Jalan-jalan Modal 100ribu ke situs Trowulan Mojokerto

Jalan-jalan modal 100 ribu bisa kemana?
Kemana yaa, bisa sih kemana-kemana asal tidak keluar negeri hihi..
Mau keluar pulau, bisa.. tapi pulau Madura πŸ˜€
Kalau lagi pengen keluar kota tujuan saya kalau nggak ke Pandaan, Malang, ya Mojokerto. Soalnya 3 kota itu yang punya banyak tempat menarik dan murah meriah.

Nah kebetulan BLOG JALAN JALAN sedang ngadakan Giveaway jalan-jalan dengan modal 100 ribu. Ikutan ah..

Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Mojokerto. Tau kan ya Mojokerto memiliki banyak peninggalan Kerajaan Majapahit. Dan jelas saya kesana ingin mengunjungi situs peninggalan sejarah di Trowulan yang memang paling banyak menyimpan peninggalan bersejarah. Situs yang saya kunjungi adalah Candi Brahu, lokasinya didesa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Kalau ditempuh dengan motor, jarak Surabaya – Trowulan sekitar 2 jam-an saja. Untuk berapa kilometernya saya gak ngukur, kata Mbah Google, sih kurang lebih 45-50 kilometer. Matur nuwun, Mbah πŸ™‚
Yang jelas saya isi bensin motor full tanki 20ribu bisa dipakai buat pulang pergi.

Sebelum berangkat isi perut dulu supaya dijalan gak beli-beli makanan. Buat bekal dijalan saya bawa botol minuman, jadi kalau istirahat sewaktu-waktu tinggal teguk. Bisa hemat waktu dan hemat biaya dong..

Enaknya Jalan-jalan pagi itu kondisi lalu lintas lancar. Gak barengan sama yang berangkat kerja. Paling-paling macetnya pas di lampu merah bypass Krian dan Mojokerto. Karena saya niatnya jalan-jalan, jadi gak begitu ngejar kecepatan. Santai aja sambil menikmati pemandangan jalanan.

Ke Candi Brahu adalah kunjungan pertama saya. Gara-garanya pas sedang lewat Mojokerto secara tak sengaja saya melihat tanda panah yang mengarah ke gang masuk dengan tulisan CANDI BRAHU tepat sebelah kanan dari jalan raya Trowulan, beberapa kilometer sebelum menuju ke Terminal Mojoagung. Seketika tanda itu membuat saya terperangah dan berniat akan berkunjung sewaktu-waktu.
Dan begitulah, begitu ada kesempatan langsung saja saya ajak Suami kesana. Selain itu saya juga penasaran sama patung Budha Tidur yang konon letaknya di Mojokerto juga. Sudah lama pengen kesini..

Candi Brahu Trowulan keseluruhan
Candi Brahu Trowulan keseluruhan

Begitu motor sudah melalui jalan raya Trowulan, saya minta Suami untuk mengurangi kecepatan. Dan saya sibuk menajamkan pandangan ke arah kanan jalan mencari gang yang ada tanda panah bertuliskan CANDI BRAHU. Maklum, saya takut gang nya terlewati. Soalnya kalau sudah kelewatan, mutar baliknya akan sulit, apalagi lihat ukuran kendarannya yang guedhe-gedhe begitu.. ngeri.
Dan begitu gangnya terlihat, Suami langsung nyalakan sein kanan. Syukur nyebrangnya mudah πŸ˜€

Dari jalan raya, gang masuk menuju Candi Brahu kelihatan sempit. Tapi begitu didalam, muat kok buat dua mobil. Setelah tanya penduduk 2 kali, sampailah saya di Candi Brahu.

Candi Brahu diperkirakan dibangun pada abad 15 ini nampak terawat bersih. Selain rerumputan hijau memenuhi areal Candi, disana juga terdapat banyak sekali pohon buah Maja. Pohon-pohon ini semuanya berbuah, ukurannya sebesar buah melon. Dalam mitos, buah Maja adalah cikal bakal nama kerajaan Majapahit. Konon buah Maja rasanya pahit, sehingga disebut Majapahit.

Sudah seperti backpacker ulung gak sih? :D
Sudah seperti backpacker ulung belum sih? πŸ˜€

Karena Candi ini situs bersejarah, maka tak sembarang orang boleh naik ke atas Candi. Ditakutkan Candi setinggi 20 meter dengan bahan utama batu merah ini akan runtuh. Setiap hari areal Candi ini dibersihkan, itu terlihat dari aktifitas petugas yang menyapu seluruh halaman dan menyirami tanaman yang ada disana. Petugas itu begitu ramah menyapa siapa saja yang datang ke Candi itu. Waktu saya tanya-tanya petugas juga menjelaskan dengan baik. Malahan waktu saya melihat ada buah keres berwarna merah, petugas menyuruh saya mengambil buahnya.

β€œAmbil saja, mbak. Gapapa, kok”

Saya tersenyum aja. Gak enak juga mau ambil buah disana. Itukan cagar budaya, takut kenapa-napa πŸ˜€

Dilarang naik, nampangnya dibawah aja ya :P
Dilarang naik, nampang dibawah aja ya.. Tak lupa botol minumnya diajak juga πŸ˜›

Untuk masuk ke dalam Candi, pengunjung hanya diminta mengisi buku tamu. Waktu saya tanya, karcis masuknya berapa, petugas menjawab β€œseikhlasnya”. Okelah karena gak ada ketentuan karcis masuknya, dan parkir motorpun gak ditarik petugas, saya tinggalin uang sepuluh ribu.

The Sleeping Budha

Sebelum lanjut jalan, saya tanya dulu lokasi The Sleeping Budha alias patung Budha Tidur. Oleh seseorang saya dikasih ancer-ancer arah menuju patung Budha Tidur. Ternyata oh ternyata.. patung Budha Tidur masih dalam lingkup satu desa dengan Candi Brahu, yakni desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Jaraknya sekitar 300 meter dari Candi Brahu. Untuk menuju Maha Vihara Trowulan tempat patung Budha Tidur saya tidak perlu keluar ke jalan raya. Sesuai petunjuk yang diberikan warga saya hanya melalui jalanan desa yang rata-rata penduduknya menjadi pengrajin arca.

Maha Vihara Trowulan ini sebelumnya digunakan ibadah khusus untuk komunitas Budha, namun karena patung ini menjadi patung terbesar ketiga didunia setelah Thailand dan Nepal maka keberadannya menjadi daya tarik wisata tersendiri. Dan pengelola pun menyadari dengan membuka gerbang seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin berkunjung disana tanpa menarik bayaran.

Sebelum masuk ke dalam, saya parkir motor dulu didepan gerbang Vihara. Rupanya keberadaan patung Budha Tidur ini menjadi berkah tersendiri buat penduduk sekitar. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari pengunjung Vihara seperti jualan jajanan atau jasa penitipan motor.

Saya amati patung Budha Tidur ini ukurannya memang besar. Dari referensi yang saya baca, patung Budha Tidur dibuat tahun 1993 dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Meski terbuat dari beton namun hasil pahatannya halus sekali. Warna emasnya begitu alami. Konon patung ini dipahat oleh perajin dari Trowulan sendiri.

Sang Budha dalam keadaan tertidur

Dibawah Patung Budha Tidur terdapat relief-relief kehidupan sang Budha dengan kolam air yang ditumbuhi tanaman teratai. Untuk mencegah tangan-tangan jahil, patung Budha ini dikelilingi pagar aluminium.

Dari cerita yang saya dapat, setiap hari patung ini ramai dikunjungi. Tak hanya orang dewasa saja, tetapi anak-anak sekolah juga banyak yang berkunjung kesini.
Seperti saya, mungkin mereka penasaran ingin melihat Siddharta Gautama yang wafat dalam kondisi tertidur.

Patung Budha Tidur

Puas melihat dan berfoto didepan patung Budha saya pun kembali ke Surabaya, setelah sebelumnya bayar ongkos parkir 2 ribu. Melihat banyaknya jajanan saya beli bakso cilok 2 bungkus harga 6 ribu plus air mineral (2 botol @500ml) 6 ribu (persediaan air dibotol sudah habis :D)

Sesampai di Surabaya, karena perut keroncongan saya mampir dulu ke baksonya Pak Salam, bakso langganan di daerah Ketintang dekat kuburan. 2 porsi bakso ditambah lontong dan es jeruk habis 20 ribu.

Jadi kalau ditotal-total berapa ya, modal seratus ribu sisa banyak kayaknya..

Kita rinci, ya:
Bensin 20 ribu
Ke Candi Brahu 10 ribu
Parkir di Maha Vihara 2 ribu
Jajan bakso cilok 6 ribu
Beli minum 6 ribu
Beli bakso 20 ribu
Total semuanya 64 ribu
Yihaa 100 ribunya sisa banyaaaak…

Yang ingin mengenalkan anak-anak sekaligus wisata edukasi situs sejarah di kerajaan Majapahit bisa lho jalan-jalan ke Mojokerto. Wisatanya murah-murah tapi tidak murahan. Kalau ingin eksplorasi lebih banyak mengenai sejarah Majapahit bisa juga berkunjung di Museum Trowulan. Bayarnya Cuma 5 ribu aja.

15 thoughts on “Jalan-jalan Modal 100ribu ke situs Trowulan Mojokerto

Leave a Reply