Nyasar di perpustakaan

Di sudut ruang pelayanan ada sebuah pintu yang menarik perhatianku. Dari kejauhan tertangkap sebuah pemandangan yang menurutku sedikit aneh, sebuah komputer dengan beberapa anak mengerubunginya serta beberapa mbak-mbak muda sedang asyik dimejanya.

Kucoba mendekati kusen yang pintunya terbuka lebar. Saat kulongokkan kepala ternyata dibagian kirinya terdapat jajaran buku yang berdiri rapi yang ditata menurut jenis dan golongannya pada sebuah tatakan kayu panjang bertingkat.

Mataku terperangah takjub.

“Silakan masuk mbak..” seru sebuah suara. Aku pun tertegun. Dan aku pun mencari sumber suara sekaligus melayangkan senyum.

“E.. saya sedang ngambil e-KTP, mbak”

Si mbak yang tadi memanggilku mendekati seraya menyodorkan buku besar untuk kuiisi.

“Silakan baca-baca dulu, mbak. Boleh juga dipinjam..”

Seketika aku tertarik untuk masuk dan ingin melihat lebih jauh tentang ruangan itu.

Ditengah-tengah rak, beberapa anak sedang sibuk mengerjakan tugas ketrampilan diatas sebuah matras lebar. Mereka bekerja berkelompok menyelesaikan pekerjaan sekolah. Dipojokan rak bagian ilmu pengetahuan, 2 anak berseragam SMP sedang asyik mencari-cari buku. Barangkali saja mereka sedang mencari literatur.

Melihat judul buku yang tertata apik dan rapi itu mataku seolah kalap. Rasanya ingin semuanya kulahap saat ini juga. Ingin kuraup buku-buku itu lalu segera kujejalkan kedalam gudang otakku.

Ruangan ini begitu indah dan nyaman. Tulisan-tulisan penyemangat membaca buku yang ditulis didinding dengan font serta warna ala anak-anak membuatku sangat terkesan. Ditambah lagi fasilitas tambahan bagi pengunjung semakin membuat betah berlama-lama disana.

Walaupun fasilitasnya terbatas (komputer 1 unit yang bebas digunakan pengunjung untuk berselancar maya serta meja besar untuk digunakan anak-anak mengerjakan tugas) namun tak mengurangi nilai sebuah perpustakaan dikelas kelurahan.

Buku-buku yang terpajang juga beraneka rupa. Mulai buku-buku tentang UKM, hobi dan ketrampilan, ilmu pengetahuan, bahasa, agama, fiksi, majalah hingga anak-anak.

Ruangannya pun jauh dari kesan berantakan karena di sebelah rak paling pojok terdapat sebuah ‘sampah’ buku, dimana buku-buku yang sudah dibaca harus ‘dibuang’ kesitu sehingga tidak merusak tatanan buku yang sudah berdiri di raknya.

Setelah puas mencari-cari buku, aku pun meminjam sebuah buku milik Dee yang berjudul Filosofi kopi untuk kubawa pulang. Rupanya di perpusatakaan ini seorang pengunjung boleh membawa maksimal 2 buku untuk dibawa pulang dengan jagka waktu meminjam 1 minggu. Ongkos sewanya? Tidak ada, alias gratis! Jaminannya apa? Tidak ada jaminan apa-apa. KTP dan SIM kita aman didompet karena tak perlu ditinggal disana.

Begitulah suasana perpusatakaan kelurahan ngagel rejo, kelurahan yang dari sejak aku kecil hingga dewasa menaungi segala data administrasi kependudukanku.  Sebenarnya sudah lama aku ingin berkunjung kesini. Karena belum ada urusan dikelurahan aku tidak serta merta masuk kesana. Padahal untuk pinjam buku diperpustakaan ini tidak hanya dikhususkan bagi warga yang sedang ‘berurusan’, tetapi sengaja dibuka untuk semua warga kelurahan yang ingin meminjam buku.

Konon perpustakaan Ngagel rejo ini adalah perpustakaan terbaik tingkat nasional dan baru-baru ini mendapat award Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 kategori lomba perpustakaan desa tingkat nasional dengan menyisihkan 500-an perpustakaan kelurahan se-Indonesia. Kabar ini juga aku taunya dari teman yang berdinas di perpustakaan daerah kota Lamongan Jawa Timur setelah sebelumnya aku bercerita bahwa di kelurahan ngagel rejo memiliki perpustakaan.

Awalnya sih sempat tak percaya tapi setelah googling dengan keyword Perpustakaan terbaik nasional, ternyata memang betul.

Dari hasil googling itu aku mendapat jawaban mengapa perpustakaan kelurahan ngagel rejo kecamatan wonokromo ini bisa meraih juara. Yaitu karena buku-buku yang dimiliki kelurahan ngagel rejo ada lebih dari 1.000 buku dan memiliki katalog serta karena memenuhi syarat administrasi  yakni adanya struktur organisasi perpustakaan.

Dan menurut Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini Pakistianingsih, yang dilansir dari situs antar jatim.com

Perpustakaan Ngagelrejo tidak hanya telah berhasil mendongkrak minat baca masyarakat tapi turut mendorong perekonomian dan pemberdayaan masyarakt melalui pembinaan dan pengelolaan UMKM. Disamping itu, sejumlah inovasi dikembangkan di perpustakaan itu di antaranya fasilitas baca bagi penyandang tuna netra serta fasilitas belajar bagi masyarakat di Ngagelrejo. Jadi perpustakaan ini di design menjadi tempat rekreasi yang edukatif yakni sebagai tempat membaca sekaligus rumah belajar yang nyaman. Masyarakat memanfaatkan perpustakaan ini sebagai tempat belajar kedua selain di rumah mereka sendiri.

Sementara itu, Lurah Ngagelrejo Suji widodo menyatakan menyambut gembira atas penghargaan ini. Menurutnya masyarkat terbantu bisa mengembangkan usahanya dari rajin membaca. Saat ini sejumlah usaha UMKM berhasil dikembangkan mulai usaha kuliner, kerajinan hingga pada usaha padat karya. Agar minat baca semakin meningkat, perpustakaan Ngagelrejo juga menggelar kegiatan sekolah terbuka bekerja sama dengan SMPN 12 Surabaya. Dari situ minat baca terutanma anak-anak semakin meningkat sehingga semakin rajin mengunjungi perpustakaan”

Suasana Perpustakaan Ngegal Rejo
Suasana Perpustakaan Ngegal Rejo
Adik2 SMPN 12 memanfaatkan komputer dan sebagian lagi mengerjaka pekerjaan sekolah
Adik2 SMPN 12 memanfaatkan komputer dan sebagian lagi mengerjaka pekerjaan sekolah
Tempat parkir perpustakaan yang penuh dengan gambar da tulisan motivasi
Tempat parkir perpustakaan yang penuh dengan gambar da tulisan motivasi

Kalau di kelurahan teman-teman bagaimana, ada perpustakaannya juga? 🙂

 

18 thoughts on “Nyasar di perpustakaan

  1. Hebat deh Mbak masyarat Ngagelrejo ini, menyediakan buku untuk dipinjam dan dibawa pulang. Basisnya kepercayaan saja ya..Ini murni pendidikan nih, mencerdaskan orang tanpa perlu mencurigainya..:)

  2. whuihh klo aku jadi Yuni, kayaknya bakal rajin nangkring disitu.. hehhe.

    Di bukik, ada perpustakaan yang cukup bagus yaitu perpustakaan Bung Hatta.. tapi tempatnya jauuhh susah dijangkau.

  3. Nyasar di perpustakaan …? Itu mah biasa atuh, malah bagus dapat tambahan ilmu 🙂

    Yg ‘ruaarrr biasa kalo nysar ke kamar @brus …di jamin ‘kenyang deh … 😉 …karena disitu banyak ‘cemilan … hahahah 😛

  4. di kelurahan saya malah kayaknya nggak ada perpustakaan, bukan hanya itu di tingkat kecamatan pun sepertinya nggak ada. Maka apa yang telah dilakukan kelurahan Ngagel Rejo patut diacungi jempol dan patut ditiru oleh kelurahan seluruh indonesia

  5. wah enak banget ya.. kalau di Cirebon adanya perpustakaan 400, luas sih tapi kesan bangunannya udah tua.. saya juga suka pinjam disana kalau lagi mood baca buku hehe. Saya jadi kangen saat dulu saya jadi kutu buku sekarang gak tahu kutunya pindah kemana ya 😀

  6. Duh mba Yuni,
    sejak lulus kuliah, sepertinya aku udah lamaaaa banget gak main main ke perpustakaan nih…hihihi…

    Sepertinya perpus nya lumayan lengkap yah mba…

    duh, filosofi kopi mah ngapain pinjem disonoh, daku juga punya buku itu mah…hihihi…

  7. Top banget. Di kelurahan saya, gak tahu juga ada apa enggak, tapi saya sendiri bercita-2 pengen punya pustaka kecil juga…. Yg bisa dipinjam oleh tetangga2lah… Asal dipulangin hahah..

  8. Perpustakaan di tempatk saat ini belum bgitu di kenal mba tapi perpustakaan di Bandung tempat masa kecilku adalah tempat favorit. Di sana banyak koleksi yg bisa dipinjam ke rumah. Untuk program lebih kurang sama tapi kayaknya perpustakaan tempat Mba Yun lebih keren 😀

  9. Alhamdulillah Yun.. di kota kami sedang dirintis perpustakaan & telecenter tk RW… mudah2an semakin mendorong minat masyarakat utk membaca 🙂

Leave a Reply