjawab, “Jangan-jangan kita gak boleh masuk, nih. Prajuritnya aja mukanya seram begini”

Eh lha dalah, lha kok teman-teman pada minta foto bersama 2 prajurit itu..

Lebih herannya lagi, ternyata sambutan Bapak-bapak prajurit itu tak seseram penampilannya! Waktu kami minta foto, tanpa banyak bicara, Bapak prajurit itu bersedia mengambil posisi. Mungkin Bapak-bapak itu sudah mengerti kemauan blogger seperti kami yang sok narsis ini.. 😀

Takut-takut mau :D Meskipun kelihatan sangar, tapi prajurit itu baik-baik. Tuturnya halus.
Takut-takut mau 😀
Meskipun kelihatan sangar, tapi prajurit itu baik-baik. Tuturnya halus.

Setelah foto-foto kami dipersilakan masuk ke dalam kompleks Kedhaton. Waah sebuah penghormatan besar ini diperbolehkan masuk ke dalam kompleks Kedhaton, yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya masuki.

Kompleks Kedhaton yang rindang dan alami

Pada saat akan memasuki kompleks Kedhaton, saya melihat teman-teman melepas sepatunya. Begitu melihat mereka saya jadi ikut-ikutan melepas juga. Terakhir saya baru tau, peraturan masuk kedalam kompleks Kedhaton adalah pengunjung harus memakai sepatu. Bagi pengunjung yang memakai sandal harus melepasnya di Bale sehingga masuknya tidak menggunakan alas kaki alias ‘nyeker’ (bhs jawa: yang artinya jalan dengan kaki telanjang).

Kompleks Kedhaton Karaton Kasunanan adalah sebuah halaman luas dengan rerimbunan puluhan pohon sawo yang tumbuh didalamnya. Disana juga terdapat pendopo yang arsitekturnya campuran Jawa dan Eropa. Arsitektur Jawanya terlihat dari bentuk bangunan, pilar-pilar dan perkakasnya, sedangkan arsitektur Eropanya terlihat dari patung-patung dan lampu yang menghiasi ruangan didalamnya.

Dibawah pepohonan yang rindang, saat melintas di area ini beberapa kali saya harus berjalan terpincang-pincang. Bukan karena sakit, tetapi karena kaki saya yang tanpa alas melewati pasir hitam didalam kompleks Kedhaton ini terasa sakit. Pasirnya sangat aneh menurut saya. Tekstur pasirnya kasar tapi halus. Eh, gimana ya nyebutinnya.. jadi begini pasir yang saya injak itu sekilas tampak halus, tapi kalau dilewati terasa kasar. Kalau saya bilang, pasirnya lebih mirip seperti pasir laut. Dan konon rupanya pasir-pasir itu didatangkan dari laut selatan..

Suasana Kompleks Kedhaton
Suasana Kompleks Kedhaton

Melintasi kompleks Kedhaton ini tak henti-hentinya saya mengungkapkan keindahan seninya. Dari semua area yang telah saya lewati, bisa dibilang ini bukan seni biasa, tapi betul-betul seni tingkat tinggi. Dan saya yakin Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I, sang arsitektur Keraton Surakarta adalah orang yang memiliki jiwa seni tinggi.

Sejarah singkat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat didirikan pada 20 Februari 1745 oleh Susuhunan Paku Buwono II. Keraton ini merupakan pindahan dari Keraton Mataram yang ada di Kartosuro karena luluh lantak akibat pristiwa geger pecina.

Keraton Kasunanan ini memiliki luas wilayah 97 hektar dengan setiap tempat yang dilalui memiliki makna tersendiri. Makna-makna itu diambil sesuai perjalanan hidup manusia dari mulai lahir hingga kembali kepada TuhanNya.

Walaupun sudah berdiri berabad-abad lamanya, Keraton Kasunanan Surakarta hingga kini masih menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan yang sekarang dipimpin oleh Sunan Pakubuwono XIII. Sebab memiliki bangunan yang khas dan unik, Keraton ini kerap menjadi jujugan wisatawan asing maupun domestik yang ingin mengetahui secara detail bangunan yang juga merupakan warisan budaya leluhur Jawa. Hal ini dikarenakan Keraton Surakarta ditinggali oleh garis keturunan yang hingga kini turut melestarikan tradisi dan menjadi sumber inspirasi budaya jawa.

Di dalam Keraton Surakarta ini masih tersimpan pula kekayaan budaya peninggalan kasunanan sebelumnya yang masih tersimpan dan terawat baik. Seperti Gamelan asal Demak, pusaka-pusaka keraton, tarian adat yang sakral, juga upacara adat yang penyelenggaraannya bertepatan dengan perayaan hari-hari besar Islam, seperti:

  1. Grebeg

Grebeg merupakan upacara yang diadakan setidaknya 3 kali dalam setahun yang dihitung sesuai penanggalan jawa. Antara lain:

Grebeg Mulud. Seperti halnya Mauludan dalam tradisi Islam, grebeg Mulud diadakan pada bulan Mulud atau bulan ketiga penanggalan jawa, tepatnya tanggal 12. Grebeg Mulud ini juga sebagai puncak acara Sekaten.

Grebeg Syawal. Acara ini diselenggarakan setiap tanggal 1 Syawal atau bulan kesepuluh penanggalan jawa.

Grebeg Besar. Bula besar dalam kalender jawa adalah bulan Dzulhijah yaitu bulan kedua belas setiap tanggal 10.

Ketiga acara grebek tersebut diadakan semacam kirab gunungan sebagai perwujudan rasa syukur kemakmuran keluarga kerajaan dimana raja akan mengeluarkan sedekah yang kemudian dibagikan kepada rakyat.

  1. Sekaten

Acara sekaten pertamakali di kenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa kerajaan Demak yang pada waktu itu sebagai bagian dalam rangka menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sekaten sendiri diselenggarakan pada bulan Mulud (Robiul Awal) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada acara Sekaten diadakan bunyi gamelan yang ditabuh selama 7 hari sejak tanggal 6 Mulud yang kemudian ditutup dengan Grebeg Mulud.

  1. Malam 1 Suro

Suro adalah penyebutan untuk bulan Muharram (penanggalan Islam) dalam bahasa Jawa. Tanggal 1 Suro bagi masyarakat jawa masih dianggap keramat dan pada tanggal itu saatnya mensucikan pusaka-pusaka yang dimiliki keraton.

Pada perayaan itu juga diadakan kirab/ memutari tembok pertahanan (beteng) yang arahnya berbalik dengan arah jarum jam dengan kerbau bule Kyai Slamet sebagai pembuka jalan.

Selain ke 3 tradisi diatas, Keraton juga rutin mengadakan tradisi haul (memperingati hari kematian). Ada Haul eyang Jaka Tarub, Haul Diageng Sela, Haul Betara Katon, Haul Kebo Winongo, Haul Jaka Tingkir/Sultan hadiwijaya dan beberapa leluhur lainnya. Tradisi lainnya lagi adalah upacara Tingalan Jumenengan Dalem yaitu upacara peringatan kenaikan tahta raja, Ritual Mahesa Lawung yaitu upacara pemberian kepala kerbau sebagai sesajen dan Malam Selikuran yakni tradisi yang dilaksanakan pada malam 20 bulan Pasa/Ramadhan untuk menyambut datangnya Lailatul Qadar.

Dari berbagai tradisi perayaan diatas bisa disimpulkan bahwa tradisi Islam sudah mendarah daging dan itu berkaitan dengan penyebaran agama Islam pada masa dulu yang di sebarkan oleh Wali Songo di tanah Jawa. 

Dari simbol-simbol seni yang dimiliki Keraton serta beberapa tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang, sudah selayaknya Keraton Kasunanan Surakarta ini menjadi pusat sejarah dan warisan budaya khususnya kota Solo/Surakarta yang sudah dikenal luas sebagai kota ber ikon seni budaya.

Sambutan ramah keluarga Kasunanan Surakarta

Suasana di dalam ruang Sasana. Kursi kayunya bercirikhas Jawa
Suasana di dalam ruang Sasana. Kursi kayunya bercirikhas Jawa
Sambutan GKR Wandansari Koes Moertiyah
Sambutan GKR Wandansari Koes Moertiyah

Begitu memasuki Sasana Handrawina, tempat acara dilaksanaan, semua Blogger sudah berkumpul disana. Ruangan luas yang bentuknya seperti aula dengan perangkat gamelan jawa dibagian depan itu lagi-lagi terasa kental budaya jawanya. Ditambah lagi keluarga keraton yang menggunakan ‘ageman’ (kostum) kebaya lengkap dengan sanggul membuat suasana semakin ‘njawani’ (jawa banget). Belum lagi musik gamelan jawa yang ditabuh secara live dan suara merdu beberapa ibu menembangkan beberapa lagu semakin membuat adem hati dan pikiran saya. Dan lagi-lagi, banner wifi id yang disupport oleh PT Telkom Indonesia begitu setia menemani perjalanan kami, semakin membuat nyaman suasana 🙂

Saat sedang asyik menikmati semua itu, tiba-tiba di luar ruangan ada tampilan (semacam) drumband dari barisan pengawal. Sontak membuat saya lari keluar ruangan untuk mengabadikannya.

Performance Bapak-bapak prajurit
Performance Bapak-bapak prajurit

Dan begitu penampilan drumband selesai saya kembali lagi keruangan lalu duduk disalah satu barisan kursi kayu bertuliskan “KERATON SURAKARTA”

Penampilan Tari Serimpi Sangupati

Sungguh pengalaman ini begitu berharga buat saya. Dan saya cukup terkesan dengan semua ini. Bersyukur saya mengenal dunia blog, karena berkat blog saya merasa tersanjung dan mendapat kehormatan besar masuk ke dalam Keraton Surakarta. Dengan sambutan yang sangat ramah dan baik, saya juga bisa melihat bagaimana gemulainya 4 penari Serimpi Sangupati (terus terang baru kali ini saya melihat gerakan tari Serimpi sebenarnya, biasanya cuma dengar nama tariannya saja). disini saya baru tau, rupanya kembang beterbaran dilantai itu tidak disebar dengan tengan tapi dengan kaki. Mungkin sebelumnya kembang itu disimpan didalam jarit si penari lalu saat penari menyibakkan jaritnya kebelakang dengan salah satu kaki, kembang-kembang itu dengan sendirinya menyemprotkan kebelakang dan beterbaran dimana-mana.. ih beneran kereen banget..

Tari Serimpi Sangupati *Perhatikan minuman dimeja berwarna merah itu, menggoda.. awalnya saya kira parfum kok hehe*
Tari Serimpi Sangupati
*Perhatikan minuman dimeja berwarna merah itu, menggoda.. awalnya saya kira parfum kok hehe*
Tari Serimpi Sangupati *Adegan menuang minuman ke dalam gelas (sloki)*
Tari Serimpi Sangupati
*Adegan menuang minuman ke dalam gelas (sloki)*

 Apalagi waktu ditengah-tengah menari, 2 penari menuangkan air merah dari botol kepada 2 penari lainnya, lalu air itu diminum. Ih, baru kali ini saya melihat tarian yang sangat indah. Dan herannya semua adegan itu dilakukan dengan gemulai dan betul-betul dengan gerakan tari. Luwes, penuh penghayatan dan sempurna. Saya aja yang melihat, sampai takut sendiri kalau-kalau terjadi kesalahan gerakan hehe..

Tari Bondoyudo Tariannya keren, penarinya juga oke punya hihi..
Tari Bondoyudo
Tariannya keren, penarinya juga oke punya hihi..

Tarian selanjutnya adalah tari Bondoyudo. Tari ini dibawakan oleh 2penari laki-laki dengan masing-masing membawa tameng dari anyaman bambu dan pentungan. Dari gerakan-gerakannya sih, tarian ini seperti tarian perang. Gerakannya oke juga, apalagi melihat penarinya, malah makin oke hihi..

Matur nuwun ingkang sanget kepada Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah yang telah menyambut kami dengan baik dan ramah

Berikut foto-foto lainnya:

Foto Raja Susuhunan Paku Buwono XII
Foto Raja Susuhunan Paku Buwono XII
Foto Raja Paku Buwono XIII Sinuhun Hangabehi. Foto itu bukan sembarang foto tetapi dibuat dari serpih-serpih batik sehingga kalau diperhatikan dari dekat detail-detail corak batik akan tampak
Foto Raja Paku Buwono XIII Sinuhun Hangabehi. Foto itu bukan sembarang foto tetapi dibuat dari serpih-serpih batik sehingga kalau diperhatikan dari dekat detail-detail corak batik akan tampak
Saya didepan Pendopo komplek Kedhaton
Saya didepan Pendopo komplek Kedhaton

 

 Secara keseluruhan kunjungan ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini sangat mengesankan. juga embel-embel kerajaan yang biasanya terdengar menakutkan, ternyata sangat menyenangkan. Itu menambah nilai plus bahwa Keraton Kasunanan Surakarta perlu dijaga dan dilestarikan sebagai pusaka bangsa dan warisan dunia jangan sampai kemajuan teknologi dan modernisasi merenggut warisan yang telah turun temurun menjadi pusaran sejarah bangsa ini.

17 thoughts on “Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sejarah dunia warisan luhur budaya jawa

  1. senangnya masuk keraton sekaligus bisa menyaksikan taria2n….,kalau jalan sendiri sepertiku dulu mana bisa ..
    beuntung ya mbak ikut acara ABF ini

    1. Kalau ke Kraton Jogya dan di jamu seperti itu rasanya harus menunggu undangan lagi dari Komunitas ASEAN BLOGGER #eh 😀

    1. Betul Mbak, soalnya sebelumnya belum pernah masuk ke dalam kraton, biasanya cuma sebatas pendopo aja

  2. Senangnya bisa berpartisipasi dalam acara keren itu, Yun… dan terima kasih sudah berbagi pengalaman disana… Wiih,jadi penasaran dg penari Bondoyudo itu.. *salahfokus*

    1. Hahaha.. gara-gara melihat penari itu, saya yang awalnya duduk paling belakang, rela maju kedepan. Sok-sok an mengabadikan moment padahal mau nonton sipenarinya *ketularan salah fokus* 😀

  3. Mantap acaranya Asean Blogger. Terkadang pengen ikut komunitas blog mbak, tapi ya terkadang waktu tidak memungkinkan, hiks hiks..
    Padahal asik banget ya bisa jalan2 rame-rame sambil sharing.
    Anyway, kayaknya ke Solo asyik juga ya.. 🙂 Jogja sudah terlalu mainstream..

  4. Momen yang berharga ya Jeng Yuni, diundang acara di keraton menikmati suguhan budaya luhur, apresiasi untuk blogger dari berbagai pihak. Salam

Leave a Reply