Menyikapi informasi yang tak berimbang

7 comments 780 views

Lama gak nulis, duh jadi kangen.. kangen semuanya.. hmm gimana ya akhir-akhir ini banyak sekali acara dan undangan offline jadi sampai lupa update blog. Banyak ide beterbaran sebenarnya tapi kalau badan sudah pegal, bawaannya ingin nyelam di kolam kapuk teruuss… 😀

Ngomong-ngomong kesibukan salah satu acara yang sedang saya ikuti adalah Madrasah Kreativitas Muslim. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) bekerjasama dengan Bina Qolam Indonesia. Jadi, mulai tanggal 22 Juni kemarin hingga 11 Juli mendatang Madrasah Kreativitas Muslim akan terus berlangsung setiap hari. Pada hari kerja kegiatan dimulai jam 15.00-17.00, sedang hari Sabtu dan Minggu jadwalnya dimulai jam 09.00-11.00 yang bertempat di Jl. Bengawan No. 2A Surabaya. Alhamdulillah sambil menunggu bedug Maghgrib bulan Ramadhan mendatang saya tetap bisa belajar dan mengumpulkan ilmu seputar tulis menulis setiap hari.

Nah supaya teman-teman juga bisa mendapatkan manfaat kali ini saya akan berbagi hasil ‘pelajaran’ yang saya dapat pada agenda hari ke dua di Madrasah Kreativitas Muslim.

Kok, main skip aja lari ke hari kedua, hari pertamanya mana?

Hehe maaf hari pertama saya absen karena hari Minggu itu jadwal booking saya full.. #eaa.. macam orang sibuk aja sekarang hehe..

Tema yang diangkat hari kedua kemarin adalah Pengenalan Dasar-dasar Jurnalistik yang dibawakan oleh Wartawan Hidayatullah, Bapak Cholish Akbar.

Bicara Media menurut hasil riset yang dihasilkan Perusahaan Asing, Di Indonesia ini raksasa media Indonesia dikuasai oleh 12 gelintir orang. Iya, hanya 12 orang saja! dan nama-namanya pun sudah tak asing di pendengaran kita. Sebelum saya sebutkan siapa saja mereka, teman-teman boleh mendahului menyebutkan satu persatu. Sambil merem pun bisa.. dan yakin deh jawabannya bener..

Sudah?

Okee.. sekarang mari kita cocokkan hasilnya..

Yang pertama adalah Bakrie Grup. Hohoho.. siapa sih yang tak kenal dengan nama ini.. Stasiunnya aja tiap hari jadi bahan perbincangan orang-orang se-socmed hehe..

Yang Kedua Dahlan Iskan. Kalau ini sih percaya.. lha wong korannya aja ada dimana-mana. Dari kota besar sampai pelosok, dari Kotamadya hingga Kabupaten semua dimasuki oleh koran ini, tak heran kalau jumlah koran Radar bisa mencapai angka 200, itupun belum termasuk Jawa Pos!

Yang Ketiga Hari Tanoe Sudibyo. Kini semua orang tau, meski media cetaknya yang dikenal hanya satu, yaitu Koran Sindo, tapi media pertelivisian bak gurita yang main comot sana-comot sini. Meski tak disebutkan secara tersurat, namun secara tersirat orang Indonesia tau TV-TV mana yang punya Pak HT. Kalau mau cermat, kita bisa menebaknya, soalnya ciri khas acaranya ya begitu itu.. hihi

Yang keempat Perusahaan Kompas Gramedia. Wuahh jangan ditanya kalau media ini mah.. semua orang tauuu.. Buku-buku terbitannya bejibun, nama tabloidnya berjajar, belum termasuk majalahnya..

Namun dari sekian media yang ada di Indonesia ada yang perlu kita sayangkan, yaitu banyaknya informasi yang tidak netral dan tak berimbang. Semakin ditelisik ada kepentingan-kepentingan yang tidak diketahui publik tetapi malah disiarkan kepada publik dikarenakan permintaan dari pihak-pihak tertentu demi mengejar popularitas. Tak salah jika kemudian publik menelan bulat-bulat berita yang dipublikasikan tanpa menelusuri latar belakang maksud dan tujuan sehingga apa yang ada didepan mata dianggap sebagai mindset.

 “Kebohongan yang disiarkan berulang-ulang akan diyakini sebagai Kebenaran” Hittler

Pernyataan Hitler diatas sudah merupakan bukti nyata bahwa sejak dulu lika-liku media memang seperti itu. Dan kita sebagai penikmat harus cerdas menyikapinya.

Dalam kesempatan itu nara sumber juga menjelaskan mengenai kekuatan media dalam upaya mempublikasikan informasi, antara lain:

  1. Menciptakan Opini Publik
  2. Melahirkan Efek Dramatis
  3. Melahirkan Efek Kognitif (tahu), Afektif (sadar), dan Konatif (berbuat)
  4. Melahirkan Ideologi dan Nilai
  5. Melahirkan Politik Imagery & Framing
  6. Melahirkan Wordview

Melihat daftar kekuatan media diatas jelas bahwa informasi yang disampaikan media bisa berdampak baik dan buruk terhadap penikmatnya. Dan kita sebagai masyarakat awam harus pandai-pandai dan jeli dalam setiap menerima informasi. Salah tafsir sedikit kita bisa terjebak arus yang akhirnya menciptakan pemikiran sendiri. Padahal Syeikh Muhammad Qutb pernah berkata: “Perang Pemikiran lebih berbahaya daripada perang fisik”.

Lalu bagaimana cara kita menghadapi media yang makin kesini semakin ‘kurang beradab”? Terus terang sulit memahami media. Di satu sisi masyarakat butuh informasi, dan disisi lain media butuh berita yang menggebrak. Katanya, Bad News is Good News. Berita buruk adalah berita yang baik. Dan disinilah kita berada, berdiri diantara dua sisi mata uang yang sulit dibedakan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menahan gempuran arus media seperti sekarang?

Tugas kita adalah menebarkan berita yang baik kepada masyarakat. Meski kita bukan golongan jurnalis akan tetapi kita bisa melakukan sendiri setidaknya agar bermanfaat untuk diri kita sendiri. Menjadi jurnalis pribadi lebih baik ketimbang tidak melakukan apa-apa.

Cara lain untuk menyebarkan informasi positif adalah dengan menjadi bagian dari Citizen Journalis, yaitu menuliskan sesuatu yang baik kemudian dikirim ke media cetak atau dipublish dalam suatu blogpost, sebab kata Ulama Salaf, Tetesan Tinta Wartawan, ibarat tetesan darah Syuhada’. Nah melihat peluang ini yuk sekarang ramai-ramai menyebarkan berita positif supaya tampilan media di negara ini menjadi lebih bermanfaat bagi semua demi terciptanya bangsa yang cerdas dan beradab.

Oya buat teman-teman yang ingin mengikuti kegiatan Madrasah Kreativitas Muslim bisa juga lho datang langsung ke Jl. Bengawan No. 2A Surabaya. Untuk info lengkap dan jadwal materi bisa dilihat di ww.ydsf.org

author
Author: 
loading...
  1. author

    hm zwan3 years ago

    Cieee sibuknyaaaaa…..bener2 harus pintar pilih berita ya mbk.yg lbh parah itu berita online kadang bnr2 menyesatkan..aplgi kl qt salah baca dr tmn yg asal ngeshare bnrn tmbh sesat hehe….

    Reply
  2. author

    Lidya3 years ago

    karena media kadang2 masyarakat terpengaruh ya mbak

    Reply
  3. author

    Beby3 years ago

    Itu makanya aku sekarang jarang mau baca berita yang isinya provokatif, Mbak.. Liat dari judul aja langsung ngeh. Heheh.. Soalnya ya itu, takut meyakini yang salah 😀

    Reply
  4. author

    Mat Gembul3 years ago

    Nihilisme media mainstream memang mematikan (akal sehat). Tapi toh sifat informasi tak pernah netral, ia selalu hadir bersama kepentingan penyampainya….

    Reply
    • author

      Mugniar3 years ago

      Suka komen ini

      Yup .. dan kepentingan politik dan ekonomi besar sekali bermain di sini. Hanya di Indonesia lho, para pemimpin media juga pembesar di partai2 politik :)))

      Reply
  5. author

    Melly Feyadin3 years ago

    Tinggal kita mencermati berita2 itu ya, mbak
    jgn sampe ditelan bulat2.

    AKu jd pengen belajar jg soal ini.
    Karena sekarang ini banyak bener berita yg dipelintir, berita yg gak sesuai fakta.

    Reply
  6. author

    Mugniar3 years ago

    Ehm .. kayak kita ini Mak … ngeblog 🙂

    Btw sy juga sdh beberapa kali menuliskan ttg media. Ttg 12 pemilik media ini, saya pun pernah menghadiri diskusinya yang dibawakan oleh salah seorang peneliti dari sebuah lembaga (hingga mendapatkan angka 12 itu .. psst bahkan saya berteman di FB dengan peneliti itu *hihi penting ya?*).

    Sy dapat buku2 berisi hasil penelitian lembaga itu. Agak mengerikan juga Mak karena ujung2nya ini menyuarakan pluralisme, jadi macam golongan LBGT itu juga diberikan hak untuk bersuara. Tapi ya, diambil positifnya saja, kita2 saja paham apa yang harus kita sebarkan di blog/med sos. Yang tidak baik jangan dilakukan.

    Bagus juga ada acara yang Mak hadiri ini ya, ada pesan2 islaminya pula. TFS 🙂

    Reply

Leave a Reply