Parenting

Menjadi Kondektur

Tadi pagi iseng-iseng saya buka-buka lemari buku. Disana saya menemukan sebuah buku kenangan saat SMK dulu. Sebetulnya sih bukan buku beneran hanya berupa lembaran fotokopian yang saya kumpulkan jadi lembaran buku.

Ceritanya dulu itu saat kelas 3 SMK saya ingin membuat sebuah buku kenangan untuk teman-teman sekelas. Karena sekolah tidak mencetak buku kenangan akhirnya saya berinisiatif menyusun sendiri dengan meminta teman-teman sekelas membuat semacam biodata pribadi masing-masing pada selembar kertas HVS. Dengan selembar HVS itu mereka boleh menulis apa saja seperti puisi, pantun, gambar atau apapun asal unik dan kreatif serta foto mereka.

Kumpulan-kumpulan HVS itu saya fotokopi lalu saya bagikan kepada mereka.

Tidak mudah saat itu menyuruh mereka membuat biografi. Ada saja alasannya. Katanya: β€œGae opo nggawe buku kenangan?”

Begh. Rasanya pengen aja jitak kepala mereka satu-satu, mereka baru menyadari setelah saya jelaskan fungsinya.

Oke. Mungkin saat itu buku sepertiΒ  itu gak ada apa-apanya dan sama sekali gak penting, tapi sekarang? Setelah 13 tahun berlalu?

Kalau saya bilang buku itu sangat-sangat sederhana sekali. Dan yang saya suka adalah kekreatifannya mereka dalam membuat goresan-goresan gambar dan puisi sederhana dengan bahasa yang sederhana pula hingga membuat saya tiba-tiba kangen ketemu mereka.

Saya buka satu persatu halaman bergambar yang saya susun sesuai buku absen sambil tertawa baca tulisan-tulisan mereka. Foto dan nama-nama yang mereka ragkai dengan font cara mereka sendiri membuat saya kagum bahwa ternyata temanku-temanku dulu itu romantis-romantis dan pintar merangkai kata walau terkesan lebai. Namun justru kelebaian itu yang membuat saya kangen dengan masa-masa remaja.

Hingga tibalah saatnya saya membuka halaman yang paling belakang. Sesuai abjad, nama sayalah yang selalu paling bawah sejak SD dulu. Disitu saya menulis Nama, alamat rumah (waktu itu belum punya telpon), dan beberapa coretan-coretan aneh.

Ada satu tulisan yang tiba-tiba membuat saya kaget dan tertawa. Saya menulis begini: Sebenarnya saya bercita-cita ingin menjadi Kondektur!

Hah?

Kenapa saya dulu menulis begitu ya?

Gak ada kerennya sama sekali, cita-cita kok jadi kondektur bis! πŸ˜€

Oke, mungkin itu ungkapan polos saya waktu itu. Tapi jujur sejak dulu saya ingin sekali menjadi seorang kondektur bis.

Iya, kondektur. Yang kerjaannya berdiri didekat pintu bis sambil naik turun jika ada penumpang akan naik atau turun. Sepertinya saya akan tampak keren dengan balutan seragam warna orange memakai tas pinggang berisi duit recehan sambil ditangan menggenggam segepok duit kertas dan segepok karcis, berjalan dari belakang ke depan minta ongkos kepada penumpang. Keren, kan?

Saya juga akan tampak gagah mengetok-ngetok duit recehan di kaca pintu bis sambil teriak kencang, β€œKiriii!!!” sebagai aba-aba supaya sopirnya berhenti.

Sampai sekarang pun kalau melihat kondektur wanita atau kenek perempuan saya suka iri. Kenapa saya dulu gak bisa ngejar cita-cita jadi kondektur. Padahal saya pernah lho berdiri dipinggir pintu dengan kaki sebelah. Saya juga bisa nurunin penumpang terus lari ngejar bis. Narikin ongkos penumpang kemudian meluruskan uang-uang kertas saya juga bisa.

Tapi apa kondektur itu juga termasuk cita-cita? πŸ˜€

17 thoughts on “Menjadi Kondektur

  1. Kan sekarang juga jadi kondektur …
    Tiap bulan juga narik setoran
    Kalau suaminya nakal di suruh tidur di luar πŸ˜€

  2. Mengenai Album itu …
    sama persis seperti saya Yun …
    Dulu waktu SMA juga ketua kelas meminta kita untuk menuliskan biodata dsb dsb dsb …

    hanya bedanya adalah … ada temen yang nggambar kartun tapi mukanya diganti foto muka kita …

    Mengenai Kondektur ?
    mmm … no comments …
    (tapi cekikikan)

    Salam saya Yun

  3. Aku juga masih simpan buku kenangan waktu SMA.
    Kayaknya mulai sekarang kalau naik bis harus perhatiin kondekturnya. Kalau perempuan perlu diamati, siapa tau mbak Yuni.. hihihi

  4. haha…. cita2nya keren lho Yun… pasti karena seneng jalan2 jadi biar gratis jadi kondektur saja.. πŸ™‚
    hm…jadi ingat dulu pernah juga punya buku semacam itu…nyelip di mana ya?…

  5. jaman aku dulu namanya buku diary ya mbak jadi kami menulis data-data disana. Mungkin waktu kecil gak ngerti kondektur itu apa ya, tapi kondektur juga pekerjaan yang mulia kok hehehe yang penting halal

  6. Mbak Yuni jangan-jangan dulu terkesan melihat penampilan seorang kondektur. Entah tetangga entah emang kondekturan benaran di Bus. Mungkin karena dia megang duit banyak kali ya Mbak? Hehehe..

  7. mbaaaa…
    keren sih cita citanyaaa:)
    dulu aku sempet kepikiran pengen jadi pramugari…
    tapi kepentok lagi ama antimo…hihihi…
    *gak elit*

    Tapi jaman aku sekolah dulu juga kita suka tuker2an buku kenangan lho mbaaa…
    unyu sekali yah kita ituuuh…hihihi..

  8. Ya ampuun, mbak… Kondektur? Ckckck, ternyata cita2 Mbak Yuni sederhana banget *ngikik
    Kok bukan sopir bis-nya ya? Kan sopir keren tuh, bisa ngebut2an di jalan. Hehe…

  9. kondektru ? wajar mba masih kecil, kan belum tahu mana yg prospek bagus mana yang tidak πŸ™‚
    kalau aku konsisten sih, dr dulu mau jadi koki, tp sampai sekarang baru bisa masak sayur sop & sayur asem aja, hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *