Pantai Teluk Hijau, mutiara tersembunyi di Banyuwangi

Siapa yang nolak diajak ke pantai. Jalan-jalan ke pantai itu mengasyikkan. Biarpun harus menerobos cuaca yang terik tapi akan terbayar lunas dengan suguhan pemandangan yang memukau. Ombaknya, lautnya, pasirnya dan romantisnya *ehem*.
Kuncinya hanya satu jika ingin berlama-lama dipantai yaitu bawa perbekalan yang tepat. Terutama minuman untuk menjaga terhindar dari dehidrasi. Salah satu minuman yang pas untuk dibawa jalan-jalan ke pantai adalah Herbal Tea.

Beberapa bulan lalu saya dan teman-teman blogger dari Surabaya mengadakan perjalanan wisata ke kota Banyuwangi. Salah satu destinasi yang dituju adalah Pantai Teluk Hijau atau Teluk Ijo atau Green Bay. Wah, baru tau ada pantai bernama Teluk Hijau. Biasanya pantai identik dengan biru tapi kenapa satu ini bernuansa hijau? Hmm.. penasaran..

Pantai Teluk Hijau berada di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya sekitar 90 km arah barat daya Banyuwangi. Pantai ini masuk dalam wilayah konservasi Taman Nasional Meru Betiri.

Perjalanan menggapai pantai Teluk Hijau seolah petualang menjelajah alam. Ibarat peribahasa β€˜Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian’, kalau ini berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak kemudian πŸ˜€

Setelah melalui perjalanan panjang, berkelok dan berliku, mobil trooper yang kami sewa tiba di Pantai Rajegwesi. Kalau ditanya berlikunya seperti apa, ya berliku banget pokoknya pakai goyang oplosan segala. Efek ber off road ria. Medan yang dilalui si trooper gak hanya aspal, tapi juga kerikil-kerikil tajam yang kadang-kadang disertai genangan air. Seru sih tapi lama-lama bikin perut mual. Mungkin efek guncangannya itu.

Medan berliku yang harus dilewati mobil Trooper
Medan berliku yang harus dilewati mobil Trooper

Pantai Rajegwesi adalah akhir petualangan perjalanan si trooper karena untuk menuju pantai Teluk Hijau tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Alternatif nya kalau nggak naik perahu ya jalan kaki.

Setelah melakukan diskusi yang cukup alot, bahkan sampai ada yang abstain segala, akhirnya didapatlah kesepakatan memilih berjalan kaki. Konon, rute jalan kaki sensainya lebih amboy ketimbang naik perahu.
Ah yang beneeer..?

Anak tangga ini menjadi saksi dimulainya petualangan
Anak tangga ini menjadi saksi dimulainya petualangan

Kata penduduk setempat naik perahu lebih cepat sampainya, cuma 15 menit. Sedangkan kalau jalan kaki jaraknya 1 kilometer ditempuh dalam 1 jam plus dapat bonus pemandangan laut dari atas bukit dimana pemandangan ini tidak didapatkan kalau naik perahu. Aih.. penasaraann..

Ya udah jalan kaki saja. Biar makin dekat dengan alam dan membuat badan lebih sehat!

Perjalanan dimulai dengan menaiki anak tangga. Awalnya saya pikir jarak 1 km kedepan medan yang dilalui akan begini terus tapi ternyata nggak, sampai habisnya anak tangga medan yang dilalui berganti menjadi jalan setapak berlumpur.

Menikmati Lukisan Agung

Pantai Teluk Ijo menawarkan berjuta keindahan. Pesona alamnya, pantai yang masih sepi, pasir yang putih dan bersih serta karang-karang kokoh yang begitu alami. Itulah gambaran yang saya tangkap ketika sampai di seperempat perjalanan. Saking terpesonanya saya berhenti dulu untuk mengabadikan apa yang tersaji didepan mata. Tak lupa juga meneguk Teh Liang Teh Cap Panda untuk menambah stamina tubuh. Efek manis teh yang terbuat dari ekstrak tumbuh-tumbuhan herbal ini membantu mempertahankan serta membangkitkan kembali daya tahan tubuh yang sudah banyak terkuras. Kandungan bahan-bahan herbalnya pun pelan-pelang menghilangkan rasa mual yang sejak tadi saya tahan.

Cantik, kan?
Cantik, kan?

Puas narsis-narsisan adegan selanjutnya adalah β€˜perosot-perosotan’. Perosotannya serius nih, bukan mainan punya anak-anak ituu.. Benar-benar berat dan sulit medannya. Jalan yang semula berupa tanah lembek makin lama semakin basah bahkan beberapa ada yang becek. Ditambah tekstur tanah yang lembut yang jika diinjak akan licin, maka mau tak mau kami harus hati-hati. Kalau perlu satu sama lain harus saling membantu sebab kalau tak hati-hati kaki bisa tergelincir ke bawah. Untungnya ada tambang di kanan kiri jalan sehingga lumayan membantu. Memegang ranting saja kurang kuat, bisa-bisa malah rantingnya patah dan saya kebawa jatuh. Biar sudah hati-hati saja masih ada teman yang terpeleset kok sehingga celananya dipenuhi tanah basah.. hihi..

Begini ini jalannya. Kalau nggak hati-hati bisa terpleset :D Foto milik Mas Surya, teman rombongan
Begini ini jalannya. Kalau nggak hati-hati bisa terpleset πŸ˜€
Foto milik Mas Surya, teman rombongan

Ketemu Pantai Batu

β€œAyo semangat!! Pantainya sudah dekaattt…” teriak teman didepan.

Mendengar kata pantai saya pun semangat berjuang memacu kaki agar segera sampai. Maklum tingkat kepo saya sudah tinggi pakai banget. Hasilnya, bukannya cepat sampai tapi saya benar-benar tergelincir, sodara haha.. tapi gak sampai guling-guling kok karena dipegangi sama petugas pemandu dari MER yang menemani kami. MER itu Masyarakat Ekowisata Rajegwesi, sebuah organisasi dibawah naungan Taman Nasional Meru Betiri dimana anggotanya adalah masyarakat sekitar pantai.

β€œ Santai aja Mbak itu bukan Teluk Hijaunya.. Teluk Hijau masih jauh disana. Yang dilihat mereka itu namanya Pantai Batu” jelas Mas-mas dari MER.

Pantai Batu?
Pantai apalagi tuh?

Eh iya bener pantainya banyak batunya lhoo.. pantesan dikasih nama Pantai Batu.

Pantai Batu
Pantai Batu

Biasanya pantai kan identik dengan pasir, tapi ini beda. Pantai Batu memiliki tepian berupa batu-batu alam asli. Ukurannya macam-macam, bentuknya juga. Keaslian batu di pantai ini terlihat dari tekstur dan warnanya. Uniknya lagi batu-batu di pantai ini tertata begitu rapi. Gak mungkin kayaknya kalau manusia yang nata, segitu banyak batu gak yakin manusia bisa melakukannya. Konon batu-batu ini terdampar akibat bencana Tsunami. Karena batu-batu itu masuk dalam konservasi Taman Nasional maka pengunjung dilarang membawa pulang mereka. Pegang boleh, dibawah kemana-mana juga boleh asalkan tidak dibawa pulang.
Sungguh pemandangan di Pantai Batu ini alami sekali. Tebing-tebing tinggi begitu kokoh memancarkan auranya. Hutan-hutam perdu disekitar pantai juga tak kalah memukau.

Sambil menunggu yang lain, yang masih tertinggal dibelakang, saya menghabiskan waktu dengan membersihkan celana dan sandal yang dipenuhi lumpur pakai air laut. Suka aja melihat air laut yang bening. Barulah setelah yang lain sampai dan memberikan waktu isitirahat sejenak saya melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini medannya sama hanya saja derajat ketinggiannya yang berkurang. Tanahnya juga lebih landai.
Asyik, jalannya santai..

Teluk HIjau apa kabaar..

Dari Pantai Batu menuju Pantai Teluk Hijau jaraknya sekitar seperempat kilometer saja. Lokasinya tepat dibalik tebing pantai Batu. Kira-kira jalan 15 menitan-lah.

Dan inilah yang dibilang peribahasa itu.. berperosot-perosot dahulu, berguling-guling dahulu, lalu berjingkrak-jingkrak sambil teriak-teriak tak jelas kemudian hihi

Bagai menemukan mutiara asli, kilaunya pantai ini seketika menghunus nadi. Bagaimana tidak, disaat kelelahan melanda, tanpa diduga tampaklah cahaya putih berkilauan dari balik tebing. Sebuah tanda kayu bertuliskan Pantai Teluk Hijau (GREEN BAY) berdiri diatas pasir putih nan lembut. Dan saya makin yakin pantai Teluk Hijau sudah didepan mata! Yeayyy..

Pantai Teluk Hijau. Inilah mutiara berpendar itu :)
Pantai Teluk Hijau. Inilah mutiara berpendar itu πŸ™‚

Subhanallah.. indahnyaa..
β€œPantai Teluk Hijau lihatlah ada aku disini”

Tak disangka ternyata Indonesia masih memiliki mutiara alam yang berkilau yang kecantikannya begitu menggoda. Mutiara ini masih asli dan alami. Dan saya yakin suatu hari nanti Pantai ini akan menjunjung nama Indonesia ditingkat dunia dalam hal pariwisata pantai!

Wahai orang Indonesia lihatlah negaramu. Negaramu ini indah!

Ternyata melampiaskan kebahagiaan ini tak cukup hanya dengan teriak-teriak dan jingkrak-jingkrak karena semua keindahan alam ini adalah milik Tuhan semesta alam pemilik lukisan agung.

Diantara tebing
Diantara tebing

Pantai Teluk Ijo selain menawarkan berjuta kecantikan, Ia juga memiliki garis pantai yang bersih. Air lautnya.. oh air lautnya berwarna ijo! Bukan biru.. airnya beniing sekali. Jangan takut berenang atau sekedar bergelimpangan diatas pasir karena dipantai ini bebas dari sampah! Iya, pantai ini masih bersih dari sampah. Sejauh mata memandang saya tak melihat sampah sama sekali. Setelah dijelaskan petugas disana saya jadi tau bahwa aturan dipantai ini dilarang membuang sampah sembarangan. Datang gak bawa sampah, pulang wajib bawa sampah!

Yang paling meninggalkan kesan di pantai ini adalah pasirnya. Butiran pasirnya haluus dan tebal. Mau guling-gulingan, mau main istana-istanaan, Bisaa. Di kawasan pantai Teluk Hijau ini juga ada air terjunnya, lho.. nggak tinggi banget sih cuma 8 meter. Tapi sangat cukupan buat mandi dan membasuh badan setelah berendam di air laut. Keren banget kaann..
Lebih menarik lagi di pantai Teluk Hijau tidak ditemukan pedagang asongan. Dan rasanya seolah pantai punya sendiri. Disini satu-satunya penyedia makanan adalah MER. MERlah yang menyiapkan paket-paket wisata plus konsumsinya!

Eh iya, pantai ini juga punya penjaga lho.. ini dia penjaganya:

Hei! balikin kelapa muda itu! :D
Hei! balikin kelapa muda itu! πŸ˜€

Seperti kesepakatan awal, pulang dari Teluk Hijau rombongan memutuskan naik perahu. Iyalah, gak mau kalau harus pulang lagi jalan seperti tadi. Lumpurnya itu licin banget. Alhamdulillah.. tragedi pelesetan sudah berakhir hihi..
Bersama 5 kawan dan 1 nahkoda saya menumpang dalam satu perahu. Iya, perahu disini maksimal diisi untuk 6 orang saja. Setelah memakai jaket pelampung saya duduk di bagian depan perahu. Bukannya sok berani, tapi hanya disitulah tempat satu-satunya kosong. Bagian belakang sudah diduluin teman-teman. *hiks curang*

Sebelum dilepas ke tengah laut, perahu lebih dulu didorong rame-rame.

Mulanya naik perahu ini perasaan saya aman terkendali. Dan begitu berada di tengah laut yang diapit tebing, nyali saya menciut. Ditambah ombak besar lautan yang sedikit-sedikit menggoyang perahu kami.

β€œYa Allah semoga perjalanan ini selamat sampai tujuan”. Walau jujur saya begitu menikmati pemandangan ditengah-tengah laut. Sangat-sangat menyihir mata. Hampir-hampir saya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan moment ini. Sayangnya kamera dan peralatan yang berbau elektronik sudah saya bungkus rapat dan masuk ke dalam tas plastik. Hal ini sebagai antisipasi agar kamera tidak jatuh ke laut atau terkena cipratan air laut.

Saya hanya bisa menuliskan disini gambaran pemandangan itu. Diatas perahu yang berkecepatan sedang saya seperti menyongsong laut dan langit yang keduanya menyatu tanpa sekat. Dinding-dinding tebing menjulang dengan kokohnya. Ombak berayun, air berkecipakan kesana kemari. Ombak, laut, tebing, pepohonan semuanya bersatu dalam bingkai lukisan alam yang nyata. Oh, Indahnya Indonesiaku..

Hihi.. narsis dibelakang perahu sambil bawa batu :P
Hihi.. narsis dibelakang perahu sambil bawa batu πŸ˜›

Lima belas menit sudah berlalu saatnya saya turun dari perahu dan menginjak pasir pantai Rajegwesi. Alhamdulillah selamat sampai tujuan. Saat berjalan menuju tempat istirahat yang nyaman saya baru sadar kalau bibir terasa kering dan tenggorokan seperti gatal. Ah semoga bukan gejala panas dalam. Mumpung belum buru-buru saya buka Herbal Tea Liang The Cap Panda. Hmm.. segaaaar.

 

Jika kau kedinginan, teh akan menghangatkanmu. Jika kau kepanasan, teh akan menyejukkanmu. Jika kau depresi, teh akan membuatmu ceria. Jika kau terlalu gembira, teh akan menenangkanmu – William Gladstone, 1865

(dikutip dari Novel The Teashop Girls)

49 thoughts on “Pantai Teluk Hijau, mutiara tersembunyi di Banyuwangi

  1. pantainya indah asri dan menarik…ada lagi penjaganya..yang berekor panjang…namun sayang jalan menuju pantai yang seperti lintasan Off road itu sungguh menyusahkan orang yang akan kesana…….selamat berlomba…semoga menjadi yang terbaik…..
    keep happy blogging always…salam dari Makassar πŸ™‚

  2. Kita sehati euy..aku juga nulis Teluk Hijau lho mbak.. kebayang nggak si riweuhnya bawa nadia kesana? Tapi seru banget πŸ˜‰
    Sayang aku nggak sempet fotoin si penjaga pantai yg unyi itu πŸ˜‰

  3. Wkwkwk.. Jadi inget kalok naik gunung tuh selalu diteriakin uda dekaaat, padahal masih jauh.. Ya biar semangat gitu.. Bahahah.. πŸ˜€

    Tapi sepadan kok Mbaaak, pantainya keceee.. ^^

  4. Pantainya sungguh elok Jeng…balung tua langsung berkeretak…yah puas2in menikmati sajian Jeng Yuni saja ah..Terima kasih ya Jeng berbagi keelokan Nusantara

  5. Wow, cantik bgt pantainya ya Mbak. Semoga suatu saat akomodasi ke sana bisa lebih mudah lg, jadi ga perlu goyang oplosan atw guling2 lg hihihihi.

  6. wuih di banyuwangi itu mbak, dulu pernah main ke banyuwangi di tempate teman, gak sempat kesitu sama teman malah di ajak ke pantai yang mau ke bali itu mbak, wah wah tau gitu ngajak kesitu ya.

  7. Tempo hari pas ke Banyuwangi lagi kita gak sempet mampir ke mari ya karena dikejar waktu. Mobilnya harus sampe Surabaya lagi subuh wkwkwk. Kapan2 kita hunting ke sini ya … kalo si Mup2 sukses πŸ˜†
    Aamiin.

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb Yuni….
    Cantik sekali pantai teluk hijau ini. Sulit juga perjalanan ke sana ya. Sesuai namanya teluk. Pasti memberi pengalaman yang mengasyikkan. Malah pantainya masih lestari dengan alam, Udaranya tentu sejuk dan nyaman dengan air biru yang indah. Banyak sekali pantai di Indonesia. Saya jarang berjalan-jalan ke pantai kerana pantainya jauh-jauh.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. πŸ™‚

  9. unik ya mak pantainya berbatu-batu gitu kayak di sungai..mungkin batunya kebawa dari aliran sungai ya..petualangannya seru. hehehe..sukses ya mak buat lombanya πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *