Jalan-jalan

Blusukan desa Kanor, Bojonegoro

Istilah blusukan emang lagi ngeksis di era sekarang. Tapi bukan karena supaya dianggap eksis, lho, kenapa saya menggunakan istilah blusukan di judul postingan ini. Sukur-syukur kalau setelah ini ada yang mengajak saya eksis hehe..

Ketika tercetus istilah blusukan emang nyatanya saya habis pulang blusukan. Bagi orang Jawa istilah blusukan dikaitkan dengan sesuatu yang ‘mblusuk-mblusuk’ alias kegiatan yang dianggap kurang kerjaan (kadang-kadang juga amat penting dengan tujuan meninjau). Waktu masih kecil dulu saya sering disebut sebagai tukang blusukan. Tiap kali pulang main dengan keadaan serba kotor Ibu saya suka menegur begini: “Blusukan tekan endi ae jam yamene lagek mulih!” (blusukan dari mana aja jam segini baru pulang!). Dan sekarang ketika keadaan serba berubah, istilah blusukan dipandang sebagai kegiatan yang sangat perlu dilakukan, termasuk mengajak blusukan blogger apabila ada pembukaan hotel maupun restoran *mau pke banget*. 😀

Blusukan yang saya lakukan minggu kemarin adalah blusukan desa di Kabupaten Bojonegoro. Cukup aneh mengingat Bojonegoro bukan kampung halaman saya. Bahkan tak ada satupun saudara yang tinggal di Bojonegoro, tentu saja kecuali teman-teman blogger yang saya kenal melalui dunia maya. Asli, blusukan kemarin itu benar-benar dengan tujuan mbolang! Modalnya cuma nekat. Lha wong tiket kereta menuju kesana aja sangat murah, tiga rebu rupiah!

Sebelum melakukan blusukan saya terlebih dulu bertemu Bapak Camat Kanor. Kebetulan desa yang akan diblusuki masuk dalam wilayah Kecamatan Kanor.

Bagi warga setempat, Kecamatan Kanor termasuk dalam daerah yang sering langganan banjir. Lokasi desa yang dikupengi sungai Bengawan Solo membuat desa ini mudah sekali diterjang air luapan dari sungai Bengawan. Namun tahukah teman-teman bahwa meski berada di lingkungan ‘tidak aman’, tetapi desa-desa di Kecamatan Kanor memiliki banyak keistimewaan.

Ketika saya bersama teman Komunitas Bojonegoro tiba di kantor Kecamatan Kanor, saat itu sekitar pukul 20.00, Pak Camat Kanor, Bapak Subiyono, telah menunggu dengan sabarnya. Malam itu suasana Kecamatan sudah bukan suasana jam kerja sehingga hanya tampak beberapa petugas Pamong Praja yang setia menanti Pak Camatnya ‘kondur’.

Begitu tiba di depan ruangan kantor Camat, Pak Subiyono segera menyambut kami dengan hangat dan ramah. Pak Camat seolah memahami keterlambatan kami, yang tampak jelas dari pakaian setengah basah yang melekat dibadan kami.

Di sela-sela obrolan, Pak Subiyono menceritakan keistimewaan wilayah yang dipimpinnya. Dari sekian keunggulan saya sangat tertarik mengenai fakta yang mengungkapkan bahwa Kecamatan Kanor telah melahirkan putra-putra terbaik yang berjasa membesarkan negeri ini. Ada beberapa orang, Drs. Suyoto yang lebih dikenal dengan sebutan Kang Yoto, Bupati Bojonegoro yang saat ini masih menjabat, Serta Kyai Anwar Zahid, penceramah fenomenal yang tekenal dengan potongan ceramahnya, “Qulhu ae, Lek!”. Konon Bapak Soedharmono, mantan wakil presiden RI, juga pernah tinggal di Kanor.

Selain beberapa nama hebat, Kecamatan Kanor juga memiliki potensi wisata yaitu Masjid Nurul Huda yang disebut-sebut sebagai masjid tertua di Bojonegoro dan desa Kampung Nelayan.

Hari beranjak malam ketika Pak Camat kemudian mengajak kami menikmati hidangan makan malam dengan menu sederhana namun kenikmatannya begitu mewah. Yaitu menu sambelan dan nasi hangat. Usai menemani makan malam, Pak Subiyono pamit undur diri dan kami disediakan tempat untuk menginap.

Lingkungan Kecamatan Kanor menurut saya sangat ramah. Maksud saya ramah signal. Saya tak perlu repot-repot menghidupkan data di smartphone, tapi cukup memanfaatkan wifi. Jangan heran, walau Kecamatan Kanor jaraknya 20 kiloan dari Kota, namun fasilitas yang diberikan lumayan modern. Ada lapangan volly, lapangan sepak bola, ruangan tenis meja, serta pendopo yang dilengkapi kursi untuk internetan. Sengaja Pak Camat menata itu semua untuk mempersilakan warga yang membutuhkan akses internet. Harapannya seluruh warga desa dapat mengenal internet dan segala pemanfataannya.

Foto bersama Pak Camat Kanor, Kab. Bojonegoro, Bapak Subiyono
Foto bersama Pak Camat Kanor, Kab. Bojonegoro, Bapak Subiyono

7 thoughts on “Blusukan desa Kanor, Bojonegoro

  1. OOT …
    Komunitas Blogger Bojonegoro ini kompak … saya lihat waktu BN 2013 kemarin bagaimana mereka erat satu sama lain …
    dan kemarin saya lihat salah satu kaos … yang difoto oleh Mas Rinaldy … kalau tidak salah bunyinya
    Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa … Satu Data !

    (waw … dalem maknanya …)

    salam saya Yuni
    (2/1 : 15)

  2. Kapan komunitas blogger berkunjung ke Kanor, lagi?
    Saat ini akses internet gratis di kantor kecamatan sudah jauh lebih cepat lagi loh, pakai fiber optik 🙂

    Selain masjid tertua di Bojonegoro dan kampung nelayan Desa Kabalan, Kanor juga terkenal sebagai wilayah penghasil padi dengan produktivitas tinggi loh. Turut menyumbang 20% produksi padi di Bojonegoro. Sehingga sering dikunjungi pejabat dari luar wilayah, mulai Gubernur, Bank Indonesia, Kementerian Pertanian, Kepala Staf Angkatan Darat, lembaga asuransi pertanian dari Jepang dll.
    Saat ini di desa Sarangan Kec. Kanor sudah mulai dirintis pengembangan sirkuit motorcross. Di sebelah desa Sarangan, ada desa Tejo, punya embung/ waduk desa yang nantinya dikembangkan sebagai wisata pemancingan ikan dan kuliner. Desa-desa lainnya juga akan menyusul mengembangkan potensinya masing2 🙂

    Kami tunggu kunjungan kembali kawan-kawan blogger di Kanor, ya.

    NB: untuk mengetahui info tentang wilayah Kanor, dapat juga mengakses web kami di alamat: kanor.bojonegorokab.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *