Bersyukur dan berjiwa dinamis menuju usia diatas 60

Agustus 2045

“Pripun kabare Mbah?”
“Alhamdulillah diparingi sehat. Disyukuri wae Gusti Allah wes maringi umur 64”
“64 Tahun, Mbah? Subhanallah..”
“Alhamdulillah, Kanjeng Nabi wae diparingi yuswo 63 tahun. Mbah isih diparingi tambahan umur. Mugo-mugo iso ngelakoni urip luwih apik maneh”
“Amiin Ya Robbal ‘Alamiin”
“Ini Mbah saya bawakan oleh-oleh buat simbah”
“Wah, Alhamdulillah kowe isih eling simbahmu iki..”

Tak lama kemudian..
“Pak’e Alhamdulillah yo, putu-putu podho eling kabeh. Teko podho nggowo gawan”
“Bune, sakjane ngono yo seneng-seneng wae di gawani oleh-oleh, ning mbok yo ojo nggowo kacang, jagung, emping, dele koyo ngene iki. Lha wong nyawang thok ae untuku wes kroso prothol koyo ngene..”
“Haha…”
“Uhuk-uhuk.. aduh Bune keselek aku..”
“Makane tho Pak, ojo ngersulo. Di syukuri wae oleh rejeki..”

**

Tak ada yang bisa menghentikan usia manusia. Siapapun itu. Namun untuk meraih kedewasaan mutlak dijadikan sebagai keharusan. Siapapun orangnya. Seperti adagium yang berbunyi, Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa belum tentu.

Ibarat rejeki, perjalanan hidup manusia tak ada yang tau. Qodo dan Qodar manusia ada digenggamanNya. Mau dikasih rejeki sedikit atau banyak di syukuri saja. Begitupun dalam menjalani kehidupan, tanpa perlu ngitung-ngitung umur ya di jalani saja. Seperti filosofi air, mengalir saja kemana sungai bermuara. Meski tampaknya pasrah namun air selalu bisa dan akan selalu berusaha mengendalikan dirinya lepas dari ranting dan cobaan yang menghadang.

Kadang-kadang saya berpikir mengenai apa yang terjadi jika usia saya lebih dari 60 tahun nanti. Usia lho.. siapa sih yang menduga. Akan tetapi seandainya Gusti Allah memberi saya usia diatas 60 tahun mau tak mau saya harus selalu bersyukur dan mensyukuri.

Jika diukur dengan usia saya yang sekarang menuju usia 60 tahun saja masih jauh sekali. Apalagi lebih. Kalau dibayangkan seolah-olah saya harus masuk dulu ke pintu ajaib agar dibawa ke negeri ketika usia saya menapak 60 tahun. Kadang-kadang tersirat pikiran konyol seperti, apakah nanti badan saya masih tegak lurus, apakah nanti masih kuat angkat jemuran ke loteng, apa masih kuat jalan jauh, apakah nanti bisa nyetir motor dengan kencang. Sebaliknya, jangan-jangan malah badan saya bungkuk, nggak kuat nyuci pakai tangan, nggak kuat jalan jauh, kemana-mana harus diantar cucu.

Jikalau nanti saya menapak menuju lebih dari usia 60 tahun saya berharap tetap memiliki jiwa yang dinamis. Terus berkarya tanpa mengandalkan bantuan orang lain. Setidaknya jika saya terus mengandalkan otak, feeling dan tenaga sendiri maka Insya Allah saya bisa mencapai titik prestasi yang membanggakan minimal untuk diri sendiri. Syukur-syukur oranglain turut menikmatinya. Akan lebih baik lagi kalau usaha yang saya lakukan setara dengan yang dilakukan anak muda berusia emas sehingga saya dan mereka bisa berbaur, berdiskusi, berbagi ilmu dan bersama-sama melakukan sesuatu yang bermanfaat. Sebab ilmu tak melihat usia dan kedudukan. Yang penting bermanfaat untuk banyak orang maka ilmu akan terus menerus hidup.

Di lain itu saya akan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beribadah dan berdoa untuk mendapatkan RodhoNya. Karena apapun jika dilakukan sesuai RidhoNya Insya Allah akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Akhirnya manusia hanya bisa berencana akan tetapi keputusan Allah lah yang menentukan.

10 thoughts on “Bersyukur dan berjiwa dinamis menuju usia diatas 60

  1. habis baca percakapan diatas,q jd inget ponakanku mbk,pulang nggak bawa oleh2 mbah’e,balik ke surabaya nggak pamit mbah’e…mureng2,muleh teko sby g digawani oleh2,bali ra pamit hehe…
    mari terus berkarya mbk,semoga setiap usia kita selalu diberkahi aamiin 🙂

    *nastar’e jek onok g mbk???kaburrr*

  2. Aku jadi ngelamun, usia 60an lebih apa masih eksis ngeblog, apa masih bisa ngapa2in sendiri, makan enak atau masih nyambung kalau diajak ngobrol seperti Simbahmu, Yuni 🙂 Semoga kita dikasih umur yang berkah, ya

Leave a Reply